Cerita Cinta Kita

Cerita Cinta Kita
Episode 4


__ADS_3

"Kamu kenal siapa mereka?"


"E.. udah gak usah dibahas, nanti malah tambah pusing mikirinnya."


Ting.. Ting.. Waktunya masuk kelas.(Bunyi bel)


"Eh yaudah, kamu masuk kelas aja." Kata Dika seraya meninggalkanku.



" Siapa sosok wanita kemarin? Kenapa dia bilang supaya aku menjauhi Dika? Apakah dia pacarnya?"



Akhirnya, aku menceritakan semua masalah ini kepada Dina melalui WhatsApp.


Dina merespon, dan pikirannya pun sama sepertiku. Dina berfikir, mungkinkah dia pacarnya Dika. Hal ini masih menjadi pertanyaan.



Akupun berniat menanyakan ini kepada Dika melalui pesan.


"Dik,"



"Ada apa Let?"



"Itu lho yang kemarin itu siapa? Kamu pasti kenal kan?"



"Itu Maya. Temen satu jurusan."



"Oh.. dia kok ngomong kayak gitu ke aku? Dia suka sama kamu mungkin?"



"Gak mungkin lah.. udah gak usah dipikir lagi. Besok\-besok kalo Maya dateng ke kamu, panggil aku aja. Nanti biar aku yang ngurus dia."



"Ya udah. Emang kamu pahlawan? Pakek ngurus² segala." Jawabku dengan emoticon tertawa.



"Iyalah... Pahlawan bagi Aleetha."



"Hehh.. paling ya Pahlawan kesiangan."



"Terserah kamu Aleethaa."



Hari keesokannya di kampus, aku melihat Dika sendirian di bangku Taman. Baru saja aku melangkah, eh.. datanglah wanita kemarin (Maya) menghampiri Dika. Uhh!!! Kesalnya!


Akhirnya aku mengurungkan niat untuk bertemu Dika. Tapi sengaja jarakku agak dekat dengan mereka supaya aku tahu apa yang mereka bicarakan.


"Dikaaa... Aku datang." Ucap Maya.


"Apa?" Jawab Dika singkat.


"Ini.. ada makanan kesukaan kamu. Dicoba ya.."


"Makasih."


"Ih.. kok cuek sih!"


"Lagi sibuk baca juga!"


"Eh Dika.. nanti sore kita jalan yuk! Ke tempat waktu kita SMP itu lho.." Ajak Maya.


"Mau ngapain ih!"


"Ayolah... Dik."


"Oke."


Hah? Tidak salah dengar? Katanya tempat biasa waktu SMP? Berati mereka pernah dekat?


Hatiku yang mendengarnya terasa agak hancur. Sungguh sakit, meski aku bukan sosok istimewa baginya. Tapi, aku sudah terlanjur mencintainya. Bagaimana ini....


Di sore hari, tepat waktu Dika dan Maya untuk pergi, sengaja ku telfon dia untuk memastikan.


"Halo, ada apa Let?"

__ADS_1



"Enggak apa\-apa, kamu lagi ngapain?"



"Ee.. ini lagi diluar, ada apa?"



"Oh.. kemana? Sama Siapa? Tumben kamu keluar sore\-sore begini." Tanyaku.



"Ini ke.. warung makan. Sama Keluarga. Ya mereka ngajak, masa iya aku tolak."



\(Kamu mau makan apa Dik?\) Terdengar di sela\-sela telfon pembicaraan ku, ada suara perempuan yang ku yakini itu Maya.


Tiba\-tiba Dika langsung menatikan teleponku. Aneh bukan? Dia berbohong padaku. Baru kali ini sikap Dika aneh.


Huwaaaaaa... Jangan sampai sikap Dika berubah hanya karena masa lalunya.



Keesokan harinya, aku didatangi Dika di bangku baca.


"Aleetha.. hai." Sapanya.


"Hai."


"Baca apa itu?"


"Bukulah! Masa iya kayu!"


"Eh.. biasa aja lah.."


"Itu kemarin sore aku telepon belum selesai kenapa ditutup begitu aja?"


"Oh.. itu, waktu itu aku dipanggil Mama aku, terus aku matiin daripada nanti dikira anak nggak sopan."


Betul bukan? Dika membohongi ku. Tanpa pikir panjang, tanpa seuntai kata, aku langsung meninggalkan Dika.


"Eh.. Letha! Mau kemana?"


Tak ku gubris perkataannya.


~


Di kantin, lagi-lagi aku bertemu Maya. Huhh!! Benci aku bertamu dengannya!


"Eh.. Putri kesayangan ada di kantin. Sendirian ya? Uhh kaciannn." Ucap Maya mendekati diriku.


Aku hanya diam berpura-pura tidak mendengar ucapannya.


"Heh!! Lo itu Bu**g apa gimana sih! Diaja ngobrol pura-pura gak tahu!"


"Oh.. Teh Maya to.. sini duduk Teh." Jawabku dengan nada agak lebay.


"Tah.. teh.. tah.. teh.. emang minuman? Udah tahu ini ratu, dipanggil teh!"


Aku yang mendengarnya menahan tawa. Ternya dia tidak paham maksud kataku.


Seperti biasa, Maya mengomel ngomel bicara keras supaya orang-orang tau. Ah! Biarkan saja. Tapi ada lelaki kemarin yang pernah membelaku datang mendekatiku.


"Mau buat masalah apalagi May?" Ucapnya.


"Upsi... Pangeran pembela kebenaran datang.. aduhh takyutt akuu.." Jawab Maya seraya meninggalkanku.


"Kamu nggak apa-apa kan?" Tanya lelaki itu. Ya, lelaki bertubuh tinggi, dari wajah cukup lumayan, entah aku belum mengenalnya.


"Gak apa-apa kok. Oh iya, kamu siapa ya? Yang kemarin itu kan?"


"Syukurlah.. Aku Adit. Iya yang kemarin."


"Oh.. Iya."


"Kamu kenal sama si Dika? Kelihatannya kemarin dia bela kamu juga."


"Iya.. aku temen SMA nya. Kamu siapanya?"


"Owalah.. aku teman SMP nya."


"SMP? Berati kamu juga satu sekolahan sama Maya? Kalo boleh tahu, dulu Dika sama Maya dekat ya?"


"Iya.. emm emang dulu Dika pernah dekat. Tapi nggak tau gara-gara apa Dika kepincut. Padahal Maya orangnya dari dulu sombong, kasar, gak pernah berubah."


"Hah? Beneran? Kok bisa ya. Eh terus sekarang Dika sama Maya gimana hubungannya?"


"Hubungannya... Ya, Dika masih agak cuek, cuman kayaknya bakal balikan lagi deh."


"Berati udah pernah pacaran?" Tanyaku.

__ADS_1


"Iya.. emang kenapa?"


"Oh.. nggak apa-apa, makasih ya informasinya."


"Iya, lain kali hati-hati sama si Maya."


"Okeee."


Pacaran? Dekat? Masa lalu? Hanya itu yang selalu menghantui pikiranku saat ini. Kecewa? Iya. Cemburu? Berhakkah? Aku takut jika Dika kembali pada masa lalunya.



"Let. Nanti aku ke rumah kamu ya." Pesan dari Dika.



"Iya Dik. Aku dirumah."



Satu jam kemudian..


Ting.. tong.. bel rumah berbunyi, aku membuka pintu, kulihat Dika sudah datang.



"Masuk Dik, duduk dulu."



Ku langkahkan kaki ke dapur untuk membuatkannya minum.



"Ini Dik diminum."



"Oh iya makasih Let." Ucapnya dengan senyuman.



"Dik boleh aku tanya sesuatu?"



"Tanya apa? Boleh."



"Kamu waktu sore\-sore pergi sama Keluargamu, itu beneran keluarga?"



"Iyalah.. emang mau siapa lagi? Masa iya sama Bu Umi."



"Emm tapi kok aku dengar suara perempuan ya Dik?"



"Ah palingan cuma perasaan kamu aja."



"Oh iya Dik, kamu waktu SMP juga sama si Maya kan?"



"Iya. Kamu tahu darimana?"



"Dari teman\-teman kamu. Emm.. kamu pernah dekatkan sama si Maya?" Tanyaku sambil menundukkan kepala.



Dika hanya diam terpaku menatapku. Mungkin pertanyaan ku ini membuatnya curiga.



"Eh May, kamu bisa bantuin aku bikin laporan gak? Soalnya aku masih rada bingung." Jawabnya mengalihkan pembicaraan tadi.



"Iya, aku bisa bantu kamu."



Ya Tuhan.. apa yang aku rasakan ini? Mengapa Dika tidak jujur padaku? Atau mungkin Dika takut jika aku marah? Ini lebih sakit dari sebelumnya.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2