
"Sayang aku bosen" ucap Delima yang memang sudah tiga hari dirinya di Rumah Sakit ini, dan tiga hari ini pula Kenzo tidak pernah sedikitpun meninggalkan Delima
"Aku ingin pulang, gak enak disini" ucapnya lagi karena tidak mendapat respon dari suaminya, sedangkan suaminya sedang asik mamandang 2 bayi yang tertidur lelap di box nya.
"Sayang...." Panggil Delima lagi
"Sayang...." lagi lagi Delima memanggil tetapi tidak digubris juga oleh suaminya, entah itu memangg tidak mendengar atau sengaja mengerjai istrinya.
"Bang Ke.....Bang Ke..." teriak Delima
Kenzo menoleh, dia berhasil membuat istrinya kesal lalu menghampirinya
Cup
Kenzo mencium bibir Delima dan sedikit me**matnya, kemudian melepaskan lalu mencubit hidung Delima
"Kenapa? bosen? mau pulang?" tanya Kenzo dengan pertanyaan yang beruntun
Delima mengangguk "Bukannya seharusnya aku sudah boleh pulang ya Bang, lahiran normal kenapa kayaknya operasi sih?'
Kenzo tersenyum, masih memandangi wajah istrinya yang cemberut "Sengaja, biar punya abang benar benar pulih dan bisa segera di pake lagi"
"Mesum....anak aja baru berumur tiga hari, udah mau macem macem"
Ceklek
Pintu terbuka, disana sudah ada Dokter Tika
"Pagi Mamah cantik" sapa nya
"Pagi mbak Dokter cantik juga"
"Mbak, aku bosen, boleh pulang ya, kan aku sudah sehat" pinta Delima
Dokter Tika tersenyum, lalu menatap Kenzo dan Kenzo mengangguk "Baiklah tapi setelah mbak periksa ya, dan juga setelah baby Z nya juga diperiksa"
Bukannya senang, Delima malahan cemberut "Hem....ternyata ada konspirasi antara Bang Ke dan juga Mbak Tika"
Kenzo langsung mendekati Delima dan mencium kening istrinya
"Kan sudah abang bilang sayang, biar punya abang bener bener pulih dulu baru pulang"
"Modus" ucap Dokter Tika
Dokter Tika memeriksa Delima dengan teliti termasuk bagian bawah, karena memang dijait
"Pelan pelan Tik, jangan sampai lecet"
Dokter Tika tidak menggubris ucapan Kenzo, baginya anggap saja tidak ada orang itu disini
"Sudah pulih Tik? kapan siap pakenya?" Tanya Kenzo lagi yang masih menatap Dokter Tika
"Hem...Bapak Kenzo yang terhormat, bisa diam apa gak?? kalau gak aku jait lagi ni, biar kamu gak bisa masuk, sekalian aja aku tutupin rapat" ucap Dokter Tika dengan tersenyum licik ke arah Kenzo
"Jangan....jangan donk, ntar gimana aku masuknya?"
Dokter Tika terkekeh "Gak usah masuk, puasa aja selamanya"
Kenzo menghampiri Dokter Tika "Gue kesel ma elu, lama lama gu geprek deh kayak ayam geprek elu nya"
"Huhh takut" ujar Dokter Tika
"Gimana mbak? udah boleh pulang kan?"
"Boleh...."
"Yes....akhirnya, Bang telpon Mama dan Mami ya, bilang kalau aku pulang hari ini"
"Siap sayang"
"Udah ya Del, mbak tinggal, hati hati ma singa, awas kalau diterkam" ledek Dokter Tika
Satu jam telah berlalu, kini saatnya yang dinanti nanti, yaitu keluar dari Rumah Sakit. Tampak di sana sudah ada kedua orang tua Delima dan juga mertua nya. Baby Z digendong oleh kedua Oma nya.
Ceklek
__ADS_1
Pintu ruangan Delima di buka oleh Mario
"Aku telat ya?"
Mario dengan wajah kusutnya mendekati Delima dan kedua baby nya.
"Mereka lucu sekali Del? boleh untuk kakak?"
"Enak aja,.bikin sendiri napa? noh Cinta dah siap elu ajak bikin baby" jawab Kenzo asal
"Bang....omongannya dijaga!"
Sementara Mario hanya diam saja dengan wajah kusutnya
"Kak Rio kenapa?"
"Cinta pergi, dia bakalan kawin ma orang lain" jawab Mario sedih
"Serius Kak?" Delima kini berada di dekat Mario
"Iya, tadi kakak habis ketemuan ma dia"
"Tunggu....tunggu aku gak percaya"
Delima meraih ponselnya, kemudian menelpon seseorang
"Hallo"
(....)
"Oh gitu"
(....)
"Semoga itu yang terbaik buat kamu"
Setelah menelepon Cinta, Delima menghela nafasnya "Kakak menyesal?"
Mario menggeleng "Kakak gak nyesel, emang itu yang terbaik buat dia"
"Gak tau lah Del,.kakak cuma kasian ma Cinta, kakak dah buat dia berharap lebih ke kakak, tetapi akhirnya kakak sama sekali tidak menempatkan namanya di hati ini"
*Karena sampai sekarang hanya nama kamu yang ada di hati ku, batin Mario yang sejujurnya ingin meneriakkan itu
Kenapa susah sekali move on sih? apa aku harus ke ujung dunia dulu, biar bisa lupain kamu*? **atau aku harus sembunyi di goa, biar gak ketemu kamu?
Delima...oh Delima**
"Bener kakak gak cinta ma Cinta? entar nyesel loh!"
"Kalau kakak cinta, udah kakak ajakin kawin dari dulu Del"
"Lalu kamu cinta nya sama siapa Mario?" tanya Papah Erik yang sedikit menggoda
Mario melirik ke arah Delima dan tersenyum "Aku cinta nya ma menantu Om"
Semua yang ada disana tertawa, kecuali Delima, Mario dan Kenzo tentunya. Ke empat orang tua itu mengira kalau ucapan Mario hanya lelucon, walaupun mereka tau, tapi itu kan sudah lama.
Berbeda dengan Delima dan Kenzo, pernyataan Mario mereka anggap serius, apalagi dengan sorot matanya yang tajam menatap Delima
Kenzo mendekati Mario "Jangan coba coba rebut istri aku" ucap Kenzo lalu memeluk Delima dan membawanya jauh dari Mario.
"Udah siap Mah, Mi?" tanya Kenzo
"Siap semuanya Ken, kita langsung ke....?"
Kenzo mengangguk lalu menatap istrinya "Sayang abang punya kejutan untuk kamu"
"Kejutan apa?"
"Nanti kamu akan tau"
"Ayok kita pulang" ajak Kenzo kepada semua orang yang ada disana termasuk Mario
"Aku ikutlah, dari pada gak ada kerjaan"
__ADS_1
"Ayok sayang" Kenzo menggandeng tangan Delima, sementara Baby Z masih dalam gendongan Oma nya
"Sayang sebentar" ucap Delima
"Kenapa?"
"Temenin aku ketemu ma Mas Vano, aku mau ngucapin terima kasih"
Kenzo mengangguk, walau sebenarnya dia tidak rela jika istrinya bertemu dengan laki laki lain
"Mamah, Mami, Papah, Papi dan Kak Rio, kalian duluan aja ya, aku ma Bang Ken mau ketemu Mas Vano dulu"
Delima dan Kenzo keluar dari ruangannya, dan mencari ruangan Vano berada, sebelumnya Delima sudah menanyakan keberadaan Vano kepada perawat ataupun petugas Rumah Sakit di sana.
"Sayang apa kamu yakin akan menemui Vano?"
Delima mengangguk "Aku mau ucapin makasih ma dia Bang, cuma itu aja gak lebih"
"Tapi abang takut kalau di Panu itu baper sayang?"
"Hem...mulai deh..., udah ayok di depan kayaknya ruangan Mas Vano"
Tok...tok...tok...
Delima mengetuk pintu ruangan Vano
"Masuk"
Ceklek
Vano kaget ketika yang beridiri didepan pintu adalah Delima
"Boleh aku masuk Mas?"
Vano tidak menjawab, dirinya masih asik memandangi wajah Delima, wajah yang sudah tiga hari ini dia rindukan, wajah yang perlahan lahan akan dia lupakan.
"Duduk Del"
Vano menyuruh Delima untuk duduk, sementara keberadaan Kenzo di sana seolah olah tidak diperhatikan oleh Vano
"Mas, aku kesini mau ngucapin makasih atas semua tasilitas yang mas Vano berikan padaku selama aku berada disini"
"Hanya kata terima kasih yang bisa aku ucapkan" ucapan Delima lagi
Vano terkekeh dengan tatapan matanya yang masih memandang wajah cantik Delima dan melirik sebentar ke arah Kenzo
"Bayar dengan hatimu, maka akan aku terima ucapan terima kasih mu"
Kenzo berdiri dan menggebrak meja "Sinting" lalu tangannya menunjuk ke arah Vano
Vano semakin terkekeh melihat kelakuan Kenzo "Aku bercanda Ken, tapi kalau Delima mau aku juga gak nolak" lanjut lagi yang membuat Kenzo semakin kesal
Delima yang melihat suaminya emosi lalu memegang tangan suaminya "Bang..."
Karena situasi sudah tidak nyaman lagi, akhirnya Delima memutuskan untuk meninggalkan ruangan Vano
"Aku permisi dulu Mas, dan sekali lagi terima kasih"
Tanpa menunggu jawaban dari Vano, Delima lalu menggenggam tangan suaminya, untuk keluar dari ruangan ini, tetapi tiba tiba...
"Delima...." panggil Vano yang saat ini sudah berada di belakang Delima
Delima menghentikan langkahnya dan berbalik
"Jujur, tiga hari ini aku berusaha untuk melupakanmu, aku sengaja untuk tidak menemuimu, tidak menghubungimu, tetapi....bukannya aku berhasil melupakanmu, malahan bayang bayang kamu bukan menghilang tetapi malahan semakin nyata, dan aku semakin tidak bisa melupakanmu"
"Delima, aku jatuh cinta sejatuh jatuh nya ma kamu"
Delima menghela nafas, memang benar apa yang dikatakan oleh suaminya untuk tidak ketemu dengan Vano, bukannya menerima ucapan terima kasih dari nya, lelaki itu malahan menyatakan cinta padanya didepan suaminya.
"Lupakan perasaanmu padaku Mas, aku sudah bersuami dan aku juga sudah memikiki anak,.aku bahkan sangat mencintai suami dan anak anakku"
Vano mengangguk, sebenarnya dia sudah sangat mengerti, namun rasa didalam hatinya menolak untuk itu
"Boleh Mas memelukmu?"
__ADS_1
Dengan seringai licik diwajahnya, Vano menatap tajam wajah Kenzo