
"**Aleetha bangun.. thaa "...
Terdengar suara laki-laki membangunkan diriku..
Dan ternyata dia adalah Pak Banu. Tapi tidak hanya dia, dibelakangnya ternyata ada Dika. Badanku masih agak lemas.
"Kamu jaga Aleetha sebentar ya Dik, nanti biar bapak panggilkan teman sekelasnya."
"Iya pak, gak apa-apa biar saya aja yang jaga Aleetha."
Ya, saat itu aku ditemani oleh Dika. Awal-awal hanya suara hembusan angin, hening. Tapi akhirnya Dika mengawali pembicaraan.
"Kamu masih pusing?" Tanya Dika.
"Masih, tapi enggak terlalu kayak tadi." Jawabku.
"Iya, maaf ya tadi temanku salah melempar bola, eh.. malah kena kamu."
"Nggak papa Dik.. paling aku nya yang kurang hati-hati."
Seketika hening kembali.
.....
"Emm, kamu anaknya Ibu Rusi designer bukan?" Tanyanya kembali.
"Iya, aku anaknya, emang ada apa?"
"Nggak papa.. kamu punya nomor telepon? Soalnya Mamaku bilang katanya mau nganterin kain pesanan ibu kamu?"
"Ada Dik.. ini nomornya 08224567****" Jawabku, kemudian Dika mencatatnya.
Aku bingung.. bukankah Ibu Dika sedang di Luar Kota? Entahlah.
Tak lama kemudian Ibu Nana dan Dina datang menemuiku. Kemudian mereka mengantarkanku ke kelas kembali. Sesangkan Dika kembali ke pelajarannya.
Hari ini sekolahku libur, ya.. karena benturan dari bola kemarin masih agak terasa, akhirnya aku hanya bisa menidurkan tubuh ini.
Kring.. kring... (Bunyi ponselku berdering)
Ku buka, ternyata itu pesan dari sebuah nomor. Entah nomor siapa itu. Bertuliskan di WhatsApp ku
"Assalamualaikum Aleetha." Kemudian ku jawab
"Waalaikumsalam, ini dengan siapa?"
__ADS_1
"Ini Dika, teman kamu yang kemarin menemani kamu di UKS."
Oh iya.. kemarin Dika sempat meminta nomorku.
"Owalah Dika, ada apa Dik?
"Enggak apa-apa, cuma mau nanya kabar kamu, udah sehat?"
"Udah lumayan Dik.. tapi masih sakit kalau aku bangun berdiri."
"Ya udah, istirahat aja, tunggu sembuh dulu baru kemana-mana."
"Iya Dik makasih. Emang aku mau kemana?" Jawabku dengan emoticon tertawa.
"Ya, barangkali mau ke 'ThaiTeaa'."
Aku diam sebentar, darimana Dika tahu kalau aku dan Dina suka pergi ke sana? Apa jangan-jangan... Ah! Tidak mungkin.
"Hehe.. sekarang mau di stop dulu."
"Iya, lain kali jangan terlalu sering."
Dan akhirnya aku dan Dika saling berkirim serta membalas pesan. Bahkan hampir setiap hari. Humm ... Rasanya diri ini dihantui bayangannya. Ataukah aku punya perasaan padanya? Huh!!! Jangan Aleethaa... Kamu itu gak cantik.. masa iya Dika mau sama aku.
Berbulan\-bulan kemudian aku dan Dika semakin dekat. Entah ketika di WhatsApp ataupun di sekolah, dirinya begitu sering menyapaku. Bahkan sewaktu aku di Taman sekolah.....
"Hai Let.." Sapa seseorang bertubuh tinggi, kutatap dari bawah ke atas. Oh.. ternyata dia Dika.
"Cieee.. ehem ehem.. ya udah aku tinggal dulu ya.. biar kalian ga keganggu" Saut si Dina.
"Eh.. Dina.. siniii." Jawabku sambil berteriak kepada Dina yang sudah berlari.
Dan disitulah kedekatanku diketahui oleh banyak teman. Bagaimana tidak? Dika yang terlihat minder pada perempuan, tapi saat ini malah dekat denganku. Siapa yang tidak curiga?
Ponselku berdering, kulihat ada pesan dari Dika.
"Let, kamu ada acara nggak? Kalo nggak kamu ku ajak keluar mau?"
Deg... Hatiku serasa bergetar, apa?? Dika? Baru kali ini dia mengajakku keluar.
"Enggak ada Dik, emang mau kemana?" Tanyaku.
"Ya.. jalan-jalan aja.. ya udah, kamu siap-siap dulu. Nanti aku jemput ke rumah."
__ADS_1
"Iya Dik, aku tunggu."
30 Menit kemudian..
"Bu, Aleetha pamit dulu ya, Assalamualaikum."
"Iya hati-hati.. waalaikumsalam." Jawab ibuku.
Ibuku mengijinkan ku untuk pergi dengan Dika. Karena ibu tahu, Dika anak yang tidak pernah neka-neka.
Di sepanjang jalan, Dika mengajakku berbicara. Mulai dari masa kecil, bahkan hal² aneh kami bicarakan. Sungguh baru kali ini aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Aku dan Dika berhenti di kafe 'ThaiTeaa' dia memesankanku tanpa bertanya apa kemauan ku.
"Mbak, saya pesan ThaiTeaa rasa Matcha 1 sama Coklat 1 ya." Ucap Dika.
Beberapa menit kemudian ThaiTeaa datang. Dika memberikanku rasa Matcha.
Hah? Darimana dia tahu kalau aku menyukai Matcha? Kesukaanku tahu, bahkan rumahku pun dia tahu. Padahal tadi aku mau menanyakan padanya arah rumahku. Tapi tiba\-tiba saja dia langsung sampai. Aneh bukan?
Setelah minum, aku dan Dika pergi ke sebuah tempat berfoto.
"Ngapain disini?" Tanyaku.
"Ya mau foto lah, masa mau makan. Hahaha." Jawabnya sambil tersenyum.
Sesudah itu, terlihat hasil foto yang sangat indah. Dika memesan dibuatkan 2. Satu untukku satunya untuk Dika.
Hari mulai agak petang, aku dan Dika kembali pulang mengantarku. Hari itu, hari yang sangaaat indah.
Hari-hari ku lalui dengan Dika. Tapi kita tidak berpacaran. Hanya dekat. Bahkan Dika juga sering bertamu ke rumahku. Berbincang dengan Ayahku, Ibuku sampai sangat akrab sekali mereka.
Ayahku pun pernah menanyakan .
"Dek, kamu sama Dika pacaran?" Tanyanya halus.
"Enggak kok yah, cuma temen biasa." Jawabku.
"Tapi kelihatannya kamu sama Dika dekat sekali nak, bahkan dia sering bertamu disini, dia baik pula." Kata Ibuku.
"Iya.. Dika memang anak yang baik. Tapi aku dan Dika tidak berpacaran kok.." Jawabku meyakinkan mereka.
"Ya udah, kamu tidur aja ini udah malam." Kata Ayahku.
Bersambung**..
__ADS_1