Cerita Cinta Kita

Cerita Cinta Kita
Baru Permulaan


__ADS_3

Hujan semakin deras, tetapi tidak dihiraukan oleh laki laki berusia matang itu. Dia terus berdiri menatap ke atas dimana ruangan Delima berada, dia bahkan sama sekali tidak memperdulikan dirinya yang sudah basah kuyub diguyur hujan.


"Delima......." teriak Vano


Bukan tak mendengar, Delima memang sengaja tidak ingin mendengarnya, sama sekali tidak berniat untuk mendengarnya


"Delima....aku tau kau mendengarku" teriak Vano


Entah sudah berapa kali Vano meneriaki nama Delima, meminta maaf, tetapi semuanya hanya sia sia saja. Delima seakan sudah tidak perduli lagi dengan manusia breng*sek seperti Vano.


"Mbak...." panggil salah satu karyawan Delima. Didalam DenZo butik hanya ada Delima dan satu karyawan wanita nya saja, sebab Kak Nei dan Jeje lagi keluar.


Delima menoleh "Kenapa?" sebenernya Delima tau apa yang akan diucapkan karyawannya itu.


"Anu...itu diluar, kasian Mas nya" Ucap Ana


Delima menghela nafas kasar "Biarin saja Na, memang ngeyel tuh orang"


"Tapi mbak....Mas Ganteng itu sudah lama berdiri disana, kehujanan lagi"


"Cieh ganteng....dari Hongkong" cibir Delima


"Udah kamu diam saja, gak usah perduliin dia" ucap Delima dengan posisinya masih berdiri menghadap kaca dengan pandangan matanya tertuju pada Vano


"Aku keluar ya mbak, mbak ingin dibuatkan sesuatu?" tanya Ana yang melihat si Bosnya belum makan apapun ketika datang ke Butik.


"Ana tunggu"


Seketika Ana langsung berhenti dan menghampiri Delima


"Kamu jangan pulang dulu ya, temenin aku disini, atau setidaknya sampai laki laki itu pergi, kabari pacarmu untuk menjemputnya nanti saja"


"Iya baik, siap" jawab Ana dan langsung keluar ruangan.


Bukan karena Delima takut jika sendirian di Butiknya, tetapi dengan keadaan ini baik Delima maupun Vano akan nekad nantinya. Apalagi Delima, jiwa bar bar nya yang sudah perlahan lahan hilang akan muncul lagi ketika dia sudah merasa geram dengan seseorang.


Cukup hatinya yang terluka, aku gak mau menyakiti fisiknya


"Delima......" teriak Vano lagi


Bahkan suara Vano sangat begitu jelas ditelinga Delima, padahal hujan disana cukup deras.


Vano begitu setia menunggu Delima keluar, bukan hanya menunggu Delima saja, tetapi Vano juga menunggu Delima memaafkannya, bahkan tatapan mata dari orang orang yang melihat ke arah Vano pun ia abaikan.


"Bodoh....laki....laki bodoh"


"Delima.....aku gak akan pergi dari sini sebelum kamu keluar dan memaafkanku"


"Bodoh!" lagi lagi Delima mengumpat Vano, lelaki bodoh yang menghabiskan waktunya siang ini dibawah guyuran hujan


Delima turun, Delima tidak mau hanya gara gara orang gila yang berdiri didepan membuat dirinya dan butiknya masuk berita besok, apalagi laki laki itu masih setia berdiri di depan butik, dengan meneriaki namanya

__ADS_1


"Del....." panggil Vano dengan senyuman ketika melihat Delima sudah berdiri dipintu.


"Stop Del! jangan mendekatiku, nanti kamu basah, aku gak mau kamu sakit" ucap Vano yang menahan Delima ketika Delima ingin melangkahkan kakinya


"Ge er, siapa yang mau mendekatimu, pede sekali"


Vano melangkah mendekati Delima, jujur Delima merasa iba dengan kondisi Vano saat ini ,basah kuyub bahkan bibirnya sudah tampak pucat


"Delima....aku benar benar minta maaf, aku tau kesalahanku sangat fatal, aku salah" Vano mengulang ulangi permintaan maafnya


Delima memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat wajah Vano yang entah mengapa terlihat begitu tampan dengan keadaan dirinya yang basah.


"Sebaiknya kamu pulang Mas!" Delima tidak mengatakan apapun kecuali menyuruh Vano pulang, dan itu berarti Delima belum memaafkan kesalahan Vano.


"Aku masuk dulu, sebaiknya kamu pulang" Delima mengulangi perkataannya, karena sedari tadi Vano hanya melihatnya tanpa berbicara.


Vano masih melihat Delima masuk tanpa mengucap sepatah kata pun, antara dirinya sudah dimaafkan atau belum, Vano juga tidak tau.


Vano masih berdiri di depan butik Delima, dan hujan masih turun dengan derasnya. Seketika kepala Vano pusing dan tidak sadarkan diri. Vano pingsan dengan sebelumnya masih meneriaki nama Delima.


Untungnya Pak Satpam yang dihubungi Delima tadi segera ke butik, karena kebetulan Pak Satpam sedang makan siang.


Pak Satpam itu lalu membawa Vano kedalam mobilnya, kebetulan juga tidak dikunci.


"Mbak.....Tuan Ganteng ini dibawa kemana? dia pingsan?" suara telepon dari Pak Satpam


Deg


"Itu pak, langsung antar kerumah sakit saja, habis itu bapak kabari orang tuanya nanti aku kirimkan nomernya"


Delima kemudian menutup teleponnya


"Dasar gila....semoga gak terjadi apa apa"


.


.


.


Lain Delima lain pula Kenzo.


Kalau Delima sedang memikirkan nasib Duda Ganteng yang tiba tiba pingsan tadi, sementara Kenzo malahan memikirkan gimana caranya agar dia bisa secepatnya bertemu dengan Amanda.


"Dim....kirim no.nya Manda!" ucap Kenzo yang dari tadi melamun memikirkan Manda dan Delima


"Yakin, mau hubungin Manda?"


Kenzo menggeleng, sebenarnya dia ragu, antara mau menemui Manda atau menunggu Manda menghubunginya saja.


"Gue harus selesaikan semuanya Dim, sebelum anak gue lahir"

__ADS_1


"Dan mungkin ini saatnya gue harus nyelesaikan urusan masa lalu gue" ucap Kenzo dengan ragu ragu.


"Percaya bro, semaua pasti ada jalan keluarnya" Dimas mencoba menenangkan Kenzo


Dimas menepuk bahu Kenzo, Dimas tau saat ini sahabatnya itu lagi galau, antara masa lalu dengan masa depannya.


"Dim...percayalah, gue menghubungi dia hanya karena ingin segera menyelesaikan urusanku dengannya dan mengakhiri semuanya"


"Gue tidak bermaksud untuk menyakiti Delima atau menghianatinya, apalagi meninggalkannya".


"Gue cuma butuh penjelasan darinya yang mungkin gue sendiri belum tau kebenarannya" lanjut Kenzo lagi dengan menatap ke arah kaca.


Sedangkan Dimas, yang dari tadi hanya senyum senyum sendiri, bukan karena menanggapi curhatan sahabatnya yang sudah kadaluarsa menurutnya, tetapi karena baru saja dia mendapatkan berita yang sangat heboh.


Merasa tidak ditanggapi, akhirnya Kenzo menghampiri Dimas.


"Sial.....gue lagi cerita, elu malahan enak enak chatingan dan mengabaikan gue"


Dimas melirik Kenzo, "Mau tau?"


"Ogah! gak penting juga"


"Hem....baiklah...kasian ya elu Delima udah gak penting lagi buat Kenzo, duh jadi pengen peluk dia deh, dan bawa kabur, sebelum keduluan ma duo kucing garong" Dimas mengatakan dengan suara agak dikeraskan, supaya Kenzo mendengarnya


"Apa maksud elu Dim? jangan berani berani elu bawa kabur Delima!"


"Cie....cie....gitu aja baper" ledek Dimas


Kenzo langsung memukul lengan Dimas "Jangan macam macam"


"Sante bro...elu sebaiknya lihat ini" Dimas langsung menyerahkan ponselnya ke Kenzo dan seketika mata Kenzo langsung melotot ketika melihat dan mendengar adegan adegan yang dari kampus hingga ke Denzo Butik.


"Elu liat kan, gimana usahanya si Duda itu untuk mendapatkan maaf dari bini elu, dan gimana usahanya si Duda itu untuk menarik perhatian dari bini elu"


"Sementara elu sendiri disini ,malahan asyik memikirkan kisah masa lalu yang belum berakhir, sampai sampai bini elu sendiri lagi dipepet si Duda, dan elu sama sekali tidak memperdulikannnya"


"Mau kemana?" tanya Dimas ketika melihat Kenzo sudah berada didepan pintu


"Jemput Delima" jawab Kenzo sembari tangannya meraih gagang pintu


"Terlambat, Delima sudah dijemput Mario"


"Breng*sek! berani beraninya dia deketin bini gue" umpat Kenzo kesal


Dimas menepuk bahu Kenzo "Jangan salahkan orang lain, salahkan diri elu sendiri"


"Coba lihat ponsel elu, Delima gak mungkin mau diajak pulang dengan orang lain kalau elu bisa dihubungin, sekalipun itu dengan Mario ataupun gue"


Benar, Kenzo langsung menghidupkan ponselnya, Kenzo baru ingat setelah dirinya mengirimkan pesan ke Manda, Kenzo langsung mematikan ponselnya, dan ternyata benar, terdapat beberapa panggilan tak terjawab dan juga pesan yang dikirimkan oleh Delima.


Kenzo meremat ponselnya, seakan menumpahkan kekesalannya ke ponselnya itu "Maaf....maafkan aku sayang"

__ADS_1


Dimas yang melihat tersenyum sinis dan membisikkan sesuatu ditelinga Kenzo "Itu baru permulaan, gimana kalau jadinya elu bener bener ditinggalkan oleh Delima"


__ADS_2