
Kini nafik dan alwi hanya duduk terpaku melihat siapa yang datang ke apartemen mereka. dan bagaimana ibra bisa kenal dengan gadis itu. zanawa pun nampak bingung juga . perasaan berkecamuk di dalam sanubarinya. bagai mana bisa ibra tinggal di apartemen bersama alwi dan nafik.
ini juga pertama kali zanawa bertemu dengan nafik secara langsung. karena selama ini saat alwi menengok nawa nafik hanya menunggu dari kejauhan. Untuk menjaga dan menghargai perasaan zanawa yang sangat mengharapkan alwi selama ini.
ibra pun bingung harus bercerita mulai dari mana. kini dia malah takut apa dan bagaimana tanggapan alwi dan nafik mengenai hubungan nyam dengan zanawa.
"kamu mau cerita tidak dek?" pinta alwi sambil menatap ibra dengan tatapan tajam mata heselnya.
"em... kak al... anu aku serius" ibra gugup. bagaimana pun ini urusan menanggung dunia akhirat hidup seseorang.
"aku tidak mengerti maksutmu?" alwi masih penuh pertanyaan. menurutnya keputusan ibra ini tidak ada masalah. masalah nya yaitu kenapa gadis itu harus nawa. gadis yang jelas mengejar alwi untuk di nikahi.
"aku serius mau menikah dengan nawa" jujur ibra mulai mantap suara nya penuh rasa optimis. tidak ada keraguan di wajah nya dan suaranya.
"lalu mawa.... apa kamu setuju ?" tanya nafik dengan tatapan lembut dari balik cadar menatap gadis yang sedari tadi menunduk tidak berani menatap kedepan.
"aku..... se...tuju?" jawab zanawa lirih
"kau sudah lupa dengan keinginan mu untuk menikah dan menjadi istri kedua ustazd alwi? dan apa perasaanmu itu tulus pada adik kami? lalu semudah itu kau berubah pikiran? kenapa tidak dari awal kau mundur? kenapa baru sekarang zanawa?" nafik memberondong pertanyaan yang begitu banyak untuk nawa gadis itu tersentak kaget mendengar semuanya.
__ADS_1
"kau yang mengejar nya dan kini setelah gagal mendapat suamiku kau beralih ke adik sepupu ku.? lalu di mana letak rasa malumu nawa ? .... apa memang semudah itu hatimu yberubah? apa semudah itu kamu bisa beralih pindah ke lain hati dari pria satu ke pria lain?" nafik memberondong pertanyaan keras peda nawa. gadis itu menangis tertohok dengan tuduhan nafik padanya.
"mbak....." tria ibra dia tidak terima kalo nafik bicara kasar pada nawa. apa lagi gadis itu sampai mengais sesugukan.
"ibra... jaga nada bicara mu!" perintah alwi dengan. nada lebih pelan dan penuh kewibawaan.
"tapi mbak naf aak al..." ibra masih protes tidak terima dengan sikap nafik yang menurutnya sangat kasar.
nafik tidak peduli saat ibra mencegah nya untuk mengeluarkan unek unek nya. Dia mengatakan semua yang seharusnya dikatakan pada gadis yang masih tertunduk penuh tangis itu.
"hidup itu keras nawa.... tidak akan semudah dan semulus harapan mu. tidak semudah kau menginginkan mainan dan ayahmu akan mewujudkan nya dengan mudah.... " nafik masih menuruskan unagkapan yang menohok untuk zanawa.
"kalo dengan semudah itu kamu menerima ibra bukannya terkesan memaksa" nafik makin penuh amarah. tapi dia ungkap dengan cara yang arif.
"mbak aku yang mengharap ini" ibra berusaha membela nawa yang semakin terpojok dengan semua yang di unkap nafik.
"dan apa motivmu?" tanya nafik.
tapi ibra masih berfikir. tidak mungkin dia bilang semua demi nafik sang sepupu yang lama dia sukai selama ini. sang sepupu yang sudah dengan ikhlas dia lepas untuk bahagia. wanita pertama yang akrab dengan nya sedari kecil. bagi ibra nafik adalah segalanya.
__ADS_1
"kalo kamu melakukan ini demi aku.... selamanya aku tidak akan memaafkan mu ibra" mendengar pernyataan nafik ibra kaget tersentak sanubarinya.
seakan nafik tau segala nya. alwi hanya tersenyum melihat ibra begitu kaget dengan reaksi nafik yang menebak isi hatinya dengan benar.
"tapi aku serius mbak...." ibra mengelak mengakui pernah suka pada sang sepupu.
"aku juga akan berusaha menerima ibra dan melupakan untadz alwi dengan memiliki jalan hidup yang baru'' ungkap nawa menyakinkan semua.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1