
Jerman
Surya menatap ke arah ponselnya, melihat sosok wanita yang masih sangat cantik walaupun sudah melahirkan bayi kembar.
Walaupun sekarang Surya ada di Jerman, tetapi aktivitas di Indonesia masih tetap bisa dia pantau. Apalagi yang menyangkut dengan Delima, wanita yang berstatus istri orang tetapi masih ada dalam hati Surya dan mungkin selamanya berada di sana.
Sudah seminggu Surya berada di Apartemen nya, dan sudah seminggu juga dia tidak keluar dari sana, jangankan keluar, menemui Orang Tuanya saja enggan. Dan tentunya berita kepulangan Surya ke Jerman ini baru di ketahui oleh Orang Tua Surya baru baru ini.
"Tunggu kedatanganku di sana lagi sayang, dan semua nya akan berubah"
Surya mengecup foto Delima yang termampang sebagai walpaper di ponselnya, tak lupa juga mengecup foto kedua anak Delima
"Anak anak kamu anak anak aku juga, panggil aku Papi kelak jika kita bertemu baby Z"
Entah seakan akan mati rasa yang Surya rasakan, bahkan dirinya kini sudah tidak tertarik lagi dengan sosok perempuan. Sihir apa yang membuat Surya Gunadi tidak bisa lepas sedikit saja hatinya dari nama Delima
Hanya Delima yang dia inginkan, dahulu, saat ini dan juga besok. Hanya Delima yang dia inginkan untuk menampung benih benih anak anak Surya kelak, bahkan dia sudah menyusun rencana. Sebuah rencana jahat yang menurut orang lain, tetapi tidak untuk Surya, renacana yang begitu manis dan mengesankan seumur hidup untuk dirinya.
Hanya dengan memandang foto Delima saja, Surya bisa On. Bahkan ketika ada temannya yang menyodorinya wanita nakal dan sudah te lanjang bulat, senjata Surya tidak bereaksi. Waduh kayak Bang Kenzo dong.
Ting Tong Ting Tong
Bel apartemen Surya berbunyi
"Siapa?" gumam Surya pelan
Surya meletakkan ponselnya dan membukakan pintu. Surya terkejut karena yang datang adalah Orang Tuanya
"Papah Mamah" ucap Surya yang langsung menyalimi orang tuanya
"Surya" bentak Papah Gunadi
"Papah tidak menyangka kamu akan melakukan seperti ini"
"Maksud Papah apa?"
"Jangan pura pura Surya!" bentak Papah Gunadi lagi
Sedangkan Mamah Surya langsung masuk ke kamar Surya untuk mencari sesuatu sapa tau ada yang disembunyikan oleh Putra nya itu.
__ADS_1
"Surya beneer bener gak ngerti Pah!"
Plakk
Satu tamparan mendarat di pipi Surya. Surya memegang pipi nya yang terasa panas dan menatap wajah Papah nya.
"Tega tega nya kamu ceraikan Alenka Surya?"
Papah Gunadi membentak Surya, karena beliau baru saja mengetahui fakta bahwa Putra tunggalnya sudah menceraikan istrinya. Dan berita itu bukan dari mulut Surya sendiri, tetapi dari Kedua Orang Tua Alenka
"Hanya karena itu Papah menampar aku?"
Mata Papah Gunadi melotot mendengar ucapan Surya "Hanya? hanya kamu bilang Suryya?"
"Pernikahan bukan untuk main main Surya?" bentak Papah Gunadi lagi. Dan entah kenapa beliau jadi emosi mendengar ucapan Surya
"Bahkan Papah juga tidak pernah mengajarkan kamu untuk menyakiti hati perempuan, apalagi mempermainkan perasaannya"
Surya menghela nafas, sudah beberapa kali dia bilang ke orang tuanya kalau tidak mencintai Alenka. Bahkan Surya sampai bingung harus bagaimana lagi supaya Orang Tua nya mengerti.
"Papah...."
"Tapi Alenka...!" ucap Papah Gunadi
"Dengerin Surya dulu, Papah inget kan dari awal aku tidak menginginkan pernikahan itu? Papah bahkan juga tau kan, jika aku juga tidak mencintai Alenka?"
Papah Gunadi mengangguk, memang itu yang dari dulu beliau ketahui, tetapi sebagai orang tua tentunya Papah Gunadi menginginkan yang terbaik untuk Putra Tunggalnya, menginginkan pasangan hidup yang tepat buat Putra nya itu.
"Kalau Papah tau, kenapa Papah masih menyalahkan Surya, seakan akan Surya yang menginginkan pernikahan itu, lalu mempermainkannya, dan juga mempermainkan Alenka"
"Dan yang harus Papah ketahui, aku sama sekali belum pernah menyentuh Alenka, dan aku juga mengembalikan Alenka kepada Orang Tuanya dalam keadaan utuh, tidak kurang sama sekali, dan masih Virgin"
Deg
Papah Gunadi kaget mendengar ucapan Surya, bukan hanya tidak mencintai Alenka, bahkan untuk menyentuhnya Surya pun tidak mau.
Apa begitu besar rasa cintamu ke Delima, Surya....hingga kamu tidak membiarkan wanita lain untuk singgah di hatimu dan memiliki mu, batin Papah Gunadi
"Maaf...."
__ADS_1
Hanya itu kata yang terucap dari bibir Papah Gunadi, beliau sudah di selimuti emosi ketika mendengar Surya menceraikan Alenka.
"Papah duduklah...minumlah dulu, aku tau Papah emosi dan Papah kecewa ma aku"
Surya lalu mengambilkan minum untuk Papah Gunadi.
"Maafkan Papah, Papah terlalu egois yang mengingkan kamu menikahi Alenka, karena Papah cuma mau kamu mendapat istri yang tulus mencintaimu, bukan hanya mencintai hartamu saja"
"Kalau saja Delima belum menikah, Papah juga sangat setuju kamu dengan dia, tetapi kenyataannya tidak begitu Surya, bahkan sekuat apapun kamu mencoba menghancurkan rumah tangganya, kamu juga tidak akan berhasil memisahkan mereka"
"Papah sudah tua Surya, Papah hanya ingin melihat kamu menikah dan bahagia, Papah juga sudah ingin menimang cucu, dan tentunya dari perempuan baik baik"
Surya diam, dia mencoba mendengarkan keluh kesah Papahnya, memang semua yang dikatakan oleh Papah Gunadi benar, keluarga Gunadi menginginkan keturunan.
"Papah juga tau, kamu terpaksa menikahi Alenka, Papah berfikir lambat laun kamu bisa menerima Alenka dan mencintai nya, karena Alenka sendiri mencintai kamu"
"Papah juga berpikir, dengan kalian hidup bersama dan tinggal bareng satu atap, perasaan kamu ke Alenka akan berubah, tetapi Papah salah...kamu tidak pernah membukakan pintu hatimu untuk Alenka, dan menutup rapat rapat semua celah yang ada, bahkan kamu juga sengaja mengunci pintu hatimu, dan membuangnya"
Surya terkekeh mendengar perkataan Papah Gunadi, kemudian menghampiri Papah Gunadi dan memeluknya.
"Maafin Surya Pah, Surya sudah mengecewakan Papah"
"Tapi mau gimana lagi, hati Surya tidak bisa di bohongin pah"
"Papah tau, lupakan cintamu untuk Delima nak, jangan jadi pebinor!" seru Papah Gunadi
"Maaf Pah, untuk yang satu itu, Surya tidak bisa" jawab Surya tegas
"Terus apa kamu akan hidup sendiri selamanya Surya? Apa kamu juga tidak menginginkan anak sebagai penerus Keluarga Gunadi?" Papah Gunadi sudah kembali ke mode galaknya, setelah beliau minum dan mendengar perkataan Surya tentunya.
"Siapa yang tak menginginkan sebuah keturunan sih Pah? Bahkan tanpa Papah minta, Surya sudah ingin memproduksinya"
Papah Gunadi menghela nafasnya, dia tidak.tau dengan jalan pikiran anaknya, sudah di kasih yang halal malahan cari yang lainnya
"Jangan macam macam kamu Surya!" bentak Papah Gunadi lagi, dan entah sudah ke berapa Papah Gunadi membentak Surya.
"Perlu kamu ketahui Surya, Papah cuma menginginkan cucu dari perempuan yang baik, baik secara akhlak dan keluarga nya"
"Kalau Delima....."
__ADS_1