Cerita Cinta Kita

Cerita Cinta Kita
Trik Main Cantik


__ADS_3

Kenzo masuk kedalam ruangan Delima dengan perasaan yang campur aduk. Terlihat disana Dimas masih setia disamping Delima, sedangkan Vano memejamkan matanya disofa.


"Dim...elu balik gih, besok pagi kesini lagi bawain baju ganti"


Dimas mengangguk kemudian melirik ke arah Vano "Tu orang gimana?"


"Anggap gak ada orang"


"Baju Delima juga?"


"Tidak, biar besok Jeje yang ngambilin" ucap Vano


"Kenapa? sekalian aja kali"


"Aku gak mau kamu liat bahkan nyentuh pakaian dalam istriku"


"Hah??? dasar posesif" ujar Dimas lalu pergi meninggalkan Kenzo dan Vano.


Kenzo mengambil kursi, kemudian duduk, tangan nya memegang tangan Delima, sedangkan tangan satunya lagi mengelus perut Delima


"Sayang maafkan aku"


"Aku memang salah, jujur saat ini aku belum bisa bahkan tidak sanggup untuk berterus terang padamu sayang, bukannya aku gak mau, tapi kondisimu yang tidak memungkinkan"


Kenzo berucap dengan air mata yang mengalir dipipinya, dia masih mengingat apa yang dikatakan oleh Dokter Tika tadi


"Delima kondisinya masih lemah, meskipun dia sudah melewatkan masa kritisnya, dan kondisi bayi nya juga baik baik saja, tetapi ada satu hal yang harus kamu ingat, jagalah perasaan istrimu, untuk saat ini sampai dia melahirkan, jangan beri dia beban yang terlalu berat, jangan membuat dia memikirkan sesuatu, dan jangan membuat dia bersedih"


Kenzo mengelus pipi Delima kemudian mengecup kening, mata, pipi dan juga bibir Delima. "Sayang sadarlah, abang sudah disini, kamu tadi mencari abang kan, maaafkan abang yang tidak berada disisimu sayang"


Kenzo mengecup tangan Delima, menggengamnya erat, seakan tidak mau berpisah dari Delima


Kenzo juga mengecup perut Delima "Maafkan Paps ya sayang, dan terimakasih kalian sudah kuat nak"


Malam semakin larut, begitu juga dengan Kenzo yang sudah lelah, sedangkan istrinya belum juga sadar, masih terlelap dengan mimpi indahnya.


Kenzo memutuskan untuk ikut tidur disamping Delima, karena memang ruangan ini didesain kusus untuk keluarga dari pemilik Rumah Sakit ini, yang pastinya sangat nyaman, dan juga tempat tidur yang bisa untuk berdua tanpa harus berdesakan, Kenzo kemudian memeluk wanita yang telah mengandung anaknya, buah cinta mereka. Menciumnya dari kening hingga bibir, dan tak lupa dengan anak anaknya


"Selamat malam sayangku"


Kenzo kemudian terlelap dengan tangannya memeluk tubuh Delima, sangat nyaman yang dirasa Kenzo saat ini.


.


.


.


"Bang..." panggil Delima


"Abang..." Delima mengulanginya lagi karena Kenzo tidak bergerak sama sekali


"Sayang bangun....aku laper" ucap Delima dengan sengaja mengeraskan suaranya.


Sedangkan Vano yang dari semalam berada di sofa terbangun mendengar teriakan Delima


Vano dengan matanya yang setengah sadar setengah tidak menghampiri Delima


"Beby syukurlah, kamu sudah sadar" ucap Vano yang langsung duduk disamping Delima

__ADS_1


Delima yang melihat Vano duduk disampingnya langsung memalingkan wajahnya menghadap suaminya yang masih terlelap


"Beby....hadap sini dong!"


"Laper?? beby mau makan apa?" ucap Vano lagi


Delima yang merasa jengah menoleh sebentar menghadap Vano


"Bisa gak sih, Mas Vano gak manggil aku kayak gitu?"


"Dan bisa gak sih, gak gangguin aku terus??"


Vano tertawa kemudian menggeleng "Sorry beby, permintaan ditolak"


"Terserah" Delima langsung menghadap ke suaminya lagi, dan menggoncang goncangkan tubuh Kenzo


"Bang...abang ih, kebo banget sih yank"


"Bang...bangun, kalo gak bangun aku nanti digondol Mas Vano loh, abang gak lihat, dia daritadi disampingku" Delima sengaja memanas manasi Kenzo supaya suaminya itu bangun, karena disamping sudah geram dengan Si Duda Sableng, perut Delima juga sudah lapar.


"Gak boleh...gak ada yang boleh nggondol kamu yank" Bukannya bangun, Kenzo malahan mengeratkan pelukannya ke Delima dengan ekor matanya melirik ke arah Vano


"Jangan kenceng kenceng itu tanganmu!" teriak Vano seolah olah pelukan Kenzo menyakiti wanita yang dia cintai.


Kenzo tidak menggubris ucapan Vano, malahan dirinya semakin menempelkan wajahnya ke leher Delima "Sayank I Want you" kali ini bukan dengan berbisik, tetapi sengaja malahan dikeraskan suaranya


Delima tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke suaminya, dirinya tau kalau suaminya itu sengaja memanas manasi si Duda Sableng


"Kapan?"


"Sekarang gimana??" Kenzo bangun dan menatap ke arah Vano dengan tersenyum sinis


"Emphhhh" Kenzo menarik dagu Delima dan mencium bibir Delima, hingga Delima terbuai dengan kelembutan yang Kenzo berikan, Delima memejamkan matanya, menikmati semua sensasi yang diberikan oleh suaminya, karena merasa sudah lebih dari cukup Kenzo menyudahi adegan 18+ nya, tetapi pandangan matanya masih menatap ke arah Delima


"Lanjut yank!" pinta Kenzo dan diangguki oleh Delima


"Breng*ek" Vano mengumpat kemudian keluar dari ruangan Delima


Brakkk


Vano menutup pintu itu dengan sangat keras, bukannya marah, Kenzo dan Delima malahan tertawa.


Delima mendorong tubuh Kenzo, sontak Kenzo kaget dengan perlakuan Delima yang tiba tiba berubah


"Sayang, kenapa?"


Delima terdiam, Delima ingin bertanya kepada suaminya, tetapi takut mendengar kenyataannya


Kenzo menangkup kedua pipi Delima "Sayang...abang tau, oke akan abang jelaskan, tapi kamu tenang dulu"


Kenzo melihat Delima dengan mata yang berkaca kaca, dan langsung membawa Delima ke dalam pelukannya


Delima memberontak, berusaha melepaskan pelukan Kenzo.


"Sayang, abang tau abang salah, kemarin kamu melihat abang dengan seorang wanita kan?"


"Aku juga melihat abang menggenggam tangan wanita itu, siapa dia bang?"


"Dia adalah teman abang, yang abang ceritain itu"

__ADS_1


"Lalu untuk apa kalian bertemu? bukankah abang juga lagi ada kerjaan, tetapi malahan abang meninggalkan dan pergi dengannya"


Kenzo menghela nafas "*haruskah aku ceritakan semua ini" batin Kenzo


Tidak, aku tidak akan menceritakannya untuk saat ini, aku tidak ingin melihatmu berbaring lemah untuk kedua kalinya*


"Maaf sayank, pagi itu setelah abang sampai dikantor, teman abang menghubungi abang, dan meminta ketemuan"


"Abang sengaja pergi sendiri tidak mengajak Dimas, karena abang tau hari ini abang ada janji juga dengan klien, sedangkan teman abang itu nanti malam sudah meninggalkan Jakarta"


"Sepenting itukah dia Bang?" tanya Kenzo yang sejatinya dia mulai cemburu


Kenzo menggeleng "Tidak yank, dia tidak penting, lebih penting kamu daripada dirinya, tapi.." Kenzo menjeda ucapannya dan mengecup bibir Delima singkat


"Tapi apa Bang?"


"Tapi...karena dia adalah teman abang, dan kita juga sudah lama tidak bertemu, akhirnya abang membagi tugas dengan Dimas"


"Abang menemuinya, karena dia ingin bercerita tentang proses percerainnya dengan suaminya"


"Terus kemana abang sejak tadi siang, dihubungi kenapa gak bisa?"


"Abang mengantarkan dia ke tempat mantan suaminya dan membantu mengurus percerainnya"


"Ketemu??"


Kenzo mengangguk "Ketemu, maka dari itu abang sampai lama disana, diajakin ngobrol dengan mantan suaminya"


Delima juga mengangguk, menatap mata Kenzo dan mencari kebohongan disana, tetapi tidak dia temukan kebohongan itu.


Ya jelas tidak ada kebohongan, la mantan suami temannya itu adalah Kenzo sendiri


"Bang Ke gak bohong?"


"Tidak sayang, gak ada untungnya aku bohongin kamu"


Delima tersenyum "Lalu kenapa ponsel abang gak bisa dihubungi?"


"Mati sayang" lihatlah


Kenzo menyerahkan ponselnya yang memang kehabisan baterai dan sampai saat ini juga belum dicharge


"Percaya ma abang ya sayang, abang gak mungkin menyakiti kamu dan anak anak abang, abang bahagia punya kamu dan mereka"


Kenzo meraih tangan Delima kemudian mengecupnya "Percaya ma abang kan?"


Delima mengangguk dan tersenyum "Aku percaya ma abang, karena abang gak mungkin membohongi aku kan?"


Deg


Kenzo tiba tiba hatinya merasa sakit, mendengar perkataan Delima, karena besar atau kecil kebohongan yang dilakukannya adalaah tetap kebohongan


"Abang tidak mungkin membohongimu sayang, I love u"


"I love u too"


Kenzo menyatukan keningnya dengan kening Delima, lalu meraih bibir manis Delima untuk segera dicium dan dilu**matnya lagi


"Maaf Bang, aku memang percaya ma kamu, tetapi ada sedikit keraguan dihatiku, aku gak mungkin bertindak gegabah untuk saat ini, karena aku juga memikirkan anak anak kita, tapi aku yakin ada sesuatu yang kamu sembunyikan padaku, entah itu apa...diam diam aku akan menyelidikinya, akan kuubah keraguan ku menjadi rasa percayaku padamu, jika memang kamu tidak membohongiku, karena itu aku akan bermain cantik untuk sebuah misi yang gak tau kapan akan aku mulai dan kapan pula aku akhiri"

__ADS_1



__ADS_2