
Seorang gadis cantik tiba di bandara pagi ini. Amanda.....seorang model Internasional yang saat ini sedang menetap di Jerman.
Kedatangan Manda tidak lain hanya karena pekerjaannya saja, untuk masalah yang lainnya bisa diatur jika dirinya memang sempat, karena memang jadwalnya yang sangat padat
"Hallo...." Manda menelpon seseorang
<~>
"Baiklah aku akan kesana, thengkyu Mom"
Yah barusan Manda menelpon Mamah Lina, tante Manda, tetapi sudah dia anggap seperti Mamah nya sendiri.
Setelah mematikan ponselnya gadis cantik itu langsung menuju rumah sakit dimana saudara nya dirawat, yah Manda dan Vano mereka adalah saudara sepupu.
Tetapi sebelumnya Manda sudah mengirimkan pesan ke seseorang
"Aku sudah di Indo, nanti siang kita ketemuan"
Sebuah pesan yang dia kirimkan kepada seseorang ,ya seseorang yang telah menjadi masa lalunya. Bahkan sampai sekarang bayang bayang masa lalu itupun masih teintas di benak gadis cantik itu.
Aku cuma ingin hubungan kita benar benar resmi berakhir, bahkan untuk kembali padamu aku tidak ada niatan sedikitpun
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Manda sudah berada di sebuah Rumah Sakit yang merawat sepupunya Vano.
Ceklek
Manda membuka ruang perawatan Vano, dan tampak Vano sedang berbaring dengan memejamkan matanya
"Manja" cibir Manda ketika melihat Vano terkulai lemas diatas tempat tidur
Seketika Vano membuka matanya "Biarin....kapan datang?"
Baru saja, dari bandara langsung kesini
Manda melihat ke arah Vano "Kok bisa?"
"Ya bisalah, nama nya juga cinta"
"Cinta yang salah" lanjut Vano lagi
"Hah???" Manda seketika kaget mendengar ucapan sepupunya itu.
Vano kemudian duduk dengan posisi punggungnya masih bersender "Kalau aku ceritain kamu pasti kaget, dan mungkin gak percaya"
"Masak!" ucap Manda tidak begitu percaya dengan omongan Duda Ganteng satu ini.
Vano mengangguk "Oh ya kamu kesini mau bertemu dengan dia atau gimana?"
Manda mengambil kursi kemudian duduk di sebelah ranjang Vano "Emang ada pemotretan nanti malam, besok aku sudah kembali ke Jerman, tetapi nanti siang aku sudah janjian ketemuan ma dia"
__ADS_1
Vano tersenyum melihat kegelisahan saudaranya itu "Kamu masih menyukainya?"
Manda menggeleng "Aku cuma mau menjelaskan saja, tak ada niatan untuk kembali padanya, lagian aku sudah punya kekasih bukan"
"Menjelaskan?" Vano mengeryitkan alisnya beneer bener tidak tau maksudnya
"Iya, menjelaskan semuanya, aku yakin baik dia maupun aku ada yang perlu dijelaskan, dan aku yakin ada sesuatu yang membuat dirinya tidak mencariku selama ini"
Vano hanya mengangguk, sejujurnya dia tidak begitu paham tentang masa lalu saudara sepupunya itu, yang dia tau hanya intinya saja.
"Kirain masih menyukainya dan kalian kembali bersama"
"Hey kenapa jadi kamu yang semangat sekali jika aku kembali padanya, bukannya kamu yang dukung aku untuk pisah dengannya, ada apa denganmu??"
"Apa ada udang dibalik kemplengan?"
"Lagian dia sudah menikah lagi, dan aku dengar istrinya sedang hamil dan juga masih sangatlah muda
Vano tersenyum, merasa mendapatkan hiburan dengan hadirnya Manda
"Kalau aku ceritain kamu pasti tak percaya, dan menganggap aku bodoh" jujur Vano karena dia bener bener ingin bercerita dan menumpahkan semuanya dengan seseorang
"Aku jadi penasaran" seru Manda
"Nanti dulu, sekali lagi aku mau bertanya ma kamu, kamu beneran gak mau kembali ma dia? aku bisa membantumu, dengan senang hati"
"Eh bentar bentar deh Van, kok aku jadi curiga ya, daritadi kamu kayaknya berharap supaya aku kembali pada nya, padahal kamu juga tau sendiri kalau aku sudah punya pacar, hayo ada apa??"
Manda mengangguk "Dan wanita yang sama yang telah membuatmu jadi seperti ini"
"Kamu tau siapa dia?" tanya Vano
"Mana aku tau, yang aku tau dia sudah bersuami, itupun dari cerita kamu"
"Dan kamu tau siapa suaminya?" Vano mencoba untuk bangun dari tempat tidur dan menuju ke sofa biar lebih nyaman
Manda menggeleng "Aku bantuin"
Manda membawa Vano menuju ke sofa, memang lebih nyaman bercerita disini daripada di tempat tidur.
"Kenzo Mahendra" setelah mengatakan itu, Vano kemudian memandang wajah Manda
"What??? gila gila kamu sungguh gila Galvano"
"Hahahahhaha....benar kan aku bilang juga apa, kamu pasti kaget dan tak percaya, jika aku menyukai istri dari suamimu, bukan suka lagi tapi aku benar benar mencintainya"
"Ngawur....mantan suami tepatnya"
"Pantesan kamu begitu menginginkan aku kembali padanya rupanya ada tujuannya" lanjut Manda
__ADS_1
"Pinter....jika kamu kembali padanya, aku akan merebut Delima dan segera menikahinya"
"Tapi sayangnya aku sudah tidak tertarik lagi padanya, lagian aku kembali atau tidak padanya, kamu tetap akan merebut wanita itu kan?"
Vano mengangguk, memang rasa cinta yang baru dia tumbuhkan tidak bisa hilang begitu saja, terlalu dalam perasaannya pada Delima, hingga dia begitu enggan melepaskannya.
"Apa sudah tidak ada perawan atau setidaknya wanita single lagi di dunia ini Van?? apa stok wanitamu sudah habis? hingga kamu mencintai istri laki laki lain.
" Hei....sejak kapan aku suka koleksi perempuan? dan sejak kapan aku bermain main dengan wanita?"
Manda menggeleng, memang diakuinya saudaranya yang satu ini memang berbeda, walau sudah men Duda selama 5tahun, dia tidak pernah mendapatkan kabar kalau sepupunya itu bemain main dengan wanita
"Aku gak tau, siapa tau setelah kamu jadi Duda sifatmu jadi berubah karena kamu kurang belaian kasih sayank"
"Ciehh...picik sekali pikiranmu Nona Amanda"
"Aku memang kurang belaian, tapi aku gak mau sembarang wanita membelaiku, aku hanya ingin dia saja yang membelaiku" lanjut Vano
Plakk
Satu pukulan mendarat di jidad Vano "Ngawur kamu Tuan Galvano, ingat dia istri orang, lagian dia juga tidak menyukaimu apalagi mencintaimu, lihatlah kamu seperti ini juga karena dia, kamu tidak sadar juga, kalau kamu cuma halu ingin memilikinya"
Vano dan Manda diam sesaat, menikmati keheningan bersama
"Aku jadi penasaran, bagaimana wanita itu, hingga membuat dia jadi bucin, dan juga saudaraku yang dingin ini jadi tergila gila, bahkan tak tau malunya mengejar istri orang"
Vano menatap Manda, emang apa yang dikatakan Manda adalah benar, bahwa dirinya tidak tau malu megejar istri orang, dan jelas jelas wanita itu juga tidak mencintainya.
Vano lalu melihat jam dinding yang menempel di dinding "Sebentar lagi dia datang, bantu aku ke tempat tidur, aku akan berpura pura lemas"
"Gila....gila....gila, rayuan apa yang membuat wanita itu bisa datang kesini?" sambil memapah Vano untuk kembali ke tempat tidur
"Tanyakan saja pada Mommy Lina mu itu, kalau urusan rayu merayu dia paling jago berakting"
Manda geleng geleng kepala "Pantes....ada dalangnya"
"Oh iya Man, nanti kamu pura pura gak kenal saja sama dia, dan jangan beritahu tentang masa lalumu bersama suaminya"
"Satu lagi.....jangan kamu sakiti dia, kalau itu terjadi, kamu akan berurusan dengan aku, dia tidak tau apa apa"
Lagi lagi Manda menatap saudarnya itu, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Vano si Duda Ganteng yang mendadak alay bin lebay.
"Sampai segitunya kamu Van, lagian ya...dengerin aku, aku cuma mau kenal ma dia, aku gak mungkin juga nyakitin dia, kita sama sama wanita, lagian juga bukan salah dia, memang takdirnya aku harus begini"
"Kamu jangan kawatir, aku bukan orang jahat" lanjut Manda dengan menepuk bahu Vano
Vano tersenyum, dia mengatakan itu cuma bercanda, karena sejatinya dia sudah tau sepupunya itu seperti apa
"Iya sama sama wanita, dan kebetulan sama sama mencintai laki laki yang sama" sindir Vano lalu mereka berdua tertawa bersama sama, sampai sebuah pintu berhasil dibuka oleh seseorang
__ADS_1
Ceklek