
"Au.....sakit sayang" Delima mencubit perut Kenzo
"Omonganmu loh Bang, anak aja masih kecil, sok sok an mau nambah lagi"
"Loh kan abang bilang nya buat bikin debay, belum tau juga bisa jadi apa enggak"
"Lagian ya yank, abang pengennya nanti setelah baby Z satu tahun, kita program lagi, abang mau kamu hamil lagi" lanjut Kenzo
"Iya, kayak kucing, ber anak terus"
Delima melangkahkan kaki nya, keluar dari kamar panas itu, dirinya berniat untuk langsung turun ke bawah, menemui anak anak nya. Tetapi langkah nya lagi lagi terhenti di depan sebuah kamar yang masih tertutup
"Bang....ini kamar nya siapa? kenapa abang belum buka ini?"
"Kamar buat anak kita yang ke tiga sayang, buka aja! tadi sengaja gak tak buka, takut kamu marah marah"
Ceklek
Delima membuka kamar itu, kamar yang luas seperti dua kamar anak nya sebelum nya.
"Sudah?" tanya Kenzo yang melihat istrinya sudah keluar dari kamar itu
Delima mengangguk lalu menatap wajah Kenzo dan menggeleng "Abang....aku gak tau harus ngungkapin perasaanku pada mu kayak gimana lagi, abang udah nyiapin semua nya , bahkan kamar yang belum ada penghuni nya juga udah abang siapkan"
"Kamu bisa membayar nya nanti malam, jujur yang tadi sangat nagih buat abang" bisik Kenzo
Delima mengangguk dengan wajah yang malu malu nya.
Setelah puas berkeliling di atas, kini Delima menuruni tangga dan menuju ke bawah. Delima melihat di ruang tamu sudah ramai.
"Mi...anak anakku mana?" tanya Delima yang memang dari tadi belum melihat anak.anak nya
dan belum mendengar tangisan nya
"Mereka tidur Del, kamu kelamaan, ngapain aja?"
Delima terdiam, mau menjawab rasa nya malu jika dia harus berkata jujur
"Habis ngisi batre Mih, biar gak nge drop, udah tiga hari nganggur" ucap Kenzo dengan tidak ada rasa malu nya
Semua melongo dan menggeleng ketika mendengar ucapan Kenzo, bisa bisa nya dia berbicara seperti itu.
Kemudian Papah Erik melihat ke arah Delima yang sedang malu malu "Pantes.....sumringah sekali"
"Lain kali kalau membuat mahakarya, di dalam saja Ken, jangan di luar seperti itu, kasian istrimu" lanjut Papah Erik
Dan semua nya langsung menatap ke arah Delima, dengan pandangan mereka mengarah ke leher jenjang Delima
"Dasar tak tau malu, di tungguin anak nya malahan enak enak an bercinta" cibir Mario
"Kakak ih....jangan gitu, aku malu"
__ADS_1
Kenzo menghampiri istrinya "Sayang, ayok abang ajak ke belakang, pasti kamu senang"
Delima mengikuti langkah kaki suaminya tapi sebelumnya Delima melihat dulu baby Z
"Anak Mams bobok nya pules banget"
"Udah jangan di ganggu dulu, kita langsung ke belakang" ajak Kenzo lagi
Delima dengan senang hati mengikuti suaminya, dan setelah sampai di belakang rumah, Delima benar benar terkejut, dari kebun sayur, taman bermain, kebun bunga hingga kolam ikan semuanya ada disana.
"Kok diem aja? gak suka?"
Delima menggeleng "Aku takjub yank, bener bener sesuai dengan keinginanku"
Kenzo meraih tubuh Delima dan memeluknya "Apapun itu, semuanya akan abang lakukan untukmu sayang"
"Makasih Bang"
"Hem...makasih saja?"
"Akan aku bayar nanti malam"
...***...
Lain Delima lain pula Vano. Setelah kepulangan Delima dari rumah sakit, atau lebih tepatnya setelah Delima meninggalkan ruangan nya, Vano tidak keluar dari ruangannya itu.
Berbagai macam rayuan yang di ucapkan Mamah Lina untuk putra nya, semua tidak lah mempan. Sudah 3 jam lamanya Vano berdiam di atas kursi kebesarannya, posisi nya masih sama seperti tadi.
Dengan semangat, entah ada angin apa, tiba tiba Vano keluar meninggalkan ruangannya, dan menuju tempat di mana pertama kali dia bertemu Vikky.
Satu jam telah berlalu, bahkan sudah hampir malam, namun bocah itu tidak juga menampakkan wajah nya.
Kemudian Vano mendongakkan wajahnya ke atas, menatap langit yang sebentar lagi akan berganti warna, dan teringat dengan ucapan Vikky
"Jika Om lagi ada masalah, atau kangen seseorang, selain berdoa, Om kesini aja dan lihat lah ke atas"
Vano melihat ke atas, seperti ucapan Vikky, dan lagi lagi, bukan wajah mendiang istrinya yang ada di pikirannya, tetapi wajah Delima
"Apa aku benar benar sangat mencintaimu, hingga saat aku tatap ke atas yang muncul hanya bayanganmu saja, sebegitukah rasa ini untukmu"
Vano terus menatap langit, dan menunggu teman kecilnya datang, tetapi yang di tunggu tidak kunjung datang
"Em...apa aku ke sana saja ya?" Vano melihat ke samping, nampak di sana ada sebuah toko roti.
"Toko Roti Bunda Aira" ucap nya lirih.
Dengan mantap Vano melangkahkan kakinya ke sabuah toko roti itu, tidak masalah baginya yang nanti hanya sekedar makan roti sambil minum kopi.
Tringg
Vano masuk ke dalam toko roti itu, tidak begitu ramai karena hari sudah menjelang magrib.
__ADS_1
Sementara Bunda Aira sedari tadi sendirian, karena pegawainya sedang keluar untuk menemani Putra nya membeli es krim
"Permisi Tuan, mau pesan apa?"
Deg
Suara lembut Bunda Aira mampu menggetarkan hati Vano, Vano yang tadi nya menatap ke arah jalanan, kini beralih menoleh ke asal suara lembut itu.
Bunda Aira tersenyum, karena baginya untuk melayani pembeli harus dengan murah senyum
Vano masih menatap Bunda Aira, seakan terpana akan kelembutan suaranya dan kecantikannya.
"Maaf...Tuan mau pesan apa?" tanya Bunda Aira lagi
Seketika Vano kaget dan membuyarkan lamunannya "Em...apa aja yang spesial di sini dan satu cangkir capuccino" ucap Vano asal.
Aira mengangguk "Tunggu sebentar"
Vano masih memperhatikan Aira, dari cara bertutur kata, cara berjalannya sangat membuat Vano tertarik.
"Silahkan Tuan, semoga suka" ucap Aira yang kembali datang tidak lama setelah pesanan Vano diambilkan
Aira meninggalkan Vano, tetapi tangannya sudah lebih dulu dipegang oleh Vano.
"Bisa temenin saya di sini?"
Aira menatap Vano dan menatap ke arah tangannya
"Eh sorry..soryy" Vano melepaskan tangannya, karena melihat Aira yang merasa risih ketika tangannya dipegang.
"Cuma nemin aja, janji tidak akan macam macam" seolah olah Vano tau apa yang dikhawatirkan oleh Aira.
Aira mengangguk, lau duduk di depan Vano "Maaf bukan maksud aku begitu Tuan? aku hanya takut" ucapnya lirih
"Takut?"
"Iya...karena statusku yang janda, jadi mereka bisa berpikir yang aneh aneh"
"Janda?" Entah mengapa berada di dekat Aira, Vano tidak bisa mengucapkan kata kata yang lebih panjang lagi
Aira mengangguk "Aku janda satu Putra"
"Satu Putra?" tanya nya lagi
"Usianya baru sepuluh tahun, dan sudah sepuluh tahun pula dia tidak melihat Ayahnya"
Aira mengatakan itu dengan berkaca kaca, walaupun sudah sepuluh tahun lama nya, tetapi dia masih tidak bisa melupakan kenangannya bersama dengan Ayah Vikky, dan entah kenapa bertemu dengan Vano membuat dirinya bisa langsung cerita.
Tring
Vano dan Aira melihat ke arah pintu, siapa yang baru masuk, dan tanpa sadar mereka bersamaan meneriakkan nama seseorang
__ADS_1
"Vikky"