Cerita Cinta Kita

Cerita Cinta Kita
Cuma Satu Macam


__ADS_3

Mamah Lina sedari tadi memperhatikan wajah Vano, ada sedikit luka di sudut bibirnya. Mamah Lina tau itu bukan luka yang tidak di sengaja, melainkan sengaja yang di buat.


"Mas, itu kenapa?" Aira menunjuk di sudut bibir Vano yang agak sedikit bengkak


"Oh itu ini" Vano memegang sudut bibirnya "Tadi kebentur pojok meja Ai"


Vano sengaja berbohong, tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya. Apalagi kalau Aira sampai tau apa yang menyebabkan dirinya seperti ini. Bukan marah atau kecewa, takutnya Aira malahan akan mendukung rencananya, entah itu rencana baik atau jahat.


"Kok bisa Mas?"


"Bisa, tadi gak sengaja, agak sedikit oleng"


Sedangkan Mamah Lina sedari tadi masih menyimak interaksi antara Vano dan juga Aira. Mamah Lina tidak percaya jika itu karena benturan


Ada yang tidak beres


"Ai, Mamah pulang dulu, Papah bentar lagi juga pulang soalnya, besok Mamah kesini lagi"


Aira mengangguk "Iya Mah, biar dianter Mas Vano"


Tepat, persis dugaan Mamah Lina, jika Aira tidak akan membiarkan Mamah Lina untuk pulang sendirian, dan disinilah nanti Mamah Lina akan memanfaatkan kesempatan untuk mencerca berbagai pertanyaan untuk Vano.


"Gak usah Ai, biar Vano temenin kamu"


Mamah Lina pura pura, tidak mungkin juga beliau langsung mengiyakan ucapan menantunya dan tidak mungkin juga beliau meminta Vano untuk mengantarkannya, karean kondisi Aira yang masih lemas


"Gak apa apa Mah, udah ada Vikky, lagian aku sudah gak apa apa" ucap Aira lagi yang mencoba menyakinkan mertuanya itu, padahal dirinya sendiri juga tidak yakin dengan kondisi nya yang belum pulih benar.


"Kamu beneran gak apa apa sayang?" kini giliran Vano yang tidak yakin dengan perkataan istrinya, karena memang kondisi istrinya itu yang masih belum stabil


"Aku gak apa apa Mas, lagian ini udah hampir malam, kasian Mamah"


Vano mengangguk dan pasrah menuruti keinginan istrinya, lagian memang benar jika hari sudah mulai gelap dan juga jarak rumah dari Rumah Sakit juga tidak begitu jauh.


"Ya udah, aku antar Mamah dulu ya"


Vano mengusap lembut kepala Aira, kemudian mengecup kening Aira lama, ada sedikit rasa bersalah di dirinya ketika berada didekat istrinya

__ADS_1


Maafkan aku Ai, jika selama ini aku belum bisa sepenuhnya mencintai kamu, maafkan aku, kamu sudah berkorban banyak tapi tetap saja hatiku sepenuh nya masih mikik dia


"Mamah juga pulang ya sayang"


Mamah Lina dan Vano kemudian keluar dari ruang inap Aira, tetapi langkah kaki nya tidak menuju ke parkiran Rumah Sakit ataupun ke depan Rumah Sakit.


Mamah Lina melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Vano, ya ruangan pribadi Vano tentunya


"Kenap-?"


"Masuk, Mamah mau bicara serius ma kamu"


Vano menurut, dia tidak tau apa yang ingin Mamah Lina bicarakan, dia juga tidak tau mengapa Mamah Lina membawa nya ke sini.


"Kamu tau kenapa Mamah bawa kamu kesini?" tanya Mamah Lina yang sudah menunjukkan wajah galaknya.


"Tidak Mah, Vano gak tau"


Mamah Lina mendekati Vano dan memegang sudut bibir Vano yang agak bengkak


"Au.....sakit Mah"


"Jujur sama Mamah, ini kenapa? gak mungkin jika kebentur"


Vano menghela nafasnya kasar, tidak mungkin juga dia menyembunyikan nya dari Mamah Lina, beliau terlalu pintar


"Kenapa Van?" bentak Mamah Lina, kali ini memang agak sedikit keras


"Kena bogem" jawab Vano lirih


"Bogem??? sudah Mamah duga"


"Siapa?"


"Kenzo" ucap Vano dengan menunduk, jujur dia tidak berani menatap wajah Mamah Lina saat ini.


Mamah Lina menatap wajah Vano, persis seperti apa yang beliau fikirkan, dan kenapa Kenzo?, tidak usah ditanyakan lagi kenapa bisa Kenzo bisa memukul Vano, pastinya tak lain dan tak bukan adalah karena Delima. Tapi Mamah Lina ingin memastikan itu semua.

__ADS_1


"Kenzo??? kenapa dia sampai membogem kamu?"


"Itu....karena???"


Vano ragu kalau harus berterus terang dengan Mamahnya tentang persoalan ini


"Ita itu, itu kenapa? tatap mata Mamah Van?"


"Apa ada hubungannya dengan Delima? pastinya ada, jika tidak, tidak mungkin Kenzo akan melakukan itu"


Vano mengangguk "Vano minta Kenzo untuk meminjamkan istrinya, atau paling tidak berbagi Delima dengan aku Mah!"


Plakk


Dengan sadar Mamah Lina menampar pipi Vano, beliau tidak tau lagi dengan apa yang dipikirkan oleh Putra Tunggalnya itu.


Sedangkan Vano hanya diam saja, memang ini semua kesalahannya


"Maksud kamu gimana?"


"Aku meminta Delima untuk melahirkan keturunanku Mah, entah itu secara langsung ataupun tidak"


Mamah Lina tertawa sinis, mendengar ucapan Vano yang sangat sangat tidak masuk akal itu


"Mah...aku serius, dan tidak bercanda"


"Apa kamu sudah memikirkan itu?? apa Delima juga mau??"


"Aku sudah memikirkannya dan tentunya Delima tidak mau"


Mamah Lina tertawa lagi "Udah tau begitu, kenapa masih menginginkannya juga"


"Tapi selain dari Aira, aku hanya ingin keturunan dari rahim Delima Mah"


Mamah Lina sudah geram, dia tidak tau lagi dengan apa yang akan dikatannya untuk Vano


"Kalau begitu, gak usah memikirkan tentang anak, sudah ada Vikky yang Mamah anggap sebagai cucu Mamah sendiri"

__ADS_1


"Dan kamu jangan aneh aneh, apalagi kalau sampai macam macam dengan Delima, awas saja kamu!!"


Enggak Mah, aku enggak akan macem macem, cuma satu macem saja


__ADS_2