
"Ceraikan aku" Delima melemparkan buku nikah itu tepat didada Kenzo
Kenzo berusaha menahan tangan Delima karena Delima ingin pergi dengan mengucapkan kata itu dan tanpa alasan
"Apa maksudnya sayang?"
"Ceraiakan aku Bang!! apa abang tidak mendengar ucapanku? apa kurang keras!"
"Sampai kapanpun abang gak akan melepaskanmu, abang sayang ma kamu"
"Sayang duduklah...kamu lagi emosi" Kenzo mencoba meredam emosi Delima
"Enggak....aku sadar apa yang aku ucapkan, lepas!!"
"Abang jahat ma aku, abang dah membohongiku!" teriak Delima dengan tangannya berusaha untuk lepas dari genggaman Kenzo
Kenzo mengambil buku nikah yang dilempar tadi, tetapi tangan satunya masih menggenggam tangan Delima
"Ini?? kamu salah paham sayang, abang akan menjelaskannya"
"Aku salah paham?? bahkan semua bukti sudah aku dapatkan!!"
"Abang mau mengelak lagi!!"
Delima sudah beruraian air mata, rasanya sudah tidak bisa lagi untuk berkata kata.
Kenzo meraih tubuh Delima, dan memeluknya "Sayang maafkan aku, aku gak berma--"
Delima melepaskan pelukan Kenzo, dan kembali menatap mata Kenzo "Ceraikan aku Bang"
Dengan wajah yang masih dipenuhi air mata, Delima keluar dari ruangan Kenzo, dan tak sengaja menabrak Dimas yang ingin masuk menemui Kenzo
Brakk
"Del....kamu kenapa?" Dimas melihat Delima yang sudah beruraian airmata,
Delima diam saja, tetapi tatapan matanya juga menatap tajam wajah Dimas "Kamu juga sama kak, sekongkol dengan pembohong itu" tunjuk Delima tepat di wajah Dimas, dan setelah mengatakan itu, Delima meninggalkan kantor Kenzo dan pergi entah kemana
Sedangkan Dimas yang mendengar ucapan itu hanya mematung dan mencerna setiap kata kata yang diucapkan oleh Delima.
"Apa Delima sudah??"
Buru buru Dimas masuk ke ruangan Kenzo untuk melihat kondisi Kenzo didalam. Dan ternyata benar seperti dugaan Dimas, kalau Delima sudah mengetahui sebenarnya.
Dimas mencari keberadaan Kenzo, dan ekor matanya menemukan Kenzo dengan posisi duduk memeluk lututnya yang sudah dia tekuk. Dimas langsung saja menghampiri sahabatnya itu.
"Ken..." panggil Dimas dengan menepuk pundak Kenzo
Kenzo menatap Dimas "Aku sudah kehilangan dia Dim, aku sudah kehilangannya"
Dimas menarik Kenzo ke dalam pelukannya, dan menepuk punggung Kenzo lalu melepaskannya
"Tenang Ken...elu harus tenang"
"Tidak Dim, gimana gue bisa tenang, Delima pergi ninggalin gue Dim, dia pergi dengan anak anak gue"
"Delima sudah tau semuanya Dim, Delima pergi tanpa mendengar penjelasan gue"
"Gue gak mau kehilangan Delima dan anak anak gue, gue gak bisa!!"
Dimas kemudian berdiri, mengambil air putih dan menyerahkannya untuk Kenzo
"Minum dulu, biar kamu tenang Ken"
Kemudian Dimas menuntun Kenzo untuk duduk di kursi sambil menenangkan pikirannya. Sementara Dimas melangkah ke meja kerja Kenzo niat hati ingin merapikan karena berantakan.
Dimas melihat laptop Kenzo yang masih menyala dengan flashdisk yang masih tertancap di tempatnya. Lalu Dimas memutarnya
"Gue sudah menduga Del, kalau elu bakalan nglakuin ini, elu wanita yang cerdas, bahkan elu juga memiliki anak buah yang cerdas" gumam Dimas
Dimas kemudian merapikan meja kerja Kenzp, tetapi matanya juga tak lepas layar laptop yang menampilkan kejadian beberapa tahun silam. Dimas hanya geleng geleng kepala, melihat kinerja anak buah Delima yang sangat detail mengumpulkan informasi dari jaman dahulu hingga sekarang.
__ADS_1
Kenzo masih berada di sofa, tangannya terampil untuk menghubungi istrinya
Tut....tut....
"Sayank.....angkat sayang, please....!! abang kawatir yank"
Tetapi sudah berulang kali Kenzo menelpon Delima, tetap saja, Delima tidak mengangkatnya.
"Gimana?" tanya Dimas ketik melihat Kenzo gelisah
Kenzo menggeleng "Nyambung tapi tidak diangkat"
"Mungkin Delima butuh sendiri dulu Ken, elu tenang saja"
"Gak bisa Dim, gue takut....Delima bawa anak gue Dim, elu kan tau sendiri gimana kondisinya?"
"Maka dari itu gue tau kondisi Delima, biarkan Delima nenangin pikiran dulu Ken"
"Gak Dim, gue gak bisa, gue akan nyari Delima"
Tanpa menghiraukan ucapan Dimas, Kenzo mengambil kunci mobil dan juga ponselnya, langsung meninggalkan ruangannya itu.
"Ken....tunggu!" teriak Dimas yang hanya melihat punggung Kenzo saja.
Dalam situasi seperti ini, Dimas juga tak mengijinkan Kenzo untuk menyetir mobilnya sendiri.
"Delima sayang kamu dimana, please jangan buat abanag khawatir sayang"
Dimas kini berada satu mobil dengan Kenzo, dan Dimas lah yang memegang setirnya.
"Sayang.....please jangan nekad ya, abang sayang banget ma kamu, abang tidak bisa hidup tanpa kamu".
.
.
.
"Del...kamu kenapa?"
Dokter Tika melihat wajah Delima yang kusut dan juga mata yang sembab menatap heran, kenapa istri dari temannya ini datang kemari sendirian
"Mbak perutku kencang"
Mendengar ucapan Delima, Dokter Tika langsung menyuruh Delima untuk berbaring
"Biar mbak periksa dulu" ucapnya sambil mengambil peralatan untuk memeriksa
Dokter Tika mengarahkan alatnya ke perut Delima, Dokter Tika tersenyum senang karena sesuatu yang ditakutkan tidak terjadi
"Mareka tidak kenapa kenapa, hanya sedikit tegang saja, karena Mamahnya lagi banyak pikiran" sindir Dokter Tika
Delima bernafas lega, karena dari tadi dirinya sudah cemas, mengingat perutnya yang kenceng dan mendadak mules
"Beneran kan mbak mereka gak apa apa? tapi kok kenapa mules gini ya? bentar mules bentar enggak"
"Itu namanya kontraksi palsu Del, gak apa apa, asalkan kamu jangan setres gini, mbak tau kamu lagi ada masalah, tapi tolong jaga mereka ya"
"Kamu gak mau kan, kalau mereka lahir sekarang? walau semua sudah terbentuk sempurna, tapi itu nanti sangat beresiko sekali"
Delima menggeleng "Aku gak mau mbak, aku ingin mereka baik baik saja"
"Nah, maka dari itu jaga kondisimu, kendalikan emosimu, jangan banyak pikiran, ingat itu Del!"
"Pasti mbak, kalau gitu aku pamit dulu"
"Hati hati, jangan lupa vitaminnya di minum"
"Tentu!!, eh tapi mbak, kalau aku makan es krim gak apa apa kan??"
"Kamu tu ya!! boleh tapi jangan banyak banyak ya'
__ADS_1
"Oke"
Kemudian Delima meninggalkan ruangan Dokter Tika, sudah sedikit lega, karena bayi didalam kandungannya baik baik saja.
.
.
.
"Dim, Delima kemana?? gue khawatir"
Kenzo tampak cemas, dia dari tadi masih terus menghubungi Delima tetapi sama saja tidak diangkat
"Gue salah Dim, seharusnya gue dulu dengerin elu untuk jelasin semua ke Delima, tapi....."
"Sayang.....please angkat teleponnya, abang khawatir"
Sementara Dimas masih fokus menyetir, sambil sesekali melirik ke Kenzo, dia kasihan...baru kali ini melihat sahabatnya itu sangat kacau.
Kring
Telepon Dimas berbunyi
"Hallo...."
<^>
"Ada bentar"
"Ken, ada telepon dari Tika, nomermu dihubungi gak bisa"
Lalu Dimas menyerahkan ponselnya ke Kenzo
"Apa Tik?"
<^>
"Apa?? tapi mereka gak kenapa kenapa kan?"
<^>
"Oh gitu...syukurlah, makasih ya Tika"
"Kenapa?" Dimas melihat Kenzo melamun setelah menerima telepon dari Dokter Tika
"Delima barusan dari tempat Tika"
"Mereka gak kenapa kenapa kan?" tanya Dimas yang juga khawatir
"Gak ada apa apa, tapi tadi Tika bilang kalau kondisi Delima masih seperti ini terus, kemungkinan besar anak anakku akan lahir, dan itu sangat beresiko, walau pun semua organ sudah terbentuk sempurna, tapi mereka belum cukup umur"
Dimas kaget memdengar cerita dari Kenzo
"Tenang Ken, kamu dengar sendiri kan,.elu harus ngalah, jaga kondisi Delima"
Kenzo mengangguk, perasaannya sudah sedikit agak tenang sekarang, setidaknya Delima dan anak anaknya baik baik saja, walaupun dirinya belum ketemu dengan istrinya.
"Dim...Dim....pelan pelan"
Dimas mengikuti perintah Kenzo dengan memelankan laju mobilnya
"Ada apa??"
"Delima didalam sana" tunjuk Kenzo dengan dagunya yang mengarah ke cafe yang menjual aneka macam es krim, dan memang Delima saat ini berada di luar cafe, menikmati pemandangan luar yang begitu segar.
Dimas mengikuti arah petunjuk Kenzo, dia juga sama seperti Kenzo merasa senang dan lega
"Gak usah turun, biarin Delima menikmati kesendiriannya dulu dengan memakan es krim, elu sudah liat sendiri kan, kalau dia tidak apa apa, lebih baik elu gue anter ke apartemen, tunggu Delima disana"
Kenzo mengangguk dengan senyuman yang agak sedikit dipaksakan
__ADS_1