
"Vikky" Teriak Vano dan juga Aira bersamaan
Bocah kecil yang baru masuk itu langsung menghampiri Vano dan juga Aira, dia kaget karena mendapati Om yang kemarin di kenalnya sudah berada di sini
"Bunda, Om" lirihnya sambil memeluk Bunda Aira
"Om?" tanya Aira
"Iya...ini Om yang Vikky ceritain kemarin Bun"
"Yang lupa namanya itu?" tanya Bunda Aira lagi
Vikky menganggguk, lalu kedua matanya melihat ke arah Vano
"Om...kenapa Om ada di sini?"
"Emmm....tadi nya Om nungguin kamu di sana, di tempat kemarin dan mau ngajakin kamu makan es krim, eh malahan kamu nya gak ada"
"Terus Om kesini?"
"Iya, Om ingat jika kamu pernah bilang kalau mencari mu di toko roti ini dan Om langsung ke sini"
Vikky mengangguk "Lalu Om ketemuan ma Bunda?"
"Iya, sambil nungguin kamu, Om ngobrol ma Bunda" jawab Vano agak sedikit canggung
Prokk....prokk...prokk
Vikky bertepuk tangan "Om hebat, Om hebat bisa ngajakin Bunda ngobrol"
"Cie....cie...Om juga Panggil Bunda"
Eh iya ya, kenapa aku juga manggil ibunya bocah ini dengan Bunda, batin Vano
"Emangnya Bunda gak mau gitu kalau diajakin ngobrol" ucap Vano dengan melirik ke arah Aira
Vikky menggeleng "Bahkan Bunda juga gak punya teman laki laki, setiap ada yang datang sekedar berteman, bunda selalu menolaknya"
"Vikky...." panggil Aira
Vikky menoleh dan langsung menutup mulutnya "Upss keceplosan Bun"
Sedangkan Vano menatap Vikky dan Aira bergantian
__ADS_1
"Maaf kan Vikky Tuan, dia ngomongnya suka ngawur"
"Gak masalah, lagian anak kecil juga gak pernah bohong, ucapannya pasti serius dan benar"
Aira menundukkan kepalanya, merasa malu dengan ucapan Vikky dan pernyataan Vano barusan. Memang apa yang dikatakan oleh Vikky barusan adalah benar, bahkan sudah berkali kali dia menolak setiap ada laki laki yang datang melamarnya atau hanya sekedar ber teman saja. Alasannya hanya satu, yaitu Vikky, dia akan menikah lagi jika itu Vikky yang meminta dan tentunya laki laki itu harus menyayangi Vikky dan juga dekat dengan Vikky
"Hem...kita belum kenalan?" ujar Vano
Vano mengulurkan tangannya "Vano" dan Aira juga menyambutnya "Aira"
"Hemm...jangan panggil Tuan, panggil Vano saja"
Aira mengangguk, lalu kembali bertanya pada Vano
"Em Mas Vano kenal Vikky?"
Duh kenapa aku jadi deg deg an gini ya, setiap dia berkata, apalagi manggil aku Mas
"Em....kemarin gak sengaja ketemu Ai, di depan sana" tunjuk Vano ke sebuah tempat kosong dengan satu tempat duduk memanjang
"Oh...Vikky setiap sore memang sering kesitu, bahkan dia bisa seharian berada di sana jika sedang merindukan Ayahnya" Jawab Aira dengan mata berkaca kaca
Dengan refleks Vano langsung memegang tangan Aira, menyalurkan rasa nyaman untuk Aira "Aku sudah tau, Vikky sudah menceritakannya"
Aira menatap Vano, dia tersenyum dan tidak menyangka kalau anaknya bisa akrab bahkan juga bercerita dengan orang yang baru dia kenal nya, apalagi seorang laki laki. Biasane Vikky paling tidak suka bercerita kepada orang lain, selain Bundanya.
"Bahkan Vikky telah mengajarkanku banyak hal Ai"
"Kamu hebat, bisa membesarkan Vikky seorang diri, bahkan bisa mendidik nya dengan sangat baik" lanjut Vano.
"Anda terlalu memuji Tuan Vano, aku bahkan belum bisa membahagiakan dia, di luar dia keliatan sepert anak yang ceria, tetapi di dalam hatinya dia sangat merindukan sosok Ayahnya, bahkan kita hidup hanya berdua saja, sedangkan Vikky sebenarnya masih mempunyai Opa dan Oma dari keluarga Ayahnya yang kehidupannya jauh lebih baik dari kami"
Lagi lagi air mata Aira menetes, setiap dia menyebutkan asal usul keluarga besar Vikky hatinya sakit, dia tidak meminta harta dari keluarga suaminya, tetapi yang dia inginkan hanyalah pengakuan, pengakuan bahwa Vikky adalah keturunan Keluarga Bagaskara.
Tangan Vano kembali terusik untuk bergerak menghapus air mata Aira, hingga Aira tersadar dan memegang tangan Vano
"Makasih Mas, maaf jika aku cengeng"
Sementara Vikky sudah terlelap tidur di pangkuan Aira.
"Bolehkah aku menjadi teman mu Ai?" tanya Vano yang seperti tidak mau basa basi, mengingat umur mereka yang tidak muda lagi.
"Teman?" tanya Aira yang kali ini mencoba lebih berani menatap Vano
__ADS_1
"Iya teman, teman kamu dan juga teman Vikky"
Aira mengangguk, kemudian menjaabat tangan Vano "Teman", dan Vano pun membalas jabatan tangan Aira.
Entah kenapa baru pertama melihat Vano, hati Aira seakaan yakin jika Vano bisa menjadi teman nya dan juga teman Vikky, tidak menutup kemungkinan wajah Vano yang tampan dan juga perlakuan Vano yang hangat kepadanya membuat dirinya nyaman.
Begitu juga dengan Vano, dari awal bertemu dengan Aira, dia sudah mengagumi wanita itu, walaupun hatinya seribu persen masih berlabuh ke Delima.
"Teman...tapi jika suatu saat kita berjodoh, jangan mengelak dari Takdir"
Aira tidak tau harus berkata apa apa, pekataan Vano barusan memang benar, berawal dari teman, jika memang berjodoh tak akan lari kemana.
"Oh ya Mas, aku mau nidurin Vikky dulu"
Aira ingin mengangkat tubuh Vikky, namun di tahan Oleh Vano "Jangan, biar aku saja"
"Kamu tunjukkan saja di mana kamarnya"
Dan tanpa menunggu jawaban dari Aira, Vano menggendong tubuh Vikky lalu mengikuti langkah kaki Aira.
Aira membuka kamar Vikky, ya kamar khas bocah berusia sepuluh tahun, lalu menidurkannya.
"Terima kasih" ucap Aira malu malu, karena setelah Vano membaringkan tubuh Vikky, Vano menatap wajah Aira.
"Em...kalau begitu aku permisi dulu Ai, sudah malam"
"Dan......." Vano hendak merogoh dompet yang ada dalam saku celana nya karena di tadi merasa memesan makanan dan minuman
"Kali ini aku yang traktir Mas, tapi besok besok bayar ya" ucap Aira dengan candanya, entah mengapa mulutnya serasa berucap ingin laki laki yang di sampingnya ini datang kesini terus
"Pasti Ai"
"Aku anter sampai depan Mas"
Dan Vano pun mengangguk
Vano keluar dari Toko Roti milik Aira, dia berjalan kaki untuk sampai ke Rumah Sakit yang jaraknya tak jauh dari Toko itu.
Di sepanjang perjalanan, Vano tersenyum sendiri mengingat wajah manis Aira. Baru kali ini Vano tersenyum setelah merasakan patah hati dengan Delima
"Tuhan....jika memang Aira jodohku, dekatkanlah....jangan kau uji hambamu ini dengan cinta yang salah lagi"
Yah jika memang dia dan Aira berjodoh, setidaknya demi kebaikan dan masa depan Vikky, bukan untuk dirinya, karena didalam hatinya masih tersimpan nama Delima, dan juga bukan pula untuk Aira, karena Vano tau didalam hati Aira masih ada nama Bagaskara, yang tak lain adalah Ayahnya Vikky.
__ADS_1