Cerita Cinta Kita

Cerita Cinta Kita
Menjenguk


__ADS_3

Galvano Adriansyah


Pemilik Restoran sekaligus Rumah Sakit yang Delima sedang di rawat kini. Bahkan ruang perawatan yang di khususkan untuk Delima adalah sengaja Vano yang mengaturnya. Vano akhir akhir ini lebih suka mengurus Rumah Sakitnya daripada Restoran, dan berita tentang Delima yang masuk IGD langsung terdengar oleh Vano


Vano mendekati Delima, dan kebetulan dia sendirian. Vano tersenyum, tetapi senyum nya seakan akan mengejek


"Hmm....gak keren kamu Del!!" ujar Vano yang langsung mendapat pelototan dari Delima


"Maksud Mas Vano apa??"


"Aku sakit ya, bukan mau ikut ajang pencarian bakat yang harus tampil okeh biar keren"


Delima menyolot ketika Vano langsung bicara seperti itu, bahkan suara nya bisa keras walaupun perutnya sakit. Kan yang sakit perut, bukan mulutnya.


"Nah itu maksud aku" Vano menarik kursi dan langsung duduk disamping Delima, sedangkan Delima masih tiduran karena badannya lemes.


"Aku gak mudeng deh Mas!!"


Tangan Vano terulur untuk merapikan rambut Delima dan menyelipkannya di belakang telinga Delima.


"La itu penyakit kamu!!"


Delima masih melotot mendengar ucapan Vano, dan menggeleng karena tidak mengerti juga maksud dari ucapan itu


"Sumpah deh Mas, kalau kamu gak pemilik Rumah Sakit ini, udah aku lempar dari jendela sono"


Vano tersenyum, dia tidak sakit hati ataupun marah mendengar ucapan Delima.


"Kamu malah nanti yang masuk berita"


"Masak pewaris tunggal Pradipta Grup sekaligus istri dari seorang Kenzo Mahendra pengusaha muda sukses dan kaya raya menderita penyakit tipes, sangat memalukan dan gak keren banget kamu Del" cibir Vano


"Hah???? jadi dari tadi mas Vano bilang aku gak keren karena itu??"


Vano mengangguk "Iya...gak keren kan?"


"Kenzo terlalu banyak memberikan cinta, hingga dia lupa untuk ngasih makan istrinya"


"Haaahhhhh" Vano tertawa keras, sementara Delima henya diam saja dan memandang wajah Vano


"Udah Mas tertawanya??"


"Mas Vano tadi mau kesini mau jengukin aku? atau mau ngeledekin aku??"


"Dua dua nya sayang"


Lalu keduanya sama sama terdiam, hingga Vano mengulurkan tangannya untuk membelai rambut Delima

__ADS_1


"Apa yang kamu rasain?" tanya Vano kali ini dengsn ucapan serius


"Sakit hati!" jawab Delima ketus


"Sakit hati??? hmm yang mana? biar aku periksa!!"


Vano mulai mendekat, dan melirik Delima sekilas kemudian menyibak selimut Delima, lalu....


"Stop!!"


"Mas Vano mau apa??"


"Loh katanya tadi sakit hati, kan aku mau periksa, dan hati ada di sini kan" Vano menunjuk bagian perut Delima, ya hanya menunjuk saja


"Ngawur"


Vano terkekeh, lalu kembali menatap Delima "Masih sakit perutnya?"


"Udah mendingan Mas, cuma aku lapar"


"Aku beliin maem mau?? tapi ada imbalannya!!"


"Cieh...pemanfaatan, gak ikhlas namanya"


"Aji mumpunglah....kapan lagi bisa punya kesempatan ma kamu"


"Kalau aku minta kamu jadi istriku, pasti kamu gak mau"


"Hem...gk usah aku jawab kalau kayak gitu"


"Temenin aku makan aja"


"Emangnya mbak Aira kemana??"


"Aira di Toko Kue nya"


"Jadi Mas Vano kesepian?"


Vano mengangguk, detik berikutnya Vano berdiri dan mendekatkan wajahnya ke Delima, Vano melirik sekilas bibir Delima.


"Jangan Mas" Delima langsung mendorong tubuh Vano


"Aku kangen kamu"


"Jujur Del, dalam hatiku masih ada kamu, dan setelah Aira keguguran dan gak bisa punya anak, hatiku semakin goyah"


"Ngawur kamu Mas, aku gak mau, sudah aku bilang berkali kali dari dulu sampai sekarang, aku gak ada rasa sama kamu"

__ADS_1


"Aku tau, tapi aku harus gimana?"


"Nyemplung aja ke laut Mas, kamu di bilangin ngeyel kok"


"Kalau kamu masih nekad, aku akan menghindar dari kamu lo, aku gak mau kamu kayak gini Mas"


"Dan jangan sakiti Mbak Aira"


"Anggap aku sebagai adikmu Mas, sayangilah aku seperti adikmu sendiri, bukan sebagai wanita yang kamu cintai"


"Hufff"


"Berat Del, tapi akan aku coba....asal kamu tidak menghindar dari aku"


Vano kemudian mengusap rambut Delima dan mencium kening Delima


"Jangan protes, adekku"


"Hmmm pemanfaatan"


Sementara ada empat pasang mata yang sedang berdiri di baik pintu


"Ternyata Mas Vano masih mencintai kamu Del" gumam Aira


"Kamu tenang saja, istriku tidak mencintai Vano, dari dulu sampai sekarang"


"Dan gak akan aku biarkan Vano mengambil Delimaku"


Aira menoleh kemudian tersenyum, tetapi lagi lagi matanya melirik ke dalam ruangan Delima


"Aku percaya Delima, tetapi aku tidak percaya Mas Vano"


Kenzo menghela nafasnya kasar "Kalau kamu saja tidak percaya Vano, gimana dia mau melabuhkan hatinya untukmu??"


"Berikan kepercayaan padanya, aku yakin pelan pelan Vano akan menerima kamu sepenuhnya"


"Kalau untuk Delima, jangan kuatir, dia cuma menganggap Vano sebagai kakaknya saja, itupun Tante Lina yang minta, dan aku jamin istriku tidak mencintai suamimu"


Aira akhirnya tesenyum dan mengangguk


"Terima kasih Ken"


"Sama sama Ai, terkadang untuk melupakan seseoranh yang di cintai itu memang sangat berat, tapi aku yakin kamu bisa menaklukan hatinya Vano"


"Tapi ya itu, kamu harus beri kepercayaan padanya"


Lalu keduanya masuk ke ruang Delima. Vano yang melihat Aira di sana jadi salah tingkah. Tetapi tidak untuk Delima, Delima mah santai aja, karena memang tidak ada hubungan apa apa dengan sang mantan duda itu.

__ADS_1


__ADS_2