
Kenzo menarik Delima dalam pelukannya, setelah melakukan itu entah beberapa ronde, dan tentunya membersihkan bagian bawah Delima, Kenzo tidak membiarkan istrinya beranjak dari ranjang panasnya.
"Capek?" tanya Kenzo yang mempererat pelukan ke tubuh Delima
Delima mengangguk sambil tersenyum "Abang kuat banget, dan entah!! rasanya habis aku ngelahirin gampang capek yank"
Kenzo manggut manggut "Tapi habis kamu ngelahirin rasanya malahan beda yank, lebih enak, lebih rapet, kayak baru pertama buka segel deh"
Delima melotot, memandangi wajah suami yang tampan tapi juga sedikit oleng
"Mana ada yang kayak gitu, biasane dah turun mesin pasti udah beda, apalagi aku ngeluarin dua"
"Kan kemarin habis dijahit ma Tika, mungkin aja Tika sengaja jahitnya rapet, biar abang susah masuknya"
"Ngawur....mana ada kayak gitu"
Dan mereka tertawa bersama, hingga bunyi ponsel Kenzo membuat aktivitas mereka terhenti.
"Bentar sayang, abang ambil ponsel dulu, ada pesan masuk, siapa tau penting"
Delima mengangguk dan semakin mempererat pelukannya terhadap suaminya, pelukan yang sangat dan nyaman yang dirasa nya.
Kenzo menoleh ke arah Delima, dan mengecup kening Delima
"Pesan dari siapa Bang?"
Tampak ragu ragu Kenzo ingin memberitahukan pada istrinya itu, tapi dia sudah berjanji sekecil apapun masalahnya tidak akan menyembunyikannya
Tanpa menjawab Kenzo menyerahkan ponselnya ke Delima, dan dengan sigap Delima menerima kemudian membaca pesan itu
"*Aku pergi ke Amerika, rencana besok di ajukan, titip Delima, bahagiakan dia, dan jangan sakiti dia apalagi buat dia menangis, tolong jangan beritahukan dia kalau aku sudah terbang ke Amerika, aku akan menghubungi nya tapi entah kapan"
^^^Mario*^^^
Seketika air mata Delima mengalir membaca pesan dari Mario, dan Kenzo yang melihatnya langsung membawa Delima ke dalam pelukannya, menyalurkan rasa sayang dan nyaman pada istrinya itu.
Kenzo memegang dagu Delima, dan sontak Delima mengangkat wajahnya ke atas menghadap Kenzo
"Jangan nangis lagi" Kenzo mengahapus air mata Delima dan mencium kedua matanya
"Lagi??" Delima mencoba tersenyum dan menahan air matanya agar tak jatuh lagi
"Abang tau kalau kamu tadi siang juga menangis"
"Dan kali ini abang gak ngebiarin kamu menangis lagi!"
__ADS_1
Kenzo memeluk Delima, dia tau istrinya saat ini tidak baik baik saja
"Aku yang buat Kak Rio seperti itu, aku yang salah"
"Shutttt" Kenzo menutup bibir Delima dengan jarinya
"Jangan ngomong seperti itu, itu udah takdirnya"
Delima menggeleng "Kalau Kak Rio gak sayang ma aku, gak mungkin dia melakukan itu, dia terpaksa menerima perjodohan dari Papi karena aku"
"Aku jahat Bang, aku yang menyebabkan semuanya seperti ini"
"Gak sayang kamu gak salah, salah dia kenapa mencintai istri orang? abang gak menyuruh dia untuk menghilangkan rasa cintanya ke kamu, abang cuma mau dia menghilangkan keinginan untuk memilikimu"
"Dan tindakan yang dilakukan oleh Papi itu benar, mau gak mau Mario harus ikhlas menerima kalau kamu milik abang"
Delima mengangguk dan mengecup bibir manis Kenzo "Makasih Bang, abang selalu ada untukku"
Kenzo tersenyum dan membalas kecupan Delima
"Em...tadi kamu bilang semua, apa maksudnya sayang?"
"Oh...Mas Vano juga mau kawin" kali ini dijawab Delima dengan cengengesan, karena memang bagi Delima, Vano tidak lebih dari sekedar teman saja, jadi ya lucu aja.
"Kawin juga??kok bisa barengan gitu?"
"Vano dari sini?"
"Iya, cuma mau minta ijin ke aku kalau dia mau kawin, gitu aja"
"ijin???? aneh!!"
"Huumb....bukan aneh lagi tapi banget, emang dia pikir aku ni siapanya!!"
"Mungkin bagi dia kamu ini sepesial yank"
"Cihh...sepesial kayak martabak aja"
"Kamu juga nangisin dia tadi?"
Delima menggeleng "Aku malahan tertawa, e dia nya malahan yang nangis"
"Nangis??? apa dia juga terpaksa kawinnya??"
"Iya, katanya sih gitu, entahlah aku heran ma laki laki kok kayak gitu sih, udah ada yang bener bener tulus mencintai, e malahan ngejar yang gak mencintai"
__ADS_1
"Karena kamu sangat sepesial sayang, abang tau alasan Mario nolak Cinta dan abang juga tau alasan Vano nolak Laura?"
"Apa?" tanya Delima penasaran
"Mereka pikir kamu dan abang bisa dipisahkan, dan mereka akan masuk merebut hatimu"
"Cihhh.....norak, padahal hatiku dah aku kunci dan kuncinya aku buang"
"Haap.....abang yang tangkap kuncinya, jadi....cuma abang yang bisa miliki kamu"
"Tapi aku kasian ma istrinya nanti Bang, terutama Tante Lina"
"Tante Lina?? tanya Kenzo lagi
"Iya, abang kan tau sendiri Tante Lina gimana, pasti sangat sulit membujuk si Duda itu"
"Kamu besok temuin Tante Lina"
"Emang boleh?"
"Boleh kalau cuma ketemu Tante Lina, kalau ketemu ma anaknya gak boleh"
Cup
Kenzo mencium bibir Delima dan me**matnya.
"Udah....entar kebablasan, aku mau jalan jalan yank"
"Makan es krim mau?? nonton mau?"
Delima mengangguk "Mau....mau...mau yank, tapi....."
"Kenapa?"
"Anak anak gimana?"
Bentar, Kenzo mengambil ponselnya lagi dan memperlihatkan video anak anaknya yang lucu
"Kangen Bang...mereka lucu banget, apalagi tu baby girl kamu Bang, cengeng nya....."
"Hemmmm.....kayak kamu yank, suka nangisan...."
Kenzo dan Delima melihat aktivitas di rumahnya untuk memantau anak anaknya dari kamera cctv. Bukannya tidak percaya dengan orang rumah, tapi kalau ada kejadian kejadian yang mendadak dia dan Delima lagi pengen bersama kan bisa melihatnya langsung
"Yaudah, mandi bareng yuk yank" ucap Kenzo dengan menaik turunkan alisnya, dan Delima pun mengerti maksudnya
__ADS_1
Mandi plus plus plus