
"Kamu sendirian?" tanya Vano yang sudah duduk di samping bocah laki laki yang berusia sepuluh tahun itu
"Aku sendiri Om...tapi Bundaku ada di toko itu" jawab bocah kecil dengan menunjuk ke sebuah Toko Kue.
"Om sendirian juga?atau lagi menunggu seseorang?"
Vano menggeleng dengan tatapan matanya memandang ke depan ke arah jalanan yang semakin sore semakin ramai
"Om ada masalah? Om mau ini?"
Bocah itu menyerah kan satu permen sunduk yang belum dibukanya
"Kata aku, permen ini bisa membuat kita melupakan masalah yang kita hadapi dan bisa membuat kita tersenyum"
Vano tersenyum, lalu mengambil permen di tangan bocah itu
"Tapi kata Bunda, permen tidak baik buat kesehatan,, terutama untuk gigi"
"Tapi Bunda salah....bukan gak baik untuk gigi tapi gak baik untuk mata" ucap Bocah itu dengan cengengesan
"Untuk Mata?? yang benar ya Bunda kamu, tidak baik untuk gigi bukan untuk mata" jawab Vani membenarkan
"Mata Om...mata! coba permen nya Om colok di mata, apa rasanya? kan jadi gak baik!"
Vano yang mendengar itu langsung tertawa dan mengacak rambut bocah tengil itu. Bisa bisa bocah yang masih ingusan itu membuat lelucon yang tak masuk akal
"Om buka ya?" Vano membuka bungkus permen, kemudian memasukkannya ke mulutnya "Rasanya lumayan juga"
"Awas kalau gigi Om ompong, Om kan udah tua" ledek bocah itu
"Enak aja...Om masih muda...lagi an Om punya Rumah Sakit jadi Om bisa minta periksa Dokter di sana"
"Om sombong sekali, tapi Om bukan Dokter kan?"
Vano nampak kesal sekaligus terhibur dengan adanya bocah tengil ini "Darimana kamu tau kalau aku bukan Dokter?"
"Sudah jelas terlihat kalau Om bukan Dokter, Om gak pake baju putih putih seperti Pak Dokter" jawab bocah kecil itu dengan polosnya
Bocah itu mengira jika seorang Dokter kemana mana harus memakai baju putih, kalau tidak baju putih berarti bukan Dokter.
"Kalau aku besar nanti, aku ingin menjadi Dokter, menyelamatkan nyawa orang"
"Kenapa kamu ingin menjadi Dokter?"
"Aku ingin mengobati orang sakit dan menyelamatkan nyawa orang, aku gak mau mereka sedih karena kehilangan orang yang disayangnya, seperti aku..."
Sampai di sini Vano belum mengerti apa yang terjadi dengan bocah ini
"Umur kamu berapa?" tanya Vano sekedar basa basi
__ADS_1
"Sepuluh tahun Om"
Vano mengangguk dan masih menikmati permen sunduk itu dengan hati yang tak menentu
Lumayan juga permen nya
"Oh ya nama kamu siapa?"
"Vikky Om, kalau Om?"
"Vano, panggil saja Om Vano"
"Kamu kenapa disini?Apa orang tua mu tidak memcari mu?" tanya Vano lagi
Vikky menggeleng "Bunda sibuk, ngurus toko kue sendirian"
Vano mengangguk "Ayah kamu?"
Vano bertanya kepada Vikky karena dari tadi yang dia sebutkan hanya Bundanya saja
"Ayah ada di sana Om" Vikky menunjuk ke atas, ke langit.
Vano paham kemudian merangkul bocah tengil itu "Kita sama"
"Ayah Om juga ada di atas?"
"Bukan...tapi istri Om"
"Om belum punya anak"
Mereka terdiam, dengan pikiran masing, seketika Vano meliri ke arah Vikky, memandang wajah bocah malang itu, masih usia sepuluh tahun tapi sudah tidak bisa merasakan kasih sayang orang tuanya lengkap, dan kini hanya Bunda nya yang mungkin harus berjuang keras untuk merawat, membesarkan dan membiayai anak ini sendirian.
"Om..." panggil Vikky
"Apa?"
"Lihatlah ke atas!"
Entah kenapa Vano juga nurut dengan Vikky, dan matanya langsung mendongak ke atas. Kini Vano dan Vikky sedang menatap langit, entah apa yang ada dipikiran anak ber umur sepuluh tahun itu.
"Om percaya gak, kalau Ayahku dan Tante Cantik lagi melihat kita dari atas?"
Vano menggeleng dan matanya masih tetap memandang Vikky "Kamu percaya?"
Vikky mengangguk "Kata Bunda, kalau aku kangen Ayah, selain sholat dan mengirimkan doa untuk Ayah, aku juga bisa lihat ayah di atas, makanya jika aku sedang sedih atau kangen Ayah, aku selalu melihat ke atas"
"Dan kata Bunda, Aku harus jadi anak yang baik, pintar, berbakti dan tidak sombong, aku juga tidak boleh nakal, karena Ayah selalu melihat aku dari sana, kalau aku nakal, Ayah akan marah" Tunjuk Vikky ke langit yang sebentar lagi menjadi gelap
"Jadi, kalau Om kangen dengan Tante Cantik, selain Om sholat dan berdoa, Om juga harus liat ke atas, karena Tante Cantik ada disana dan melihat Om"
__ADS_1
Seketika Vano langsung memeluk Vikky, dan Vikky juga membalas pelukan Vano, terasa hangat dan nyaman yang dirasakan oleh keduanya.
Anak ini memang hebat, di usia yang masih sangat muda, dia sudah bisa bersikap dewasa, tidak cengeng dan ikhlas menerima Takdirnya sebagai seorang Yatim, dan aku jadi penasaran dengan Bundanya, wanita single parent yang pasti hebat tentunya.
"Dari mana kalau istri Om itu cantik?" tanya Vano yang mencoba menghibur Vikky dengan pertanyaan yang tidak penting
Bukannya menjawab, Vikky malaha menatap Vano "Gak mungkin kan, Om yang ganteng ini mempunyai istri yang tidak cantik?"
"Kamu benar, istri Om Cantik dan sangat cantik" Vano lalu membayangkan wajah mendiang istrinya, tetapi yang ada malahan wajah Delima yang melintas di pikiran Vano
Kenapa wajahmu yang selalu hadir di ingatanku Delima, bahkan ketika aku membayangkan orang lain, kamu yang selalu hadir.
"Em...Om boleh tanya?"
Vikky menangguk "Tanya apa Om?"
"Ayah kamu meninggal kenapa?"
"Kata Bunda, Ayahku meninggal karena kecelakaan, dan saat itu Dokter terlambat menangani ayahku"
"Maka dari itu, aku ingin menjadi Dokter supaya bisa menolong nyawa orang dan tentunya Ayah ku juga akan bangga"
"Kata Bunda? jadi kamu tidak melihat sendiri?" tanya Vano hati hati dan penasaran, takut takut kalau Vikky sedih ketika mengingat Ayah nya
"Iya kata Bunda, karena aku gak tau Om, waktu itu aku masih di dalam kandungan Bunda"
"Dan setelah aku besar, Bunda yang menceritakan semua kepada ku" lanjut Vikky lagi
Astagfirullah, aku gak bisa bayangkan bagaimana kehidupan anak ini dulunya, dan Bundanya tentunya
Vikky memandang Vano yang dari tadi terlihat iba dan kasihan dengan dirinya
"Om jangan mandangin aku kayak gitu, aku udah gak apa apa, jangan kasian sama aku"
"Oh ya Om, jam berapa sekarang?"
Vano melihat jam yang ada ditangannya "Jam 5"
"Sudah jam 5 rupanya, sudah mau magrib, kalau begitu aku pamit ya Om"
Tak lupa Vikky mengambil tangan Vano dan salim padanya
Deg
Rasanya dia seperti anakku
"Kalau Om kangen aku, datanglah ke sini, aku setiap sore selalu ke sini"
Vano mengangguk dan mengusap lembut kepala Vikky
__ADS_1
"Atau Om bisa cari aku di Toko Kue Bunda Aira" tangan Vano menunjuk lagi ke sebuah Toko Kue itu
"Nanti aku kenalin dengan Bunda, Bunda ku sangat cantik"