
Nafik pulang kemalaman karena jam kuliah di tambah. tidak banyak yang mengikuti kelas tambahan seperti dirinya. jadi dia pulang sendiri.
suasana sudah sepi karena kini sudah jam 10 malam. semua teman nafik sudah pamit pulang kerumah.
karena sudah sepi nafik memutuskan pulang jalan kaki karena jarak yang dekat antara kampus dan flaynya.
jalanan sudah mulai lengang jarang kendaraan berlalu lalang di jalan . tidak biasanya susana malam sangat sepi tenang dan mencekam. nafik tiba tiba merasa tidak aman dan sangat khawatir. seperti ada yang mengancam keselamatanya biasanya kalo kemalaman ida akan datang menjemput. tapi tadi ida menelpon dia sedang tidak enak badan jadi nafik harus berani untuk pulang sendiri.
perasaannya makin tidak tenang. nafik mempercepat jalan nya mendekap ke 2 tanganya di dada. angin malam menerbangkan hijap panjang nya sehingga berkibar kibar. kini langkah nafik sampai d sebuah taman dengan penerangan yang minim dia bergegas mempercepat langkah sampai setengah berlari. kalo lewat jalan biasa bisa lebih jauh jalanya. kalo lewat taman bisa lebih cepat. dia merasa ada sosok yang mengikuti untuk menenangkan pikiran nafik membaca beberapa ayat. tapi kekhawatiran nya jadi kenyataan saat ada 4 orang pria setengah mabuk tiba tiba keluar menghalangnya.
" hai... wanita cantik.... sedang apa kamu malam malam di sini?" ucap seorang pria bicara bahasa arab dan masih memegang botol minuman.
" siap kalian. ...?" tanya nafik dengan bahasa arab juga.
" kami penjaga tempat ini......" kata yang lain jalan mendekat dengan sempoyongan.
"kami kesepian ... ayo temani kami.....!" kata orang yang lain
" tidak....." triak nafik
"YA ALLAH TOLONG JAGA KEHORMATAN KU INI"
"ayo cantik... buka cadarnya dong....." pemabuk lain menarik hijab nafik dengan kuat hingga hampit lepas.
"kurang ajar....." umpat nafik dengan masih memegang erat hijabnya agar yidak lapas.
" wah.... kalo marah tambah cantik lihat mata lebarnya itu...." kata yang lain.
__ADS_1
perasaan nafik mulai capur aduk. takut kalo terjadi apa apa padanya. marah karena di lecehkan hijabnya. khawatir jika dia meski kehilangan habibi nya. kalo alwi tau nafik mengalami ini apa dia tak marah.
"pergi jangan ganggu aku...." nafik masih triak kencang berharap seseorang datang menolong nya.
"toloong.... toloooooong..."
"buka ya sayang. ...." pria yang lain menari cadar nafik hingga terlepas dan di buang sembarang.
"jangan....." menutup wajahnya dengan tangan.
" kau yang datang ke tempat kami jadi bukan salah kami. .... ha...ha... ha... ayo sayang kitaa bersenang senang" rayu mereka.
sreeeek.....
sebuah jaket melayang menutupi kepala nafik. serang pria datang dengan tergesa gesa . ada kehawatiran di wajahnya.
tiba tiba seorang datang menghajar para pemabuk yang mulai sempoyongan karena pengaruh alkohol. mereka sudah nampak tidak bisa bangun lagi dengan cepat pria itu menarik ujung hijab nafik mengajak lari menjauh dari taman itu. nafik meurut saja mengikuti pria penyelamatnya berlari sampai dia hampir kehabisan nafas.
"kamu tidak apa apa.... jihan.?" tanya pria asing itu dengan bahasa indo.
nafik mulai bingung karena ada yang tau pangilan jihan selain suaminya. jihan masih menutup wajahnyaa dengan jaket dan sepertinya milik pria asing itu.
"kamu.... siapa.?" nafik penasaran.
"kau sudah lupa padaku....ini pakailah cadarmu" pria itu menyodorkan cadar nafik berbalik memakainya. pikirannya masih di penuhi rasa penasaran, tentang pria asing ini.
"syukron. ...." nafik mengucapkan
__ADS_1
kasih seetelah berbalik. menyodorkan jaket itua pada pemiliknya.
"afwan...." pria itu menerima jaket dan memakainya.
" bagai mana apa ada yang luka?" pria itu menatap dengan kawatir.
" aku baik... dan sedikit lebih tenang" nafik mulai bisa mengembalikan emosinya.
"alhamdulillah kalo begitu" kata pria itu tenang melihat nafik baik baik saja.
" aku ingat.... kau kholil kan?" nafik mulai sadar mengingat siapa penolongnya kini.
"akhirnya kau ingat aku..... jihan" nafik ingin menghilangkan rasa penasaran, nya.
" bagaimana kamu bisa di kairo?....kau juga kuliah di sini?" nafik masih banyak pertanyaan tentang pria itu.
"iya... ayo aku antar kau pulang kita ngobrolnya lain kali" tawar kholil
" iya sudah malam pasti adiku kawatir" nafik mulai ingat tentang ida.
.
.
.
.
__ADS_1