
" mbak .... naf.... bantuin ngerjain pr dong...." ana mengetuk pintu kamar kakaknya dengan membawa buku tuga sekolah.
" iya sini masuk...." nafik membimbing gadis kecil nan manis itu.
"makasih.... mbak... jadi krepotin deh." si kecil ana merasa tidak enak.
"ndak...papa...mbak. seneng bisa bantu kamu..." nafik dengan senang hati membantu.
dengan cepat nafik membuka pintu dan mempersilahkan ana dengan sabar nafik mengajari ana untuk mengerjakan prnya. 1 jam berlalu pr ana pon usai.
alwi baru pulang dari madrasah sudah rindu dengan sang istri. maklom pegantin baru. dia segera menuju kamar tanpa perduli semua sedang kompul di ruang tengah. setelah tak mendapati nafik di sana alwi segera menuju kamar.
dia berharap kali ini bisa berduaan bersama nafik tanpa ada yang mengganggu. alwi sudah sangat semangat dan tak sabar untuk menemui istrinya tapi saat sampai di depan pintu dia mulai kecewa. ada suara canda tawa riuh dari dalam kamar mereka. alwi yang dari tadi semangat berubah jadi murung dan sebal.
"assalamualaikum. ...." pelan pelan alwi membuja pintu.
" waalaikum salam. ..." jawab nafik dan ana barengan.
" eh.... aak alwi udah pulang ya.... ya sudah Makasih ya mbak....ana keluar dulu assalamualaikum" ana pamit keluar
"waalaikum salam" jawab alwi dan nafik
alwi sedikit senang karena adiknya sudah pergi. dia mendekati bidadarinya yang sedang membereskan buku dan kitap yang bececer di meja kerja suaminya.
alwi mendekat lansung memeluk istrinya mesra dan manja. nafik hanya senyum melihat tingkah suaminya.
__ADS_1
"habib ada apa...?" selidik nafik.
" tak ada apa 2 cuma mau manja sama kamu....!" jawab alwi datar.
" dak kebalik ya.... seharusnya siapa yang manja?" nafik melirik dari ujung manik hitamnya.
" habis bidadari dingin sekali.. tidak pernah peka pada zaujie" alwi menyadarkan di pondak alwi sambil melihat pemandangan di luar jendela.
baru saja mereka menikmati waktu berdua sudah ada suara pintu di ketok dari luar.
tok....tokkk..... tokkkk
"assalamualaikum aak ini ida... boleh pinjam mbak nafik sebentar ndak" pinta ida memohon dari depan pintu.
"waalaikum salam" jawab ke 2nya...
"tak boleh ... mbak mu lelah" triak alwi dari dalam dengan tetap memeluk istri nya makin erat.
"sebentar saja aak.... ida lagi ada masalah nih...." bujuk ida. masi gencar memohon.
"sebentar ya habib.... aku segera kembali.." ahirnya alwi menyerah melihat mata sendu bidadarinya yang indah dan seuntai senyum yang menyejukkan itu.
" tapi cepat kembali ya. ." pinta alwi sambil memencet hidung istrinya
" aduuuuh....iya...assalamualaikum ya habibi" nafik pamit dengan memasang senyum idahnya.
__ADS_1
"waalaikum salam. .." jawab al sambil membalas senyuman istrinya
" ah... ada saja yang ganggu kalo kami mau pacaran" oceh alwi setelah nafik pergi.
untuk menghilangkan bosan alwi mengambil al qur'an dan menambah hapalan nya.
Setelah 1jam nafik kembali setelah mendengar curhatan adiknya. walo sebenarnya ida lebih tua dari nafik. tapi gadis itu lebih tenang dan leluasa cerita pada iparnya
baru mau mendekati alwi yang sedang tadarus denan duduk depan jendela dengan mengeser kursi kerja ada yang memanggil lagi. kini suara si kecil hasim yang sedang nangis. nafik segera keluarlah untuk melihat apa yang terjadi padahal alwi baru mau bilang untuk menyemak dan setor hapalan pada istrinya.
" bib... kasim menangis... sebetar ya.." pamit nafik keluar lagi.
"heemmm... " alwi yang kesal cuma mendehem.
"senarnya kamu itu milik ku atau milik keluargaku. .. waktumu habis untuk urus mereka dan melupakan ku" grutu alwi
alwi pom berfikir selama 2 mingguan di kudus alwi bahkan jarang punya waktu berdua. sulit sekali mau pacaran saja. kalo di ajak jalan dan mesra di jalan nafik akan bilang
" ingat bibi lihat tempat... janga geje deh...malu" ucap nafik sarkasme.
tapi kalo di rumah mau berdua di kamar sulit banget. tiba tiba si ana minta bantu ngerjain pr. nanti si kembar minta di buatin ini dan bantuin itu. belom ida kalo sudah merengek minta di temenin kalo dia lagi galau.
alwi jadi kesal sendiri kalo semua adiknya mengganggu sepertinya mereka niat dan kong kalikong deh.
.
__ADS_1
.
.