
Kenzo menarik tubuh Delima yang masih po los itu kedalam pelukannya. Menciumi wajah Delima dari kening, mata, hidung , pipi dan berakhir di bibir manis dan memabukkan itu.
"Yank,maafin abang ya, abang banyak salah ma kamu"
Delima terdiam, bukan karena tidak memaafkan suaminya, tetapi jujur Delima juga tidak tau harus bagaimana dengan situasi yang seperti ini. Bukannya tidak percaya, tetapi Delima masih ada sesuatu yang mengganjal yang memang harus dituntaskan sebelum dirinya melahirkan.
Ya waktu yang terbilang singkat untuk mengetahui apa yang terjadi dengan suaminya belakangan ini. Beberapa nama dan kejadian muncul di benak Delima
"*Amanda??"
"Panti Asuhan??"
"Kuburan*???"
Semuanya terngiang ngiang dibenak Delima, dan sudah diputuskan untuk menyuruh orang suruhannya Delima untuk menyelidiki kejadian sekarang dan kejadian beberapa tahun silam, ya yang intinya berhubungan dengan suaminya.
"Sayang mau kemana?" tanya Kenzo yang melihat istrinya ingin bangun dari ranjang panas itu
"Aku ada kuliah bang, apa abang gak ngantor?"
"Abang males yank, pengen berduaan ma kamu aja deh"
"No Bang...aku harus ngampus, lagi pula nanti ada pelanggan butik yang mau datang ke butik bang"
"Gak capek?? apa gak sakit??"
"Gak Bang, kan habis maen langsung abang bersihin, jadi gak sakit"
Kemudian Delima bergegas ke kamar mandi masih ada banyak waktu untuk dirinya mandi lagi. Niatnya hari ini ia akan membolos, tetapi diurungkan karena mendadak teringat janji dengan seseorang.
**
Setelah mengantar Delima ke kampus, Kenzo langsung menuju ke Kantor Mahendra.
"Udah balik aja bro??"
"Jam 3 gue udah nyampe apartemen"
"Terus gimana bini elu? marah? ngambek?"
Kenzo menggeleng "Delima tidak marah apalagi ngambek, tetap seperti biasanya, malahan gue dapat jatah tadi pagi" ucap Kenzo dengan tersenyum senang
"Jangan senang dulu, siapa tau Delima sengaja berpura pura untuk menutupi kesedihannya, atau malahan jangan jangan ada sesuatu yang direncanakannya"
Kenzo menggeleng "Tidak mungkin Delima melakukan seperti itu"
"Terserah, hati hati aja, kalau kalau Delima mengetahui semuanya dan meninggalkanmu"
***
"Mau makan apa La?" tanya Vano yang kebetulan siang ini bersama Laura untuk menghadiri ajakan makan siangnya
"Sama in aja ma kamu Va, biar gampang"
Laura sengaja untuk mengajak Vano makan siang , dia berniat ingin memulai kembali hubungannya dengan Vano, karena sejujurnya Laura masih sayang dan cinta ma Vano
"Katanya tadi mau ngomong, ngomong apa?"
"Nanti aja Va, kita makan dulu aja" jawab Laura.
Makanan diatas meja kini sudah habis semua, tentunya mereka bukan pesan makanan dengan porsi besar
__ADS_1
"Aku boleh tanya Va?"
"Tanya aja, selagi aku bisa aku pasti menjawabnya"
"Sebenarnya perasaanmu ke Delima gimana Va?" Laura mencoba menanyakan perasaan Vano dulu ke Delima, walau sudah tau tanpa Vano mengatakannya.
"Lucu....kamu masih tanyakan perasaanku ke Delima?? jujur ya La, dan mungkin itu akan membuat kamu sakit, Delima adalah wanita pertama yang begitu sepesial dan sangat sangat sepesial, bahkan lebih sepesial dari mendiang istriku, aku gak tau kenapa bisa seperti ini"
"Kalau kamu tanya perasaanku ke Delima, jujur sampai detik ini rasa itu tidak pernah hilang sedikitpun dari dalam hati aku, padahal aku sadar aku telah salah mencintai istri orang, dan aku juga sadar Delima tidak mencintaiku, apalagi mau menikah denganku"
"Dan maaf, jika kamu tanya perasaanku ke kamu, aku hanya menganggapmu sebagai teman saja, tidak lebih, sekalipun aku tidak akan pernah bisa memiliki Delima, tetapi aku juga gak mungkin mencintaimu"
Laura mengangguk dan mencoba tetap tersenyum padahal dalam hatinya sudah menangis sejadi jadinya.
"Kamu jangan kawatir, kita masih tetap berteman, jika kau butuh sesuatu, selagi aku bisa, aku akan bantu, dan mulai sekarang berhentilah mencintaiku dan carilah laki laki yang lebih pantas, dan lebih baik dari aku.
Ting
"Kumpul di DenZo butik ya, dan jangan bawa pasangan"
Satu pesan dari grup somplaknya, yang membuat Laura tersenyum sendiri, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu
"Kenapa?? kok aku jadi takut La??"
"Kamu jangan pikir aku gila ya Va, aku masih waras, cuma ini loh pada ngajakin kumpul tapi gak boleh bawa pasangan"
"La emang kenapa??"
"Huff dasar Pak Duda ketinggalan gosip hot deh"
Vano hanya mengeryit, tidak mendapat jawaban tetapi malahan mendapat ejekan
"La...aku boleh minta tolong?"
"Emmm.....aku nitip makanan ya buat Delima, kamu nanti ketemu kan?"
Laura mengangguk "Sana pesen dulu Va, udah tau kan makanan kesukaan Delima?"
Vano mengangguk, kemudian memanggil pelayan restoran untuk memesan makanan
***
"Tumben Ya, kamu ngajak aku makan siang diluar, biasanya setiap aku ajakin kamu pasti gak bisa"
"Maaf, dan jangan banyak bicara, makanlah yang banyak, jadi jika kelak kita bercerai aku tidak diomelin oleh orang tuamu karena kamu semakin kurus"
Deg
Alenka kaget mendengar ucapan Surya, dia berpikir jika Surya benar benar membatalkan perceraiannya, tetapi dugaan Alenka salah.
"Kamu masih mengharapkan Delima??
" Jujur aku masih dan sangat masih mencintainya, walaupun tidak ada kemungkinan lagi untukku bersama Delima"
"Syukurlah kalau kamu sadar Ya"
"Tetapi, walau aku bisa atau tidak bersama Delima, aku akan tetap menceraikanmu, maaf...carilah laki laki yang lebih baik dari aku, kamu pasti bisa melupakanku"
Alenka mengangguk pasrah, rasanya sudah tidak ada harapan lagi untuk bersama Surya
"Aku antar pulang!"
__ADS_1
"Antarkan aku ke DenZo butik, kita ada acara kumpul disana, tapi kamu jangan ikut"
"Ouh.....aku nitip makanan untuk Delima ya?"
Alenka pun mengangguk
***
Berbeda dengan Cinta, kalau Alenka dan Laura sedang menikmati makan siangnya, kini Cinta berada di mobil Mario, ya Mario menjemput Cinta pulang Sekolah, itupun tadi Cinta merengek minta dijemput
"Kak Iyo, anterin Cinta ke DenZo butik, tapi Kakak gak boleh ikut"
"Kumpul kumpul lagi?"
"Iya...gara gara kemarin gagal"
"Oke, tapi mampir ke Toko Pizza kakak dulu ya, nitip pizza untuk Delima"
Cinta mengangguk, setidaknya Mario sekarang sudah jauh lebih hangat kepadanya, tidak cuek cuek amat seperti dulu, bahkan beberapa hari ini mengantar dan menjemput Cinta.
Sedangkan Jeje dan Rima sudah dari tadi berada di DenZo butik, dan mereka berdualah yang membuat rencana untuk kumpul bersama.
***
Sementara yang punya Butik sekarang malahan berada di Kantor Mahendra. Kenzo menjemput Delima dan membawanya ke Kantor Mahendra
"Aku pulang ke Butik ya Bang? mau kumpul disana!"
"Jam berapa?"
"Satu jam lagi Bang"
"Tunggu abang sebentar ya, abang mau ketemu klein dibawah, cuma sebentar saja, nanti abang anter"
"Oke deh..."
Kenzo mengecup kening Delima, lalu keluar dari ruangannya.
"Kesempatan!!" gumam Delima
Langkah awal, Delima membuka laptop milik Kenzo, sebuah keberuntungan bagi Delima, karena laptop Kenzo masih menyala. Delima langsung membuka file demi file, terlebih foto foto yang tersimpan di laptop itu.
Delima menggeleng, karena tidak ada foto lain selain foto dirinya.
Setelah membuka tutup beberapa folder, tetapi tetap tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, akhirnya Delima pasrah dan berniat untuk menyudahi pencariannya
Tetapi, ada sesuatu yang membuat Delima begitu tertarik ingin membukanya.
Klik
Delima meng klik sebuah email, ya tentu saja itu punya nya suaminya, dan mata Delima terbelalak ketika melihat banyaknya pesan masuk dengan akun Amanda.
Lagi lagi Delima penasaran, apa saja isinya sampai segitu banyaknya, lalu Delima memberanikan diri untuk membukanya, tetapi tiba tiba terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat dengan ruangan Kenzo, dan benar saja
Ceklek
Delima langsung menutup email Kenzo, tanpa mengetahui isinya terlebih dahulu.
*****
*Ikuti saja alurnya, jika tidak suka silahkan tinggalkan saja, karena alur cerita sudah diseting sedemikian hingga.
__ADS_1
Makasih*