
Alwi masih menahan tangan istrinya. pelan pelan berdiri dan merengkuh pinggang istrinya penuh cinta. air mata nafik menetes kentangan alwi. isakan makin terdengar walo halus. kini alwi gelisah mendengar isakan sang istri. dia menangis karena di abaikan karena kemarahan atau ke galauan akibat surat surat itu.
"ka..lo... hik... habib. marah bicaralah.... hik.. jangan abaikan zaujah seperti ini" mohon nafik sungguh sungguh.
"afwan.....zaujahku" jawab alwi
"zaujie bahkan tidak mau menatap muka zaujah.... apa sangat besar kesalahan ku... bicara dan lah biar aku bisa memperbaiki diri" nafik masih berderai air mata.
"afwan... zaujah.... zaujie tidak bisa mengerti keadaanmu" alwi mrngecup punggung tagan nafik.
alwi memutar tubuh sang istri. menatapnya tajam di sana penuh dengan kesedihan suara tangisan itu sangat memilukan. alwi menarik tubuh. nafik mendekap erat dia takut bidadarinya benar benar akan pergi.
alwi mendudukkan nafik di pangkuannya. naf masih penuh manja memeluk tubuh alwi. alwi sesekali mengelus punggung istrinya dan mendarat kan ciuman di leher istrinya. ternyata mau marah lama tidak berani .
"habib harus jelaskan kenapa marah pada zaujah? " tanya nafik sambil menyembunyikan wajahnya di pundak alwi.
"kemarin bibi dengar mimi berjanji pada mbak mar" nafik terhentak kaget kini nafik sadar dengan kesalahan nya.
nafik mengatakan wajah nya menatap lekat lekat suaminya. masih ada semburat kekecewaan di sana. nafik senyum tipis mengecup rahang alwi dengan mesra. agar kemarahan sang suami mereda.
"afwan habib saat itu. mbak mar sedang labil.... zaujah tau benar watak nya... semua bujuk rayu kak alim sudah tidak mempan. dia hanya ijin boleh ikut merawat bayi ini kelak.... kalo nanti mereka punya sendiri pasti lupa" cerita nafik sambil merasa bersalah.
"kalo mereka tidak dikaruniai apa kamu rela kehilangan putra kita?" tanya alwi tajam nafik berdiri ganti duduk di sisi alwi.
"kenapa bibi berfikir sejauh. itu.... bibi doa in mereka tidak punya anak. ... jahat sekali" nafik nampak tidak suka.
__ADS_1
"bukan begitu. ... habib hanya ingin tau?" alwi ingin dapat penjelasan.
nafik menarik nafas panjang. mulai otaknya bekerja. mengurai kata kata dari mana akan mulai bercerita.
"dulu mimi pernah di rawat orang lain bukan berarti mimi di miliki mereka. ... bibi masalah riskan seperti ini mimi sudah merasakannya sendiri. ... sebagai calon ibu mimi juga tidak akan rela kehilangan anak. dan juga bukan berarti mimi akan mengingkari janji pada mbak mar .... aku selagi mimi dari anak ini ikhlas kalo dia kelak di asuh orang orang yang sholeh dan sholekhah kenapa tidak. .. karena karakter.... yang mimi miliki semua dari hidup jauh dari orang tua... mimi yang wanita saja sanggup kemapa kelak putraku tidak.. dia tidak akan merasa di buang tapi merasa sangat bangga kelak sudah bisa berpeluang dalam hidup" ulas nafik panjang lebar.
muncul lagi rahasia nafik. maka dia namapk sangat tegar dalam menjalani semua nya walo penuh air mata kini semua sudah sepadan.
cup....
alwi mendarat kan kecupan di bibir nafik sehingga wanita itu diam.
"oke... habib sudah kalah. ..." bisik alwi.
"sudah ikhlas?" tanya nafik lagi.
"iya bdadariku. .. sekarang. kamu bawel banget. .. kemana bidadariku yang cuek dan dingin" alwi gemas mencubit pipi istrinya yang gembul.
"sudah terbang karena sudah menemukan selendang yang di simpan jaka tarub" lawak nafik aneh
"ha..ha..ha... guyonan macam apa itu?" walo aneh alwi jadi terpingkal pingkal.
"kalo garing. kenapa tertawanya sampai begitu? " ganti nafik binggung.
"afwan. .. afwan.... zaujah ku yang cantik. ... " rayu alwi dengan masih tertawa.
__ADS_1
"sudah nggak marah lagi kan?" tanya nafikm memastikan.
"nggak.... bidadariku" jawab ak serius
"kalo marah dan cuekin zaujah lagi awas.... pulang saja sana ke indonesia!" nafik ganti pura pura marah.
"habibi di usir nih..." alwi sedih.
"ya.... di sini habib cuma bikin zaujah kesel... sudah tau istri lagi hamil bukanya di sayang malah di cuekin. zaujah jadi buka luka lama. ..." cerca nafik.
"sudah ya. .. zaujie minta maaf... ya..." bujuk alwi.
alwi tak mungkin bisa marah sama nafik. bahkan dia ketakutan kalo nafik benar pergi...
.
.
.
.
.
.
__ADS_1