
Setelah sampai di rumahsakit nafik langsung di bawa ke ruang bersalin. Saat dokter nengijinkan alwi untuk masuk dia malah mengerang kesakitan sendiri hingga tubuhnya tumbang ke lantai.
"siapa suami pasien?" tanya dokter fayim
"saya dokter" jawab alwi sambil meringis menahan sakit di perut nya.
"anda boleh ikut kedalam menemani istri anda!" tawar dokter pada alwi.
bruuuk.....
tiba tiba alwi jatuh ke lantai. Dia tidak sadar kan diri tanpa sebab. tapi ayah tau kalo ini efek dari persalinan nafik. karena dulu beliau juga mengalami hal ini saat kakahiran alim.
"akhaa..... sakit...." triak alwi lalu tumbang.
"al... alwi... yah... apa yang terjadi?" alim jadi panik melihat sang ipar terkapar.
"biar ayah yang akan ke dalam temani naf.... kamu bawa al keruangan lain !! dok bisa minta kamar kosong untuk menantu saya?" minta ayah pada alim. dan minta kamar kosong untuk alwi bisa istirahat.
"baik pak akan kami siap kan... anda mau menemani putri bapak?" dokter fayim setuju dan bertanya pada ayah farhan.
"iya... boleh dok" jawab ayah semangat.
"mari ikut saya" ajak dokter
"ayah masuk lim.... kamu jaga alwi ya! dan kabari keluarga di Indonesia" pamit ayah meninggalkan alim dan alwi untuk istirahat.
"baik yah.... alim akan kabari" alim setuju
kini alwi juga terbaring lemah di kamar rawat. selang infus menempel di tangannya karena dia belom sadar sadar. alim menunggu sambil menelepon kesana dan kemari. menjawab cet dan menerima telepon.
sedang di ruang bersalin nafik berjuang demi melahirkan putranya sambil di temani sang ayah. seluruh keringat membasahi tubuh nya hingga basah.
__ADS_1
sang ayah dengan kuat dan sabar membimbing nafik beristigfar dan bertakbir dengan khusuk untuk menghalau rasa sakit yang memenuhi seluruh tubuh nya
"gus has kemana yah?" tanya nafik dengan terbata bata.
"dia tadi tiba tiba kesakitan dan jatuh pingsan" jawab ayah hati hati
"Ya Allah... sejak di mobil beliau menahan sakit" nafik ingat alwi sudah meringis kesakitan dari tadi.
"dia sudah istirahat di kamar perawatan kamu fokus dengan lahiran mu saja" jawab ayah menjelaskan.
"cucu kakek.... jangan buat bibi dan mimi mu repot ya!" ayah membelai perut membucit nafik nampak mengencang karena kontraksi.
dokter sudah memeriksa kini sudah saatnya lahir karena jalan lahir sudah bukaan 10. entah kenapa nafik tiba tiba rilex tidak merasa nyeri sakit atau pun kram. seperti saat di mobil. sedang alwi di kamar lain sudah sadar dan mulai mengerang kesakitan sakit yang tidak pernah dia rasakan. alim melihat itu jadi binggung lengan nya jadi korban karena di cengkeram kuat oleh alwi. dan saat tidak sakit dia akan nampak santai. seakan akan dialah yang merasakan betapa sakitnya melahirkan.
"YA ALLAH... JAGA ANAK DAN ISTRI HAMBA JANGAN ADA SESUATU YANG BURUK TERJADI BIARLAH HAMBA YANG MERASAKAN KESAKITAN INI" doa alwi menangis mengingat betapa sakitnya sang istri melewati semua ini.
"mas... aku ingin menemui nafik" mohon alwi menatap nanar sang ipar.
"kau yakin al..." tanya alim.
"baiklah. .. ayo aku antarkan" alim setuju.
alim menuntun alwi menuju ruang bersalin. alwi segera masuk setelah di ijinkan dia masih menahan rasa sakit yang sangat tapi berusaha di tahan demi bertemu sang istri dan anaknya.
alwi mendekat membaca shlawat dan mengucapkan sesuatu dia bisik kan di telinga sang istri. nafik tersenyum menatap wajah suaminya seakan dia dapat dorongan untuk melahirkan.
"ayo.... kontraksi nyonya...." sang dokter memberi semangat.
"YA... ALLAH......" sebut nafik mencengkeram lengan alwi dengan kuat.
"OE.... OEK.... OOEK....." suara bayi nafik.
__ADS_1
suara tangis bayi menggema keseluruh ruangan. rasa sakit yang di rasa alwu tiba tiba hilang tubuhnya melemas dan seorang perawat memberi kursi untuk nya . ayah menatap iba sekaligus bangga pada sang menantu.
"tuan ini putranya silahkan di adzani!" perawat memberikan bayi ke gendongan alwi.
"oh.... putraku...." pria itu haru menitikkan air mata melihat bayi nya yang masih berlumuran darah.
"adzani nak...." perintah ayah.
alwi mengazani sang putra dengan suara indahnya bayi tamapan itu mengerjap mendengar suara sang abi. seakan dia senang mendengar lantunan azan.
"hai.... gus kecil yang tampan cucu kakek siap nama nya nak...." tanya ayah farhan.
"zaujah.." alwi melirik sang istri yang masih di bersihkan perawat.
"faz...fazha...." jawab nafik yahkin.
"nama yang bagus nak.... " puji ayah.
"gus fazha... tampan"
sang gus kecil sudah siap dan bersih. sudah di pindah di ruang rawat bersama nafik. kebahagiaan memenuhi sanubari mereka. rasa syukur atas kehadiran gus kecil yang di tunggu.
................
.
.
.
.
__ADS_1
.
.