
Dimas mengantarkan Delima pulang, entah dengan perasaan bagaimana yang dirasakan Dimas saat ini. Dia bingung, disatu sisi dia kasian dengan Delima tapi disisi lain dia juga harus membantu Kenzo untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan tuntas, dan juga ada sebuah alasan mengapa Kenzo bersedia ke Jerman hari ini
Dimas menatap Delima, wanita cantik itu daritadi masih terdiam, dan tak mengucapkan sepatah katapun
"Langsung pulang atau??"
"Beli es krim dulu ya Kak, kayaknya enak, dan dari buku yang pernah aku baca, jika memakan es krim saat hatinya galau, maka seketika itu akan hilang galaunya"
Dimas mengangguk kemudian mengacak rambut Delima, Dimas sudah menganggap Delima seperti adek nya sendiri.
"Elu salah Del, bukan pengobat galau, tapi untuk pengobat laper"
Dimas dan Delima tertawa bersama sama
Flashback On
Kring....Kring....
Suara ponsel Kenzo membangunkan sepasang suami istri yang masih terlelap dalam satu selimut
"Bang...ponselnya, ada yang telepon" ucap Delima dengan menggoncang goncangkan tubuh suaminya itu.
"Angkat aja yank, aku masih ngantuk" Kenzo tanpa berpikir menyuruh Delima untuk mengangkat ponselnya, dia pasrah saja jika yang menelepon Manda
"Abang minggirin dulu tangannya" lalu Delima mengambil ponsel Kenzo
"Kak Dimas bang" ucap Delima ketika melihat nama Dimas tertera dalam ponsel itu
"Angkat aja sayang"
Delima menggeleng "Abang aja sapa tau penting"
Kenzo mengambil ponselnya yang ada ditangan Delima, lalu menekan tombol hijau
"Hallo"
"Apa?? gak bisa ditunda??"
"Oke ,aku kesana"
Kenzo mengakhiri panggilannya ke Dimas, lalu menampilkan muka yang sedih
"Kenapa sayang?"
Kenzo mengecup kening Delima "Aku harus ke kantor, karena ada berkas penting yang harus ditanda tangani pagi ini juga"
Delima mengangguk "Pergilah, sudah beberapa hari abang tidak ngantor, kasian kak Dimas"
"Nanti jadi pulang kan?"
"Iya bang, aku udah gak betah disini"
"Tunggu abang ya, abang cuma sebentar, habis tanda tangan abang balik kesini"
__ADS_1
Kenzo mengecup bibir Delima singkat kemudian meninggalkan istrinya.
.
.
Kantor Mahendra
Dimas yang dari semalam memang tidak pulang karena lembur sedang gelisah mondar mandir menunggu si Bos nya datang.
Dia sudah tidak sabar ingin memberitahukan kabar dari Manda, entah itu kabar baik atau kabar buruk.
"Mana berkas yang harus gue tanda tangani Dim?" tanya Kenzo yang melihat sang asisten tidak menyiapkan berkas berkasnya tetapi malahan sibuk mondar mandir tidak jelas
Brakk
"Dimas!!!!" Kenzo menggebrak mejanya dengan teriak, karena melihat Dimas yang masih berkutik dengan kegelisahannya, sedangkan dirinya sendiri harus segera kembali ke Rumah Sakit, untuk menjemput Delima.
Kenzo berdiri menghampiri Dimas, menepuk pundaknya
"Kenapa? mana berkas yang harus gue tanda tangani"
Dimas masih melamun, menatap Ke jendela, entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Buruan Dim,.gue harus kembali ke Rumah Sakit, hari ini Delima sudah diperbolehkan pulang"
Deg
"Apa?? Delima pulang hari ini?" tanya Dimas, Dimas baru tau jika hari ini Delima sudah boleh pulang, entah karena memang beberapa hari ini, Dimas disibukkan oleh pekerjaannya yang menggantikan Kenzo, sehingga dia tidak tau kalau istri dari bos nya itu akan pulang hari ini.
"Apa?? kok bisa??"
Kenzo menggeleng ditatapnya selembar kertas itu, dan dibacanya ulang kata demi kata.
"Kapan dia ngirim email ini Dim??"
"Baru tadi pagi, habis subuh, begitu ada email masuk gue buka, dan langsung hubungin elu"
"Jadi, tanda tangan berkas itu?"
"Gak ada, urusan kantor sudah beres, gak ada kendala, lagian gue gak mungkin bilang ke elu tadi pagi, gue tau, elu masih tidur dengan bini elu"
"Jadi gimana?? Setelah mengirim email itu, Manda mengirimi gue pesan, dan terus nanyain elu bisa kesana atau tidak"
Kenzo terdiam, jika dia kesana berarti dia akan meninggalkan istrinya sendirian, apalagi hari ini Delima sudah diperbolehkan pulang.
Ting
Sebuah pesan masuk ke ponsel Kenzo
"Ken, kamu bisa?"
Kenzo membuka pesan dari Manda, menghembuskan nafasnya kasar, belum juga membalas, Manda sudah mengirimkannya pesan lagi
__ADS_1
"Aku dan ayah hari ini akan mengunjungi makam anak kita, aku berencana melakukan doa bersama disebuah panti asuhan, ayah berharap kamu bisa datang, aku tidak memaksa, jika kamu gak bisa tidak apa apa"
Deg
Hatinya semakin bimbang, padahal sebelum Manda mengirimi dia pesan, Kenzo sudah memutuskan untuk tidak ke Jerman, toh juga jika dirinya tidak hadir didalam persidangan tidak apa apa.
Tetapi setelah Manda mengirimi pesan, hatinya mulai bimbang, disatu sisi dia harus menemani istrinya yang akan keluar dari rumah sakit, tetapi disisi yang lain dia juga ingin menghadiri acara untuk anaknya yang sudah tiada, memberikan doa, dan melihat makam anaknya secara langsung.
"Arghhhhhh" Kenzo menjambak rambutnya
"Gue bingung, kalau seperti ini gue harus gimana?" Kenzo kemudian menyerahkan ponselnya kepada Dimas, dan seketika Dimas membaca pesan itu dan hatinya juga ikut bimbang
"Gue harus gimana Dim?" tanya Kenzo lagi
"Gue gak tau Ken, gue juga bingung jika diposisi elu"
Kenzo mengambil ponselnya ditangan Dimas, lalu mengetikkan sesuatu
"Aku akan kesana, tapi gak bisa lama lama"
Tangannya bergetar manakala jarinya mengetikkan tulisan itu, entah dia tidak tau apakah keputusan yang diambilnya salah ataupun benar.
Setelah memantabkan hatinya Kenzo mengirimkan pesan itu kepada Manda
Matanya berkaca kaca, manakala pesan yang dikirimkannya telah tercentang dua dan berwarna biru.
Maafkan abang Delima, jika keputusannku menyakiti kamu
Kenzo melirik Dimas, yang sedari tadi menunggu perintah dari Bosnya, apalagi melihat wajah Bosnya yang tererlihat kusut dan maatanya yang sembab.
"Elu hari ini ada meeting jam berapa?" tanya Kenzo, karena dia ingin memastikan dulu nanti istrinya pulang dengan siapa, yang pastinya Kenzo lebih percaya Dimas daripada yang lainnya, begitu juga dengan Delima.
"Jam 8"
"Kenapa? tidak!!! jangan jangan elu mau ke Jerman??"
Kenzo mengangguk " Jangan tanyakan alasannya, elu sudah tau sendiri"
Dimas mengangguk "Gue ngerti, semoga baik baik saja"
Kenzo menepuk pundak Dimas "Thanks, gue titip Delima, jemput dia, gue akan kabari dia, kalau gue ada ketemuan ma klien penting dan mendadak"
"Dan jika Delima bertanya jawab saja aku ada pertemuan mendadak dengan klien penting"
"Elu yakin??udah elu pikirkan matang matang?"
Kenzo mengangguk, sebenarnya berat rasanya untuk meninggalkan istrinya, tapi dia juga ingin menghadiri acaranya itu
"Siapkan jet pribadi Dim, gue akan segera pulang dan tunggu istriku"
Setibanya di Bandara, Kenzo langsung memasuki jet pribadinya " Dimas jangan lupa jemput istriku" teriak Kenzo
"Sial...." ucap Kenzo yang memandang ponselnya mati, dia baru ingat kalau semalam lupa untuk dicharge.
__ADS_1
Flashback Off