
Malam ini setelah jamaah isyak bersama dengan di imami alwi. kini mereka siap untuk makan malam diselingi obrol an untuk membangun keakraban diantar mereka.
ibra nampak asik memainkan gitar melantunkan lagu habibal qolbi dengan suaranya yang khas dengan serak serak membuat semua hanyut dalam suasana romantis di tengah hutan di slimuti kegelapan malam bertabur bintang.
"amar... aku tadi bertanya pada seseorang. dan dia ku ajak kawin lari. tapi dia menolak kalo kamu kuajak kawin lari bagaima ?" tanya nafik
pertanyaan itu membuat kegaduhan semua arang di sana. sedangkan alwi yang mendengar pertanyaan konyol itu mulai terbawa emosi lagi. emosi yang tidak bisa di salurkan dengan benar. alwi menenangkan diri dengan ber istighfar dan mendengar serta mencerna tingkah nafik seharian ini.
"he.... mbak manaf apa maksutmu?" protes mar ah.
"apa kamu sudah benar benar putus asa mbak manaf?" tiar memegang pundak nafik. menatap wajah sahabatnya. menuntut jawaban yang pasti mengenai perasaan.
"tunggu simpan pertanyaan kalian..... aku sedang bertanya pada amar..... bagaimana amar mengenai ajakanku....?" nafik menatap amar.
"oke.... hayuk kapan....?" bodohnya jawaban itu menurut amar dia tak mau kehilangan kesempatan. baru tadi siang nafik bilang tentang dia ingin membangun kemistri. dan akan meningalkanya tapi kini tiba tiba mengajak kawin lari. kenapa mesti di tolak.
"kau serius.... hubungan seperti itu akan berhasil?" slidik nafik
"asalkan sama kamu.... semua akan menjadi indah." wajah amar tiba tiba serius
"huoooooh......" nafik menghela nafas panjang.
"kalian memang benar benar2 berbeda....." nafik berdiri dan masuk kedalam tenda. reaksi yang di alami nafik memang membuat semua orang bingung tak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh nafik.
__ADS_1
"lim..... lia kenapa?" dhoni penasaran
"salah makan obat ya dia....?" rohim juga
"aku juga tak tau mas.....?" alim mendesah memikirkan sang adik membuat dia bingung
"kayaknya mbak lia mulai labil... apa tak lebih baik nikahnya sama aku.... jadi dia tak perlu memikirkan hal hal yang aneh...." kata ibra tapi tiba tiba pukulan pelan mendarat di kepalnya dan ternyata itu dari nafik. lalu pemuda itu pura pura meng aduh dan manja. sikap amar dan ibra sama sama sebelas dua belas. lenjehnya.
"dasar... kamu...." nafik duduk lagi kini di antara alim dan ibra.
"aku sudah ada wali dan saksi...." nafik menunjuk alim dan ibra di sisi kanan dan kirinya.
"siapa yang mau menikahiku sekarang juga....!" tantang nafik
"he.... diam lah kalian...!" pinta alim menenangkan.
"kau serius kan dek...?" alim sudah mengerti permainan sang adik yang memainankan perasaan.
"serius kakak ku sayang..... kalo ada yang mau menikahiku sekarang dan sangup memberi maskawin yang layak kenapa nunggu besok apa lagi 2bulan lagi" nafik nampak serius semua saling pandang membicarakan keinginan nafik yang tiba tiba.
"he... aku belom persiapan.... kenapa tiba tiba kamu ngajak nikah sekarang." amar mulai panik. apa yang mesti dilakukan kini.
"kau sudah bicara pada ayah?" alim ingin tau melihat kehebohan di malam ini yang di sebab kan ulah sang adik.
__ADS_1
" sudah.....tapi ayah meyahkinkan ku untuk memilih amar. ... aku tau dia pemuda yang baik tapi....." kalimat itu masih mengantung mulai menata perasaan nya. memulai permainan nya sendiri.
" lalu bagaimana menurut mbak?" ibra nampak serius.
"kita lihat saja reaksi mereka.... tak ku kira kamu akan melakukannya secepat ini...." alim senyum miring.
duduk tenang dengan menatap alwi yang tenang berfikir sambil memegang sebuah tasbih. sedang amar bingung menelpon kesana kemari
"tes....ini sangat menarik....?" guman nafik sambil mengambil gitar yang ada di samping alim. mulai memainkan dan bersenandung
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1