
"Lalu kebenarannya seperti apa?? bukankah itu kenyataannya?"
Manda masih tidak bisa menerima jika Kenzo memang benar benar mencarinya waktu itu.
"Memang benar, aku mencarimu setelah dua hari aku tiba di Indonesia, karena kondisi Mamah aku belum membaik tentunya yang membuat aku tidak bisa berfikir dan membagi waktuku"
"Aku akui, aku memang egois, tapi memang keadaanku saat itu sangat kalut"
"Maaf"
Manda mengangguk, memang benar kalau dia diposisi Kenzo saat itu akan melakukan hal yang sama, terbukti dia juga lebih memilih menemani Ayahnya ketimbang mencari tau kabar suaminya.
"Lalu apa yang terjadi setelah kamu mencariku?" tanya Manda yang memang ingin tau seperti apa ceritanya
"Bukan aku yang mencari, tapi orang suruhanku" ucap Kenzo dengan memelankan suaranya
"Ck...pantes" cibir Manda
"Lalu apa yang orang suruhanmu katakan?" tanya Manda lagi, walaupun dia begitu kecewa karena bukan Kenzo sendiri yang mencarinya, tetapi rasa penasaran mengalahkan segalanya
"Mereka bilang kalau kamu sudah tidak tinggal dirumah itu lagi" ucap Kenzo yang memang apa yang dikatakan oleh orang suruhannya begitu
"Lalu kamu menyerah? dan menghentikan pencarianku?"
Kenzo menggeleng "Setelah mereka mencarimu ke rumah mu tetapi kamu tidak ada, dan kata tetangga kalian sekeluarga tidak tinggal disitu lagi, orang suruhanku tidak berhenti mencarimu, namun sayang, seakan akan informasi mengenai dirimu dan keluarga sangat tidak dapat dilacak"
"Hingga akhirnya, beberapa bulan setelah kepergianmu, orang suruhanku berhasil melacak keberadaan keluarga kamu, dan disitulah mereka tau tempat tinggal kamu"
"Dengan berbekal kecerdikannya, mereka akhirnya bisa mengorek informasi tentang kamu, dan naas apa yang mereka dapatkan?"
"Apa?"
"Mereka memperoleh informasi jika kamu dan juga calon anakku telah meninggal dunia beberapa minggu setelah acara ijab qabul berlangsung"
Deg
Hati Manda terasa sakit ketika mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Kenzo
"Kamu percaya?"
"Awalnya aku tidak percaya, setelah mendapatkan laporan dari orang suruhanku, aku langsung terbang ke Jerman, dan disana aku bertemu dengan Ayahmu"
"Ayahmu menyambut ku dengan sangat baik, dan dia juga meminta maaf padaku karena telah salah menilai ku selama ini, lalu aku perlahan lahan mencoba bertanya ke Ayahmu tentang kamu dan tentang kebenaran informasi yang telah aku terima"
"Dan faktanya sangat mengejutkan, Ayahmu tidak berbicara sepatah katapun mengenai kamu, tetapi beliau langsung mengajak aku ke sebuah tempat pemakaman"
Deg
Lagi dan lagi, Manda dibuat terkejut dengan cerita yang baru saja dia dengar. Bahkan Manda tidak percaya jika Ayahnya lah dalang dari semua rencana kebohongan ini.
"Yang awalnya aku ragu, tetapi setelah aku diajak oleh Ayahmu ke sebuah tempat pemakaman, akhirnya aku percaya, apalagi aku melihat tulisan di batu nisan atas nama kamu"
Manda meneteskan air mata, dia tidak tau lagi apa yang akan dilakukan terhadap Ayahnya, apakah akan marah?? atau malahan berterima kasih padanya.
Kenzo mendekati Manda, kemudian menghapus airmata yang sudah membasahi wanita cinta satu malam nya itu
"Jangan menangis dan jangan pernah membenci Ayahmu, yakinlah pasti ada sesuatu yang membuat Ayahmu melakukan itu"
Manda mengangguk, memang tidak ada alasan lagi untuk dia membenci Ayahnya, walaupun Ayahnya pernah melakukan kesalahan yang fatal sekalipun
__ADS_1
Kenzo membawa Manda untuk duduk dan kembali menikmati makanan dan minuman yang telah tersedia
"Lalu bagaimana dengan anakku?"
Manda menghela nafas, ini nih bagian yang paling sulit dalam hidupnya, ketika harus menceritakan kronologi kejadian dimana dirinya kehilangan calon anaknya.
"Seperti halnya dengan kamu, setelah Ayahku pulang dari Rumah Sakit, aku juga berusaha untuk menghubungimu dan mencarimu, tetapi dengan kondisiku yang sedang hamil muda, Ayahku tidak mengijinkanku untuk melakukannya sendiri, dan beliau menawarkan anak buah nya untuk mencarimu"
"Entah mengapa hanya kebetulan atau memang sudah diseting sedemikian rupa oleh Ayahku, dengan tiba tiba kami sekelurga pindah rumah, entah apa alasannya waktu itu aku juga gak begitu paham, tetapi seingatku bahwa Ayahku telah menitipkan sebuah pesan kepada penghuni rumah yang baru jika ada yang datang kesini untuk mencarinya, maka akan diberikan sebuah kartu nama, yang pasti didalamnya sudah ada alamat dan nomor ponsel Ayahku, itu yang dikatakan Ayahku"
Kenzo menatap wajah Manda sekilas "Tetapi kenapa waktu aku dan orang suruhanku datang kerumah kamu yang lama, penghuni baru tidak mengatakan apa apa pada kami, bahkan penghuni baru itu juga tidak tau dimana kalian tinggal, yang waktu itu aku belum menemukan keberadaanmu"
"Hiks....hiks...Ayah, kenapa kamu berbohong!"
Kenzo memeluk wanita disampingnya, dia begitu tidak tega dengan apa yang dialami wanita itu, karena keegoisan Ayahnya lah, yang membuat mereka seperti ini.
"Udah jangan menangis" Kenzo melepaskan peluakannya itu.
"Anak buah Ayahku juga bilang kalau dia tidak berhasil mencari keberadaanmu"
"Entah itu setingan atau kenyataan aku juga gak tau" lanjut Manda dengan masih terisak.
"Akhirnya aku menyerah, aku meminta kepada Ayahku untuk berhenti mencarimu, dan aku bertekad akan membesarkan anak kita hingga tiba saatnya kamu bisa dihubungi lagi"
"Beberapa bulan setelah aku mencoba untuk menyerah, kondisi badanku drop, aku mulai tidak bisa makan, dan akhirnya aku lemas dan dilarikan ke Rumah Sakit, Ayahku yang tidak tega melihat kondisiku, akhirnya memberikan kabar, bahwa anak buahnya sudah berhasil menemukan dimana kamu berada"
"Ayahku memberikan aku alamat rumahmu yang ada di Jakarta, aku boleh kesana, tetapi setelah kondisiku sudah pulih".
" Kenapa kamu tidak menemuiku waktu itu?" tanya Kenzo
"Bentar, jangan dipotong dulu, aku belum selesai ceritanya"
"Setelah kondisiku benar benar pulih, aku kembali ke kota Jakarta, tentunya dengan harapan aku bisa menemukanmu dan akan kembali bersama, tidak sulit bagiku untuk mengetahui rumah kamu, dan setelah sampai disana, aku disapa oleh Satpam dan dia mengatakan bahwa kamu dan semua penghuni rumah itu sedang pergi untuk melangsungkan acara ijab qabul"
"Tidak membutuhkan waktu yang lama, aku telah berada di halaman rumah mewah keluarga Pradipta, dan disitulah aku menyaksikan kamu mengucapkan ijab qabul"
"Cukup lama aku berdiri disana untuk meyakinkan itu kamu atau bukan, dan setelah aku yakin itu kamu, aku pergi meninggalkan rumah itu"
"Aku langsung kembali ke hotel dimana tempat aku menginap, tetapi baru saja aku turun dari taksi tiba tiba ada sebuah mobil yang menabrakku, lalu setelah itu aku tak tau lagi kejadiannya seperti apa"
"Aku tidak sadarkan diri beberapa hari, dan setelah aku sadar, aku sudah berada di Rumah Sakit di Jerman, dan disaat itulah aku baru mengetahui kalau anakku tidak bisa diselamatkan, dan aku juga kaget ketika Dokter memberitahu bahwa aku akan lumpuh sementara"
"Hingga akhirnya, hari demi hari kulalui dan aku mencoba untuk berjalan dan aku sudah kembali pulih, lalu aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya"
Air mata Manda terus bercucuran, dia begitu sedih manakala mengingat kejadian itu
"Maaf, sekali lagi aku minta maaf, aku gak tau penderitaan yang kamu alami dulunya sampai seperti itu" ucap Kenzo yang merasa bersalah
Manda menghapus airmatanya dan dirinya menatap Kenzo dengan tersenyum
"Emang sudah takdir kita seperti ini, aku dengan kehidupanku sendiri, begitupun juga kamu"
Manda lalu mengeluarkan sesuatu didalam tasnya dan menyerahkan kepada langsung
"Ini?"
Manda mengangguk "Sudah lama aku buat itu, tetapi untuk segera menemuimu aku belum sanggup"
"Sejak kapan? bahkan aku baru mulai mengurusnya?" tanya Kenzo dengan membaca selembar kertas yang sudah ada di tangannya
__ADS_1
"Belum lama, sejak ada seseorang laki laki yang melamarku, aku segera putuskan untuk mengurus itu, walau bagaimanapun pernikahan kita dulu sah dimata hukum dan agama, dan aku juga mau kita pisah juga dengan cara yang semestinya"
Kenzo kemudian membacanya dan tanpa ragu lagi dia membubuhkan tanda tangan nya disana, tetapi sebelumnya Manda sudah lebih dulu menanda tanganinya
"Maaf..." ucap Kenzo
"Terima kasih, pengacaraku akan mengurusnya, dan segera mengabari asistenmu" setelah mengucapkan itu Manda langsung memasukkannya ke dalam tas.
Manda melihat jam ditangannya "Sudah waktunya, aku akan ada acara"
Kenzo mengangguk "Aku antar ya, lagian sudah malam"
Mereka berdua kemudian berjalan menuju mobil Kenzo dengan perasaan yang sangat lega.
"Ken, apa istrimu tau kalau kamu pergi denganku?"
"Tidak, tapi dia taunya aku hari ini ketemuan dengan temanku" jawab Kenzo yang masih fokus menyetirnya
"Maaf kalau aku bilang kamu temanku"
Manda menggeleng dan tertawa "Gak masalah aku ngerti kok, dan kita sekarang memang temana kan? dan satu lagi istrimu sangat cantik sekali, hati hati dengan sepupuku, dia tidak jahat, tapi dia begitu mencintai istrimu"
"Aku tau...aku juga heran, padahal Delima perutnya sudah keliatan gede, tapi tetep saja mereka mereka masih mengejarnya"
"Haaaaaaaa" Manda tertawa lagi
"Kamu tau Ken?"
"Enggak"
"Kalau Janda itu lebih menawan, kayak aku ini"
Dan kemudian keduanya tertawa bersama sama, sampai akhirnya Manda sudah tiba di tempat yang dia tuju
"Makasih Man atas semuanya, kalau perlu apa apa jangan sungkan sungkan hubungi aku"
Manda mengangguk "Begitu juga dengan kamu, kalau kamu butuh aku untuk menjelaskan semuanya kelak, aku siap membantu"
"Aku pergi dulu, hati hati"
.
.
Setelah beberapa jam akhirnya Kenzo sampailah di apartemennya, Kenzo keluar dari mobilnya, dan ingin langsung menemui Delima karena seharian belum mendengar kabarnya
"Bos.." teriak seseoarang berbadan kekar itu dari arah belakang yang sengaja menghentikan langkahnya
Kenzo berbalik, dia tau siapa yang memanggilnya itu "Ada apa?"
"Anu Bos...!"
"Anu....."
"Jelaskan, gak hanya anu anu saja" Bentak Kenzo
"Nona Delima Bos....." ucap laki laki berbadan kekar itu dengan gugup
"Ada apa dengan istri saya?"
__ADS_1
"Nona Delima masuk Rumah Sakit, dan kondisinya Kri-tis"
Deg