Calon Makmum Putra Kyai

Calon Makmum Putra Kyai
Meluangkan Waktu Berdekatan


__ADS_3

Mereka sampai di sebuah lestoran sederhana memesan beberapa menu. memilih duduk di meja yang agak sepi di pinggir agar saat makan lebih leluasa. tanpa mengganggu dan menjadi perhatian orang.


nafik sudah leluasa saat makan walo dengan cadarnya. alwi pon jadi kagum dengan istrinya. di tatap nya dengan seksama. saat menyuapkan nasi nafik menyingkap sedikit cadarnya.


"habib kenapa menatapku begitu?... apa ada yang aneh kah....?" nafik jadi risih di tatap terus dari tadi. kalo bukan suaminya pasti sudah di pukul. melihat sifat nafik yang sedikit temptamen pada mahluk satu ini.


" ah.... tidak... sepertinya kamu sudahah ahli memakai itu" alwi menghilangkan ketegangan.


" sebenarnya ini bukan pertama. .. saat keluar pondok selain sekolah aku selalu pakai cadar. ... setelah kejadian di semarang dulu" cerita nafik.


" tapi di pesantren kenapa tak pakai?" tanya alwi penasaran.


" takut menyolok... karena di pondok tak di wajibkan.... lagian tak ada satu santri pun yang bercadar" jawab nafik sambil meneruskan makan nya.


rasanya tenang mereka bisa menikmati waktu berdua bersama. setelah menikah mereka selalu di sibukkan banyak urusan.


kini waktu bersama semakin berharga sebelum terpisah jarak di antara mereka. belum banyak hal yang di ketahui alwi perihal sang istri. mungkin ini waktu yang sangat tepat untuk semuanya.

__ADS_1


££££££££


di lain tempat....


alim sedang bediri di atas batu karang. tak jauh darinya nampak seorang gadis duduk mencakung di batu yang lain. kini di hati mereka sedang bergelora. saling bergemuruh memikir apa yang di hati masing masing. apa yang di hati mereka bisa sama sama saling menginginkan.


mendengar ucapan adiknya kemerin membuat nya berani untuk nengambil keputusan. mengajak seorang gadis untuk taaruf perkenalan menuju pernikahan. menuju sebuah hubungan yang lebih serius dan di menuju ridho Alloh.


seseorang yang selama ini tidak di sangka. akhirnya pilihan nafik yang kebetulan alim suka. sebelum bicara pada sang ayah alim ingin memastikan apakah gadis itu bersedia menjalani taaruf dengan nya.


"gus sebenar nya apa yang mau gus katakan?" gadis manis itu mulai bingung dan galau dari tadi alim cuma diam seperti berfikir.


gadis itu kaget binggung mendengar ucapan gus tampan idola banyak orang itu. apa itu benar dan tidak dia salah dengar.


"bagai mana dengan hubunganku dengan mbk manaf?" gadis itu mulai ragu. akankah hubungan yang akan di bangun ini merusak hubungan yang sudah lama di bina.


" dia mengijinkan... lalu bagai?" kata alim meyahkinkan. agar gadis itu mau berubah pikiran.

__ADS_1


"aku bukan siapa siapa gus....?" dia mulai bimbang bagai mana bisa dia berani memulai ini dengan alim melihat akan menyakiti banyak fens. dan dis akan jadi incaran mereka.


" yang penting bukan siapa diri mu... tapi bagaimana kamu...." alim meyahkinkan. melihat ada keraguan di mata sendu itu.


" anna ukhubuki fillah....mar atus sholikhah ayo kita taaruf" mata gadis itu berkaca kaca. antara bingung dan bahagia sekaligus sedih.


bahagia karena akhirnya ada yang mengajaknya taaruf dan menghendakinya menjadi pendamping. bingung karena mereka baru kenal kenapa begitu cepat alim memutuskan hal itu. sedih karena selama ini dia berharap pada orang lain yang mengajaknya taarug. lalu dia ingat kata nafik.


" seorang pria sejati adalah yang berani mengambil keputusan dengan hatinya. bukan dengan banyak kebimbangan dan pertimbangan. .. lelaki seperti itu tidak jentel" kata kata nafik selalau mengiang di pikiran mar'ah sat gadia itu mengharapkan pria lain.


"kasi aku waktu untuk berfikir gus!" pinta mar ah sungguh sungguh.


" baiklah" alim pun lega sudah bicara dan isi hatinya. butuh meluangkan wakyu untuk momen ini.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2