
Pagi ini alwi masih nampak kesal dengan jawaban sang istri. dari subuh tak bicara sedikitpun dengan nafik. sikap dewasanya entah hilang kemana. kini nampak kekanak kanakan saat marah. menginggat pengakuan nafik semalam.
nafik pon seperti tidak merasa salah sama sekali. bahkan saat ini dia sedang sibuk di dapur menyiapkan kan sarapan pagi sendiri untuk nya alwi dan alim. dia tidak perduli kalo alwi marah atau cemburu. nafik hanya mengungkapkan kebenaran dan kejujuran dari pada nanti baru tau dan timbul masalah.
alim menangkap gelagat aneh padan sang ipar . karena dari tadi hanya diam melamun di depan tv. di ajak bicara agak tak nyambung. alim penasaran apa ini ulah dari sang adik. baru juga sehari menikah sudah main marah dan mgambek.
"kamu....kenapa al.... he.... alwi...." alim bertanya tapi alwi tak merespon sama sekali.
"alwi hasan ahmad salam....?" alim menyebut namalengkap alwi.
"eh ...itu lia lagi masak di dapur...." tapi jawaban beda dengan pertanyaan.
"kamu lagi ada masalah....?" alim penasaran dia tau kalo alwi tak akan cerita kalo itu menyangkut pribadi urusan suami istri. tapi dia mencoba saja siapa tau alwi mau jujur.
" ah.... engak kok kak...." alwi mengelak menghindari infestigasi.
"kalo ada masalah dengan lia bicara baik baik jangan kau pendam sendiri !" seakak alim tau kalo alwi sedang galau.
"habib.... kakak ayo sarapan....!"nafik memangil dari ruang makan
"ayo....sarapan kau belom pernah merasakan masakan lia kan!" ajak alim alwi mengekor di belakang.
melihat 2 orang pria kesayangannya datang nafik mulai menyajikan mengambilkan nasi dan lauk di piring mereka. Lalu duduk manis di samping sang suami
" kamu tak makan. ..?" melihat hanya ada satu sendok di piring nya alwi menatap sang istri walo masih kesal sebenarnya dia rindu suapan sang istri.
"ini kamis inshaalloh lagi puasa...." jawab nafik sambil menyungingkan senyum manis.
__ADS_1
" Alkhamdulillah. ... kenapa tak ajak ajak." protes alwi.
"kain kali" nafik setuju.
alim merasa di acuhkan beginikah jadi jomblo. tapi melihat kedua adiknya baik baik saja membuat dia sedikit tenang.
" lia.... kamu sudah cerita semuanya?" tanya alim.
" boro boro cerita kak. .. kau tak lihat dari pagi gus baru mau bicara pada ku" nafik memasang wajah lucu.
"kamu jangan buat alwi salah paham" minta alim pada sang adik.
dia tau sang adik banyak menyimpan rahasia mungkin salah satunya sudah buat alwi sensi. dan nafik yang terlalau blak blakan.
" salah paham apa?" alwi tak mengerti
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
habis makan alwi kembali ke ruang tv sedang nafik beres beres. sepertinya urusan ini sudah terlalu membingungkan bagi alwi.
nafik datang dan duduk di sisi sang suami. dengan memberanikan diri menatap alwi yang pandangnnya lurus kedepan.
" apa kau marah pada bidadarimu ya habibi?" alwi tertarik menatap nafik yang memasang senyum manis di hadapannya dia sendiri tak tahan untuk mengacuhkan nafik.
"tidak....." alwi pura pura jual mahal dan berpaling lagi
"janganlah suudhon pada istrimu!... aku bahkan belum menjelaskan apapun... jangan membesarkan masalah. kecil kita bicarakan kalo hal sekecil ini mengganggumu apa lagi nanti kalo kita melewati masalah lebih besar.. seharusnya kau percaya kalo aku tidak mungkin melakukan hal hina.... tapi . lebih menguasai hatimu.... mungkin benar yang aku lakukak itu dosa... memberikan ciuman pertamaku pada seseorang selain muhrimku. tapi bukan seperti yang kau pikirkan....." entah kenapa menceritakan semua itu membuat nafik gelisah. melihat kemarahan alwi dada nya sakit sangat sakit.
__ADS_1
tak ada yang tau tentang ini selain dirinya dan ALLOH. mungkin pemuda itupun tak sadar kalau sudah nafik cium. bahkan pada alim pon tidak pernah bicara. tapi kini dia ingin jujur pada sang suami. agar tak ada salah paham di suatu hari.
" bukan ibra.... hubungan kami tak sedalam itu sehingga aku harus menciumnya" suara nafik makin parsau bulir air mata sudah memenuhi pulupuk matanya siap jebol kapan saja.
sedangkan alwi makin galau. kalo bukan ibra siapa lagi. kalo itu ibra alwi masih bisa mengerti tapi kalo pemuda lain apa bisa alwi menata perasaannya lagi
alwi memandang wajah nafik lekat lekat.. tanpa berkata kata matanya tajam seperti menuntut sebuah jawaban.
" pria beruntung itu kamu habib.... aku sudah memberikan ciuman pertamaku untukmu. 5tahun lalu.... saat kau terluka." bulir bening itu keluar tanpa intruksi. alwi kaget dengan jawaban sang bidadari . kalo dialah pria beruntung itu.
ada kelegaan di sana. segera di raihnya sang bidadari di dalam dekapanya. ya seperti yang di katakan nafik. mungkin alwi lupa atau tak sadar sudah sangat beruntung. memori masa lalu pon mulai tersusun lagi. menata sepengal ingatan yang sangat berharga.
nafik merasa bahagia telah menemukan cinta pertamanya. kini pria itu sedang memeluknya erat. alwi pun sangat bahagia setelah mendapatkan semua jawaban.
????????????????
.
.
.
.
.
.
__ADS_1