Cerita Cinta Kita

Cerita Cinta Kita
Curahan Hati Mario


__ADS_3

"Rio, bisa ke kantor Papi sekarang?, Papi mau ngobrol sebentar sebelum berangkat"


Bunyi pesan dari Papi Jovan untuk Mario


"Tumben?? ada apa??" gumam Mario. Tangan Mario langsung mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan Papi Jovan


"Bisa Pi, Rio otewe sekarang"


Mario langsung mengirimkan pesan itu ke nomer Papi Jovan, dan tanpa menunggu lama, Mario langsung meninggalkan kantornya dan bergegas menuju ke kantor Papi Jovan


Tidak meembutuhkan waktu yang lama, mobil Mario sudah sampai di parkiran kantor Papi Jovan, dan langsung ke atas, ke ruangan Papi.


Tok....tok....tok


Mario mengetuk pintu sesuai dengan aturan bertamu.


"Masuk" ucap Papi Jovan


"Pagi Pi"


"Duduk Yo"


Mario mengangguk, terus terang kedatangan nya pagi ini di kantor Papi Jovan membuat dirinya sedikit gugup, rasa rasa nya ada sesuatu yang penting yang harus Papi Jovan luruskan pada nya.


"Kamu mencintai Delima?"


Deg


Pertanyaan Papi Jovan membuyarkan lamunannya sekaligus mengangetkan Mario. Mario tidak menjawab, dia masih bingung dengan jawaban yang diberikan, dan juga sedikit khawatir kalau tiba tiba Papi Jovan membencinya


"Rio,! Papi cuma nanya, kamu mencintai Delima?"


Tidak ada alasan lagi untuk Mario tidak menjawab pertanyaan Papi. Karena memang kenyataan nya seperti itu


"Maaf Pi"


Hanya kata itu yang bisa di ucapkan oleh Mario saat ini. Padahal sejujur nya, dia ingin berteriak jika di sangat sangat dan sangat mencintai Delima


Papi Jovan menghela nafas panjang, kemudian tersenyum


"Sejak Kapan?" tanya Papi Jovan menyelidik


"Dari Kecil Pi" Mario menunduk takut melihat tatapan mata Papi Jovan


"Delima tau?"

__ADS_1


Mario menggeleng "Delima tau nya baru baru ini, saat Delima sudah menikah"


"Dan Delima apakah juga mencintaimu?" lagi lagi pertanyaan Papi Jovan menyudutkan Mario


"Tidak Pi, Delima cuma menganggap aku sebagai kakak nya saja, sama seperti Farhan"


"Farhan??"


"Iya Pi, Farhan temen kecil kita dulu, tapi di sudah lebih dulu bisa move on dari pada aku"


Papi Jovan mencoba mengingat ingat sesuatu, pikiran nya seakan akan traveling ke beberapa tahun yang lalu


"Iya iya Papii ingat, Kamu, Farhan dan Delima, kalian bertiga suka maen bareng bareng"


"Dan ternyata memendam cinta yang sama" lanjut Papi Jovan sekalian menyindir Mario


"Lalu kenapa kamu tidak mengungkapkannya pada Delima dulu nya? dan kenapa kamu pergi tanpa pamit dan tanpa kabar?"


"Takut Pi, aku takut jika setelah Delima tau perasaanku, Delima akan pergi meninggalkan ku dan tidak mau berteman denganku lagi, bahkan yang lebih parah, aku takut jika Delima membenciku, dan saat itu keadaanku tidak memungkinkan untuk berpamitan dengan Delima Pi"


"Tapi yang ada sekarang, Kamu bahkan sudah kehilangan Delima, karena Delima susah jadi milik orang lain, dan kamu juga terlambat menyatakan perasaan cinta mu"


Mario terdiam, perkataan Papi jovan sangat meneyentuh hatinya


Mario menunduk, jujur dia sudah tidak dapat menyembunyikan kesedihan lagi, dia menyesal, benar benar menyesal, jika waktu bisa diputar, dirinya akan menyatakan perasaan cintanya pada Delima, tanpa peduli jika di tolak atau di terima, tapi apa mau di kata, semua sudah terlambat, janur kuning sudah melengkung dan tidak bisa dipatahkan lagi.


Papi Jovan yang melihat Mario menunduk dan mengeluarkan air mata, kemudian berdiri dan menghampiri Mario


"Jangan menyesali semua yang telah terjadi, ubahlah rasa cintamu itu menjadi rasa sayangmu sebagai saudara Delima, yakinkanlah hatimu bahwa Delima sudah bahagia dengan suaminya, dengan keluarga kecil nya"


Mario berdiri dan melangkah menuju jendela di mana Papi Jovan berada


"Sudah pernah aku coba Pi, tapi gagal"


"Bahkan kepergianku ke Amerika beberapa tahun yang lalu juga karena itu, karena aku ingin melupakan Delima Pi, melupakan bahwa aku pernah mencintai nya dan menganggap dia sebagai adikku saja"


"Tapi semua sisa sia, aku gagal" lanjut Mario lagi


"Dan kamu juga pernah mencoba mencintai seorang gadis remaja?" tanya Papi Jovan


Mario mengangguk "Bahkan dia sangat mencintaiku, aku pikir karena dia mencintaiku aku akan sangat mudah untuk menempatkan namanya di hatiku, tetapi....aku juga tidak berhasil"


Karena kamu bukan Dora Mario


"Rasa ku seakan sudah mati untuk orang lain Pi, untuk hati lain, Delima cinta pertamaku dan mungkin akan menjadi cinta terakhirku" ucap Mario dengan wajah sendunya

__ADS_1


"Apa kamu juga tidak menginginkan sebuah pernikahan?"


"Jujur aku ingin Pi,di usiaku yang sudah tidak muda lagi aku ingin segera menikah dan mempunyai anak, tapi Papi dengar sendiri, kalau rasa ku sudah mati untuk orang lain"


"Apa itu artinya kamu masih mengharapkan Delima?"


"Kalau boleh aku jujur iya Pi, bahkan sudah terbesit di pikiranku untuk menunggu jandanya Delima"


"Ngawur kamu!!" seru Papi Jovan


"Kamu akan melihat Delima menderita kehilangan suaminya, apa kamu sanggup menyaksikan itu semuanya?"


Mario menggeleng "Tidak Pi, aku gak sanggup liat itu apalagi melihat dia menangis"


Papi Jovan menepuk pundak Mario "Sungguh miris kisah cintamu Mario"


"Kalau aku boleh pilih Pi, aku ingin menghilangkan rasa cintaku ini untuk Delima, ketika aku melihat Delima begitu bahagia dengan suaminya, aku juga merasakan senang, tapi kenapa aku tidak bisa mencintai wanita lain?"


"Kamu hanya butuh waktu dan sedikit lagi perjuangan"


"Boleh Papi bantu?" lanjut Papi Jovan lagi


"Silahkan Pi, otakku udah buntu"


"Kamu mau Papi jodohkan dengan anak teman Papi?"


Deg


Mario menatap Papi Jovan "Aku gak salah dengar Pi?"


"Tidak...Papi ingin kamu juga bahagia, karena kamu sudah aku anggap sebagai anak Papi sendiri, dan Papi akan bertanggung jawab atas dirimu sebelum kamu menikah"


"Percayalah, Papi tidak punya maksud lain Mario"


"Apa aku mengenalnya? dan dia juga mengenalku Pi?"


"Tidak, kamu dan dia tidak saling kenal, dan kalian akan mencoba mengenal dan mencintai satu sama lain"


Mario terdiam, dia tidak tau harus menjawab apa


"Terserah Papi saja, jika itu memang yang terbaik untuk aku, karena aku juga tidak tau ada rasa untuk wanita lain atau tidak, atau memang benar benar sudah mati"


"Tapi...aku akan meminta ijin dulu ma Delima Pi, jika Delima setuju, aku pun juga setuju"


Papi Jovan menepuk jidad nya sendiri, benar benar cinta telah membutakan segalanya. Bukan salah cinta, tapi salahkan orang yang sudah mencintai milik orang lain.

__ADS_1


__ADS_2