
Obrolan itu berlanjut semakin seru. nafik pon sudah kumpol bersama yang lain.
melihat semua menatap tajam padanya. nafik pun penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. dia duduk di samping alwi. para akhwat ikut gabung setelah nafik datang. jadi penuh rame kini meja besar itu.
"ada apa bib.... kok mereka begitu lihat nya memang aku salah apa?" nafik menatap alwi lalu beralih pada yang lain. alim yang paling kelihatan marah.
"tidak.. zaujah.... habib afwan. .... sudah membicarakan masalah kita" alwi memasang wajah imut memohon istrinya tak marah.
"cek.... habib ngadu sama mereka?" nafik berdecak. alwi memohon sambil memegang telinganya.
"habib tau kan itu aib keluarga... urusan kita berdua. lalu kenapa habib cerita2... dosa tau bib." nafik mulai kesal walo masih bercadar nampak dari pancaran mata ada kemarahan.
" afwan....keceplosan" alwi memelas
" keceplosan apa pingin....?" goda nafik.
" lia... kakak juga marah sama kamu.... kenapa kamu mesti berfikir seperti itu" alim memerah memendam marah karena ungkapan adiknya.
"iya lia... kami susah payah membantu. meyahkinkan ayahmu" dhoni ikut bingung mendengar semua ini.
"mbak tarik lagi ucapanmu atau nanti kau menyesal." pinta ibra mrmohon.
" itu semua tergantung gus has... aku hanya memberi dia pilihan. di tolak alhamdulillah. .. di ambil ya tak masalah. .. sama seperti sebuah prinsip yang aku anut sekali itu keinginanku aku tak akan menariknya atau mengingkarinya..." nafik serius dengan ucapanya . yang tidak tau apa sebenarnya yang terjadi menebak nebak saja.
" keras kepala..." grutu alim kesal
__ADS_1
" kau yang lebih tau itu... dia adikmu" amar ikur ambil suara sedang. alwi memilih diam. nampaknya kini alim mulai marah.
" tapi bagaimana dengan dirimu?" slidik rohim menginterogasi adiknya.
" kau tak sakit?" lehan yang dewasa angkatbicara.
" apa kau akan mampu melihat dia bersama orang lain?" ibra penasaran juga.
"sekuat apa pun seseorang pasti punya sisi lemah. sama juga dengan ku... dia kelemahanku. .. makanya aku putuskan untuk itu" jawab nafik tenang beberapa hari ini dia dan alwi sudah melupakan pembicaraan itu. tapi kini malah semua jadi tau.
" kalian tak tau kalo selama ini dia belom menyentuh ku" batin nafik teriak. semua masih sibuk adu diskusi.
"hanya karena takut akan menghalangi langkahku... sebenarnya siapa yang egois kini.... pernikahan yang ku inginkan orang yang kupilih malah membuat ku. nenyakitinya... seandainya ayah tak buru 2 dan mengijinkan ku kuliah dulu. aku. tak akan buru2 memaksa habib untuk menikah sebenarnya akulah yang menyakiti nya aku hanya ingin dia bahagia" tak berasa bulir bening itu luluh membasahi cadarnya.
" kalian diskusi apa ramai fikri membuat semua canggung. dia suami amalia kakak alim dan nafik
" semoga kak fikri dak dengar" batin alim
" kalo sampai dengar dan bicara sama ayah bunda bisa bahaya Apa lagi kalo abi umi alwi tau " alim jadi gelisah sendiri sambil menatap yang lain berharap jangan ada yang bicara lagi.
"ah .... syukur kita bisa kumpul begini rasanya anyem temtrem..." sepertinya firi tak dengar. dia ikut duduk sambil mengendong putra kecilnya.
" kakak benar. ...?" jawab lehan tenang.
" oh ya...kalia ikut antar lia je bandara kan...?" fikri mulai diskusi hal lain tentang keberangkatan nafik.
__ADS_1
" iya..." triak barisan cewek.
"ikut kak... lia mau pergi" sunnah meyahkinkan seketika ketegangan pun hilang
"kapan lagi jalan jalan...." ibra menimpali.
" kan lama lia perginya. ...jadi bisa kumpol 2 dulu " semua semangat sekali.
"biar tak cari bis besar...." ide fikri
" kak...tapi kita berangkat dari kudus..." alwi menegaskan karma semua barang di sana.
" iya setelah unduh nantu...di kudus kita kan kompul di kudus langsung deh anter" fikri menegaskan
" lia pergi sendiri ya....?" amar penasaran
"rencana di sana sama ida yang mau kuliah juga. tapi surat 2 belom kelar. jadi aku akan temani beberapa hari" alwi yang dari tadi menyimak dan sibuk memperhatikan airmata bidadari menatap sendu wajah itu. tak ada yangg sadar kecuali alwi
" wah.... hanimun dong.." goda mereka semua.
mungkin kebanyakan orang masih memandang tabu perihal poligami. tapi itu terpampang menjadi potret nyata di masyarakat. bukan sebuah dosa atau kesalahan. memang kalo di bayangkan nampak rumit.
.
.
__ADS_1
.
.