Calon Makmum Putra Kyai

Calon Makmum Putra Kyai
Mengadu di Pantai saat Senja.


__ADS_3

Sekarang emosi ini sudah tak dapat di bendung .menahanya semakin lama akan menjadi dongkol dalam hati. sendiri kini nafik ingin sendiri bertriak mengeluarkan amarahnya. kenapa bisa begini. mempertahankan prinsip tapi menykitkan sekali.


datang ke pantai untuk menenangkan diri namun tidak di temukan.


melihat ombak bergulung gulung malah memporak pondakan perasaan. niat untuk berbakti malah menyusahkan dirinya sediri benar benar merepotkan. apa semua urusan cinta selalu rumit seperti ini.


"sejujurnya aku tak sangup lagi masalah demi masalah datang silih berganti..... masalah yang hampir sama perihal hati...." duduk sendirian melihat alwi amar dan alim nampak bicara bersama.


nampak mengakrabjan diri saling menutupi kegelisahan masing masing.


"kenapa..... meski datang terlalu cepat. jodoh datang terkalu cepat menikah dalam 2 bulan kedepan... kalopun menikah kenapa meski sama dia....menyebalkan" nafik merutuki kekesalannya sendiri. sambil meremas remas pasir kering yang dia duduki. penampilan tadi yang rapi berubah pucat pasi dan lelah berantakan.


--------------


"aku ingin sendiri......." tolak nafik saat alim datang menemani


"aku akan menemanimu....." alim duduk di sisi sang adik


"pergi aku bilang.....! aku mohon aku ingin sediri dan tak mau mendengar ocehan kakak...." wajah nafik memerah penuh kamarahan.dia membentak sang kakak


"la tahdhob..... jangan marah dan la tahzan ...jangan bersedih. ini pilihanmu sediri. kau tak lihat itu" alim menunjuk alwi,


"dalam sekali bicara kau sudah menyakitinya dan uminya lia.... jadi jangan menyesal dengan pilihanmu" nasihat alim lalu pergi membiarkan sang adik sendiri untuk saat ini. pergi dengan kegondokan yang sama melihat sikap keras kepala sang adik.


jawaban yang melegakan kini ada pada sang ayah. kalo nafik bisa mengutarakan semua dia akan mampu memastikan jalan sendiri.

__ADS_1


"assalamualaikum ayah...,sebenarya aku ini siapa?" nafik bicara setelah sambungan telpon tersambung dengan ayahnya.


"waalaikum salam. ...apa maksutmu nak kau putri kami" sang ayah curiga kenapa sang putri agak berbeda dari suaranya.


" lalu kenapa kau hukum aku.... aku tak mau menikah. aku baru18 tahun.... aku masih ingin mengejar mimpiku" suara itu iba. sang ayah tau kalo putrinya sedang bingung dan dia meski bersabar.


"kamu masih bisa kuliah...... amar dan keluarganya sudah setuju" bujuk ayah nafik hanya diam mendengar bujukan dari sang ayah.


"nak nanti atau sekarang ...apa bedanya amar anak yang baik dan sopan aku yahkin kalian jodoh...." ayah meyahkinkan.


"baiklah yah aku ingin menikah.... tapi bukan dengan amar...." nafik membulatkan tekatnya


" lalu dengan siapa?...." sang ayah penasaran kaget dan memancing kejujuran sang putri.


"terserah kamu nak... bicaralah pada amar mengenai saratmu....." sang ayah setuju


"baiklah ayah.....assalamualaikum. " nafik memutuskan pembicaraan.


"waalaikum salam" ada sedikit kelegaan di hati nafik di ingin mengetes amar. bukan tentang agamanya tapi tentang hidupnya. pertanyaan yang yang akan menentukan segalanya


...............................


"ayo...kita pulang kali ini aku yang menyetir" nafik duduk di kursi pengemudi walau alim membujuknya agar tidak menyetir tapi tidak mempan. alwi dan amar duduk di belakang. mereka menahan kegugupan karena begitu kencangnya nafik menyetir.


"dek.... pelan pelan kalo ingin mati jangan ajak2" pinta alim tapi tak di indahkan sang adik sama sekali.

__ADS_1


"he.... keren juga lho ya.... kalo jadi istri gue akan gue izinin lho kebut kebutan ha....ha....ha...." kata amar dengan bangga.


sedangkan alwi malah melantunkan ayat ayat suci al qur'an dengan indah dan tartil. karena bacaan indah itu nafik makin konsentrasi dalam menyetir sampai di kediamanya. bahkan mobil itu masih mengebut saat masuk ke komplek pondok. para santri berlalu lakang tak di hiraukan hanya suara klakson keras yang yang membuyarkan mereka sampai akhirnya ngedrif dan parkir di depan rumah nafik


"ayo turun...." pinta alim amar dan alwi turun dengan menahan pusing kepalaya. tak menyangka muncul lagi kenakalan nafik.


"kamu suda gila ya.... mau buat onar lagi" alim mencengkram tangan adiknya.


" gus has....1 dan amar ...0" kata lia sambil melepas tangan dan pergi kedalam rumah


tapi ke 3pemuda itu binggung saling menatap tak tau apa maksut dari nafik. tadi bayangan kengerian masih terbayang.


&


&


&


&


&


&


*

__ADS_1


__ADS_2