Cerita Cinta Kita

Cerita Cinta Kita
Penjelasan Manda


__ADS_3

"Delima...." panggil Manda dan segera duduk didepan Delima


"Apa kabar?" tanya nya kemudian


"Aku baik mbak, mbak sendiri gimana?"


"Aku jauh lebih baik Del" Manda kemudian melirik ke perut Delima yang memang sudah membesar


"Sudah berapa bulan?"


"Delapan bulan mbak" jawab Delima santai


Manda tersenyum dengan terus memandangi wajah dan perut Delima


"Besar sekali?" tanya nya heran dengan kondisi Delima dengan perut yang besar, tidak mungkin kalau cuma ada satu pikirnya.


"Kembar mbak didalam, makanya besar"


"Oh....pantesan"


Kemudian keduanya terdiam, tidak tau harus berkata apa apa lagi dan mau bagaimana, hingga akhirnya Manda yang mulai pembicaraan.


"Del....mbak minta maaf" ucap Manda


Manda terdiam sesaat, menunggu reaksi Delima


"Untuk??"


"Untuk semuanya, terutama beberapa bulan yang lalu, disaat aku menyuruh Kenzo untuk ke Jerman"


"Padahal dia sudah menolaknya, tetapi aku yang terus memaksanya supaya dia datang"


"Tapi aku gak punya maksud apa apa, disamping untuk menghadiri doa bersama di panti asuhan, ayahku juga ingin meminta maaf atas semua kebohongannya"


"Dan karena itulah, Kenzo tidak menjemputmu keluar dari Rumah Sakit padahal kamu sudah menunggunya"


Delima menghela nafas, memandangi wajah Manda, wanita didepannya ini bener bener tulus meminta maaf, tidak ada rencana sedikitpun untuk menghancurkan rumah tangganya.


"Bukan salah mbak, lagian aku juga sudah melupakannya"


"Aku juga minta maaf lagi Del...karena aku, hubungan kalian tidak baik baik saja"


"Aku mau cerita sedikit, dan aku harap kamu mau dengerinnya"


Delima mengangguk menandakan setuju


"Mungkin ceritaku ini kamu sudah tau, aku yakin kamu mengetahuinya dulu sebelum Kenzo cerita"

__ADS_1


"Singkat saja, aku dan Kenzo terpaksa menikah waktu itu, karena aku hamil, aku hamil bukan karena kita berdua melakukannya atas dari cinta, tapi kita mabuk hingga aku dan Kenzo gak tau setelahnya"


"Setelah kejadian malam kelam itu, sebulan kemudian aku hamil, Kenzo sebenarnya tidak mau menikahiku, bukan hanya dia, bahkan aku juga gak mau, karena waktu itu aku sudah punya tunangan, dan tunanganku bersedia untuk menikahiku dan menerima anak yang aku kandung sebagai anaknya"


"Tapi, Ayahku yang tidak merestuinya, karena bagaimana pun alasannya Kenzo harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, kareja dia adalah ayah daro anak yang aku kandung, dan bukan laki laki lain, walaupun ayahku sendiri tidak menyukai Kenzo yang seorang Casanova"


"Dan pada akhirnya, kami berdua memutuskan untuk menikah dengan perjanjian setelah anak kita lahir, kita akan bercerai"


"Tapi Tuhan berkata lain, sebelum kita bercerai anak ku sudah tiada"


Amanda menghapus air matanya yang sudah ditahannya dari tadi, bukan menangisi perpisahan dengan Kenzo, tetapi menangisi kepergian anaknya, bahkan Manda sendiri belum sempat melihatnya.


"Mbak, tenanglah" ucap Delima mencoba menenangkan


"Setelah kejadian itu aku lumpuh akibat kecelakaan dan aku memutuskan untuk pergi sejauh mungkin dari Indonesia dan juga Jerman"


"Jadi, penyebab kamu marah ke Kenzo adalah karena aku, coba saja kalau dulu aku tidak menghilang, pastinya kita sudah bercerai dari dulu dan masalah ini tidak akan berkepanjangan"


"Dan asal kamu tau Del, setelah kejadian itu, aku dan Kenzo tidak pernah berhubungan in*tim"


"Aku mohon ma kamu, setelah kamu tau cerita ini kalian akan baikan, aku sudah tau semuanya, kalau kamu mendiamkan Kenzo sudah satu bulan lamanya"


Eh dasar Bang Ke mulutnya ember, kayak gini aja diceritain sih, jadi pengen aku uyel uyel itu mulut


"Pasti Bang Kenzo yang udah cerita ke mbak kan?"


"Kalau bukan Bang Kenzo lalu siapa mbak?" tanya Delima menyelidik


"Aku beby yang nyuruh Manda kesini" jawab Vano yang tiba tiba masuk ke privat room itu


"Mas Vano?? untuk apa?"


Vano duduk disamping Manda "Iya aku yang mengatakan semuanya ke Manda, dan aku yang menyuruh Manda untuk datang kesini dan menjelaskan semuanya, karena aku tau, selama sebulan ini kamu tidak mau menerima bahkan mendengarkan ucapan Kenzo"


"Kenapa mas Vano baik begitu?"


"Haaaa kamu lucu beby, aku dari dulu selalu baik padamu, itu semuanya karena aku sayang banget ma kamu, dan aku mencintaimu"


Tangan Delima sudah terkepal dan siap siap umtuk menggampar wajah Vano.


"Tenang...kamu jangan marah dulu, aku tau kamu mau nampar aku kan??"


Delima mengangguk " Habisnya mas Vano keterlaluan, udah tau aku kayak gini masih saja ngomongin cinta"


"Tapi aku serius, aku gak bercanda, dan kalau aku boleh jujur, aku saat ini senang dengan kondisi rumah tanggamu yang tidak baik.baik saja, dan itu berarti peluang untuk aku menikahimu akan semakin besar, tetapi.....aku sadar dan aku gak boleh egois, karena kebahagianmu bukan padaku, tetapi ada pada Kenzo, maka dari itu aku menghubungi Manda untuk meluruskan semuanya"


Delima melongo tidak percaya dengan ucapan Vano barusan, karena laki laki yang dulu gencar gencarnya merebut hatinya, kini seakan akan sudah pasrah dengan Takdir yang ada

__ADS_1


"Kenapa? jangan menatapku seperti itu? aku bisa berubah pikiran beby?"


"Enggak....mas Vano jangan geer dulu, aku ngerasa kamu bukan seorang Galvano deh,"


"Lalu siapa?? jangan memancingku untuk mencium mu Delima"


"Ha???? lakukan saja kalau berani, maka tas aku akan melayang!"


"Haaaa......" Vano dan Manda tertawa bersama sama


"Van, masih istri orang jangan digodain deh....mendingan cari aja yang lain"


"Emm.....kalau itu aku pikir pikir dulu deh Man, tapi aku seneng beby sudah tertawa seperti ini" ucap Vano dengan memandang wajah Delima


"Beby....beby...beby, bancain dulu mas kalau mau ganti nama aku"


"Siap pokoknya sayang"


Manda meraih tangan Delima "Sekarang udahin ya acara ngambeknya, kasian Kenzo sudah sebulan bobok sendiri loh"


"Lagian aku juga kesini mau nganterin ini juga" Manda menyerahkan sebuah undangan kepada Delima


"Ini?" tanya Delima dengan membolak balikkan udangan itu


"Buka aja!"


Delima langsung membuka undangan berwarna pink, dan dia tersenyum senang, tapi seketika senyumannya mendadak hilang dan mengelus perutnya


"Selamat ya mbak" Delima mengulurkan tangannya


"Tapi, ini dua minggu lagi ya?" tanya Delima lagi dengan melihat tanggal yang ada diundangan itu


"Iya Del, dua minggu lagi, dan Alhamdulillah acara nya di Jakarta, di hotelnya Vano"


"Aduh gimana ya mbak, takutnya aku gak bisa lahir, takut dedek dah brojol" ucap Delima dengan wajah cemberutnya


Manda menggeleng "Gak apa apa, yang penting aku udah ngasih tau kamu, dan misal belum brojol datang ya"


"Pasti donk!!".


Delima melihat lagi undangan yang berwarna pink, dan membaca sekilas nama mempelai laki lakinya "Farhan Afif" kayak gak asing deh namanya


"Itu kan??"


Ceklek


"Assalamualaikum"

__ADS_1


__ADS_2