
nafik meng hambur ke dekapan pria tampan itu. kedua tanganya yang terlentang kini meneluk mesra bidadari nya. rasa rindu yang mengunung kini longsor luluh lantah hilang tak berbekas. 1 tahun lebih tak berjumpa sudah menumpuk rasa rindu yang sangat besar. melihat di hanpone sekedar bicara tidak dapat menandingi kalo bertemu dan memeluk langsung kekasihnya yang sangat ia rindukan.
tak ada kata yang terucap hanya ingin saling melepaskan kerinduan. bulir bening itu meluncur. kini nafik baru sadar betapa dia sangat merindukan habibinya. alwi pun mersakan hal yang sama kini dia tak rela melepas sedikit pun dekapan hangatnya. nafik makin menyebunyikan wajahnya di dada suaminya penuh isak tangis.
pelan pelan alwi mengurangi dekapanya menatap mata bulat lebar kecoklatan itu kini sayu penuh air mata yang membasahi cadarnya. mengecup sang isteri dengan penuh cinta.
wajah itu di belai halus menghapus air matanya. kholil hanya mampu melihat adegan itu dengan beban besar menimpa dadanya. sangat sakit menyesakkan hati. pilu kini yang dirasa oleh kholil.
sedang ida yang dari tadi mebatap kemesraan itu mulai mengeluarkan protesnya. dia merasa kini diabaikan kakak nya.
"kak... kau hanya akan memeluk istrimu... dan melupakan adikmu" protes ida manja mencari perhatian.
"oh... adik ku yang pencemburu kamarilah" kini ida meng hambur di pelukan kakaknya dia tadi juga menangis melihat sang ipar.
"ah...kakak... aku merindukanmu" desah nya manja pada saudara laki lakinya.
"aku juga adikku sayang" alwi mencium pucuk kepala ida.
" kenapa kau tak mengabari kalo sudah sampai kan kami bisa menjemput di bandara" ida mulai cerewet dengan semua itu jadi dia pun protes.
"surpraise....." alwi menganggakat tangan seolah memberi kejutan.
"oh..... kau berhasil membuat mbak nafik panik hari ini ..untung tidak marah." ida memayunkan bibirnya walo tak terlihat nampak dari dahinya yang berkerut.
" bebarkah bidadari ku. .. kau panik memikirkan habubimu" alwi menatap istrinya lekat lekat penuh rindu.
"ya... ku kira habib akan undur lagi" ganti sang istri pura pura marah dan berpaling muka.
"ah....afwan... afwan. ...." rayu alwi memohon menakupkan ke dua tangan nya.
__ADS_1
mereka asyik sendiri sampai lupa kalo kholil masih di sana diam membatu .sibuk dengan pikiran sendiri. berusaha menata hatinya yang kini terluka. sapai akhirnya alwi menyadari kehadiran nya.
" he... budadari siapa dia?" alwi nenatap kholil penasaran.
"itu.... dia bib ... yang waktu itu. ...." nafik nencoba mengingatkan seseorang yang terkait ke sebuah peristiwa .
" dia....." alwi menuntut jawaban
nafik mengangguk pasti.
alwi jalan mendekati kholil yang mampak gugup dan cangung kini berubah menjadi takut. apa lagi wajah alwi yang berubah sangat serius seperti memendam sesuatu.
"mbak apa yang akan di lakukan kak al...." ida khawatir. melihat sang kakak menghampiri kholil
" lihat saja sendiri!" nafik sibuk main hape dan berkirim pesan.
" iya..... aku sudah curiga lama dengan gelagat nya kholil... tapi baru hari ini di ungkap kan jadi kakakmu balom tau..." nafik menyimpan hpnya ake tas dan menjelaskan semua.
"huuuuufff syukurlah....tapi kenapa kakak mendekati kholil...." ida lega.
" makanya lihat saja sendiri.....!apa yang akan di lakukan kakak mu" perintah nafik.
jarak alwi makin dekat dengan kholil wajah nya masih nampak seriuas.
"assalamualaikum akhi.... kholil...." sapa alwi mulai akrab.
" wa alaikum salam....." kholil bingung kok alwi sudah tau namanya.
"ana alwi. suami nya nafik atau antum lebih familiar dengan sebutan jihan" alwi mengulurkan tangan.
__ADS_1
"oh....iya...." dengan gugup kholil membalas uluran tangan alwi.
"shukron kasiron antum sudah nenjaga istri dan adik ana di sini" semyum manis itu menghiasi bibir tipisnya.
"afwan....." kholil masih gugup dan mencoba membalas senyum alwi.
" habib kita masuk dulu ya....." panit nafik ingin ke dalam rumah.
"iya bidadariku....." jawah alwi melambai.
"dan antum sudah menjaga kehormatan jihan dari mara bahaya ... ana berhutang budi dengan antum" denga cepat alwi memeluk kaholil. pemuda itu binggung grogi dan entah apa lagi perasaan nya semua melebur jadi satu.
"sesama muslim kita harus saling tolong menolong" kholil membalas. dia merasa bertemu sosok kakak yang melindungi hangat dan penyayang.
"naam....naam.... kapan kapan kita ngobrol lagi... ana sudah di tunggu " alwi mengurangi dan menepuk bahu kholil.
" naam...silahkan" kholil merasa lega.
alwi pergi meninggalkan kholil. pemuda itu segera pergi nenuju kos nya. dia tak menyangka akan di sambut aleh pria tampan yang belom pernah dia temui itu. baru ketemu sudah mengenalnya menampak kan sifat arif dan makrifat nya
.★
☆
★
☆
★☆♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥♡♥
__ADS_1