Cerita Cinta Kita

Cerita Cinta Kita
Meminta Bantuan


__ADS_3

"Jadi nanti chek up?"


"Jadi Bang, ma Jeje juga"


"Maaf abang gak bisa nganterin yank, nanti pas kebetulan banget klien dari Jepang kesini dan gak bisa diwakilkan juga, gak apa apa kan?"


"Gak apa apa, lagian aku udah janjian ma Jeje juga, Kak Andre juga gak bisa nemenin katanya"


"Jelaslah, Andre kan juga ikut bisnis ma abang"


"Lagian kalian bikin jadwal gak konsultasi dulu ma abang" lanjut Kenzo


"Dadakan Bang, sekalian juga mau hang out bareng"


"Terserah kamu aja, yang penting hati hati dan jaga anak kita"


Cup


Kenzo mencium perut Delima yang sudah keliatan besar.


"Baik baik di dalam ya princess Paps"


Delima melongo mendengar ucapan suaminya, Princess??? emang abang udah tau kalau dedek perempuan??"


"Filing aja sayang, abang ngerasa dia perempuan, dan cantik kayak kamu"


Cup


Kenzo mencium kening Delima "Abang berangkat dulu"


Empat bulan sudah kehamilan Delima, dan empat bulan itu pula kehidupan Delima dan Kenzo berjalan dengan baik baik saja, begitu juga dengan Surya, dia menepati janjinya pada dirinya sendiri untuk tidak menemui Delima sampai batas waktu yang telah di tentukan.


Dan siang ini, Delima dan Jeje akan melakukan chek up rutin dan bertemu dengan Dokter Tika. Ya kebetulan juga Jeje sedang hamil, dan usia kandungannya sama dengan Delima.


Dua ibu muda cantik langsung masuk ke ruangan Dokter Tika, tidak perlu mengantri karena selain mereka sudah punya janji, Vano sang pemilik Rumah Sakit sudah memberikan memo kepada Dokter Tika, jika Delima datang berkonsultasi maka jadwalnya harus didahulukan.


"Siang mbak" sapa mereka berdua kompakan


"Siang juga, wah kalian bener bener kompakan ya"


Delima dan juga Jeje tersenyum


"Suami kalian juga kompakan gak nganterin, dan kompakan pula hubungin mbak, takut kalau mbak marahin" ucap Dokter Tika


"Hmm nyuri start mereka Del" kata Jeje dan kemudian diangguki oleh Delima


"Yaudah, Mbak periksa dulu, tapi satu satu ya"


Dua jam mereka di ruangan Dokter Tika, mereka tidak hanya sekedar konsultasi tetapi juga curhat dan makan siang bersama di sana.


"Tumben mbak ada jamuan seperti ini?" tanya Delima yang merasakan heran dengan adanya makanan di ruangan Dokter Tika


"Huumb, biasanya gue kesini juga gak ada Del"

__ADS_1


"Sepesial katanya hari ini untuk kalian berdua" jawab Dokter Tika


"Sepesial?? dari siapa mbak?? kok tumben banget??" Delima mengeryitkan alisnya karena heran


Ceklek


"Dari aku Del, kakakmu yang paling ganteng sedunia" ucap Vano yang tiba tiba masuk dan langsung duduk disamping Delima


"Hmm...narsis Pakdhe" ucap Delima dan langsung semua yang ada disana tertawa.


"Gimana, senang?? dan semua baik baik saja kan calon mantu aku??"


"Calon mantu?? jangan ngawur deh Mas, anak aku gak akan aku jodoh jodohin deh"


"Kenapa?? Vikky kan ganteng?? calon Dokter dan pewaris tunggal Keluarga Ardiansyah loh Del"


"Hmmmm emang anak aku matre, aku juga kaya loh, kekayaan Papi dan suami aku gak akan ada habis habis nya" sombong Delima


"Idih sombongnya"


Mereka yang mendengar candaan Delima dan Vano geleng geleng kepala, sudah biasa jika Vano dan Delima saling melempar candaan.


Vano perlahaan lahan sudah mulai mengikhlaskan Delima, dan kini obsesi berganti dengan menjodohkan anaknya dengan anak yang ada dalam kandungan Delima.


"Sudah siang dan sudah kenyang pula, pulang yok Je"


"Huumb...kita kayak SMP ya, Sudah Makan Pulang" jawabnya dengan cengengesan.


Kedua Bumil cantik itupun langsung keluar dari ruangan Dokter Tika.


"Jeje juga hamil" gumam Surya


Surya seketika mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuatu dan dikirimkan ke nomer Jeje.


"Bisa temuin aku?" Surya


Ting


Ponsel Jeje berbunyi, menandakan adanya pesan masuk.


"Maaf, ada urusan apa ya Pak?"


Jeje langsung mengirimkan balasan itu ke Surya


"Soal Delima, aku tau kamu sudah mengetahuinya, aku cuma minta bantuanmu, please temuin aku, dan jangan bilang ke Delima"


Jeje membaca pesan dari Surya, lalu tanpa berpikir panjang Jeje mengiyakan permintaan Surya.


****


Satu jam dari yang sudah dijanjikan Jeje ke Surya, kini mereka berada di privat room restoran Melati milik Jeje.


"Ada apa Pak?? maaf aku gak banyak waktu" ucap Jeje agak ketus, karena dia juga kesal dengan Surya

__ADS_1


"Oke, langsung saja, aku mau minta tolong ke kamu"


"Minta tolong apa?"


"Soal Delima, kamu udah tau semuanya kan?"


Jeje mengangguk, memang Delima sudah menceritakan semuanya ke Jeje.


"Bapak maunya apa?? belum puas nyakitin sahabat aku??"


"Aku tau aku salah"


"Udah tau salah, kenapa Bapak minta bantuan ke aku, aku ini sahabat Delima loh, yakin bapak aku mau bantu??"


"Kali ini aku bener minta bantuan kamu Je, gak aneh aneh, aku juga gak minta untuk ketemuan ma Delima"


"Lalu bapak mau apa?"


"Aku ingin setiap hari Delima menerima makanan atau susu atau buah buahan dari aku, udah itu aja, tidak aneh aneh"


"Aku ingin anak aku juga merasakan pemberian dari Papinya"


"Hemm...pede sekali Anda, dari mana bapak tau kalau itu anak Bapak?"


"Insting dan ikatan batin aku ma calon anakku itu Je"


Surya menyerahkan sebuah kartu kredit ke Jeje "Ini bisa kamu gunakan untuk membeli makanan untuk Delima dan juga kamu, tidak hanya makanan, apapun itu, asal Delima mau menerimanya"


Jeje mengembalikan kartu itu "Aku gak butuh, suami aku masih mampu untuk mencukupi nya Pak, Bang Kenzo juga sama"


Surya memijat pelipisnya, dia tidak tau lagi caranya gimana, sudah empat bulan lamanya dia memendam rasa ingin memberikan nafkah buat Delima dan calon anaknya, tetapi selalu tidak menemukan cara


Jeje yang melihat Surya jadi kasian, kalau memang benar itu anaknya berarti Surya juga mempunyai hak untuk memberi sesuatu ke calon anaknya itu.


"Aku akan bantu Bapak, tapi janji gak bakalan nemuin Delima, dan jika terbukti anak itu bukan anak Bapak, Bapak harus tinggalkan Negara ini dan jangan coba coba mendekati Delima lagi, apalagi merusak rumah tangganya"


"Jika anak itu anak Bapak, Bapak juga gak boleh mengambil dari Delima"


"Kasian sahabatku sudah menderita karena bapak, jangan bapak tambahin lagi penderitaannya"


"Oke...untuk yang pertama aku setuju, tapi untuk yang kedua aku tidak setuju, tetapi tenang saja aku tidak akan memisahkan ibuk dan anak itu, aku akan mencari cara supaya aku bisa bersama dengan anakku tanpa memisahkan dia dari ibunya"


"Terserah, bagiku yang penting Delima, aku gak mau dia menderita"


Surya mengangguk, untuk sekarang yang terpenting adalah bagaimana dia bisa memberikan sesuatu ke Delima.


"Lalu bagaimana cara kamu membantu aku?"


"Begini saja, bapak kirimkan saja paket makanan dan bapak titipkan ke satpam depan, nanti aku akan mengambilnya, supaya Delima tidak curiga, bapak ngririmnya porsinya agak di banyakin, seenggaknya buat pak satpam, dan karyawan di butik Delima"


"Mam*us gue kerjain, setidaknya satpam dan karyawan butik bisa dapat makan gratis"


"Aku setuju, besok aku akan kirimkan"

__ADS_1


"Oke, sudah selesai kan Pak, kalau begitu aku pamit dulu"


__ADS_2