
Kenzo menepuk jidadnya sendiri, ketika istrinya menginginkan makanan yang aneh aneh
"Mending bini elu ngidam nya pengen makanan langka, coba juga kalau pengen laki baru, apa gak kemut kemut tuh elu Ken"
Kenzo mengangguk, "Bener juga elu Dim, tapi gue heran ni anak, anak Sultan tapi tiap kali pengen sesuatu yang berbau khas ndeso, heran gue, bener bener ajaib"
Delima keluar dari kamar mandi, dan mendapati suaminya malahan asik mengobrol dengan asistennya
"Bang, katanya mau nyariin aku SPG itu, kok masih disini sih"
"Kita bertiga udah laper!" ucap Delima dengan mengelus perutnya "Sabar ya dek, bapakmu gak peka"
Kenzo menghampiri Delima "Gak gitu sayang, yaudah abang pergi nyari ya, kamu ditemanin Dimas, biar gak digondol si sableng"
Setelah bernegosiasi yang lama, akhirnya Delima dengan terpaksa mengikuti perintah suaminya, untuk tidak mencari si Spg itu sampe di stasiun Gambrengan, bukannya gak mampu untuk kesana, sekelas Sultan Kenzo Mahendra tinggal tunjuk aja udah didepan mata, tetapi masalahnya lain, kondisi istrinya yang tidak memungkinkan untuk dirinya membawa tiga orang nyawa itu melakukan perjalanan jauh.
Delima menghampiri Dimas yang sedang duduk santai di sofa., tentunya setelah suaminya mencari makanan yang namanya Spg itu, maklum lah Sultan gak begitu ngeh makanan rakyat, padahal enak banget, ntar deh kalo dah ngrasain pasti ketagihan
"Boleh tanya?" ucap Delima tanpa basa basi dan langsung ikut duduk disamping Dimas
"Tanya apa?" Dimas pura pura gak ngerti, padahal sebenarnya Dimas tau apa yang ingin disampaikan oleh Delima, ditanyakan lebih tepatnya.
"Kakak bisa jawab jujur atau enggak?"
"Tergantung"
"Tergantung bagaimana? aku gak ngerti!"
"Tergantung bagaimana pertanyaan dan jawabannya itu"
"Terkadang seseorang itu memang harus berbohong untuk menutupi sebuah kejujuran, tetapi tentunya dengan alasan yang masuk akal dan bisa diterima dengan logika, tetapi kejujuran itu juga sangat diperlukan" ujar Dimas yang sebenarnya secara sadar atau tidak sudah membuka lembaran kelam masa lalu suami Delima
"Berarti berbohong untuk menutupi kebohongan gitu"
"Ya seperti itulah kira kiranya, walaupun kebohongan itu sangat menyakitkan tetapi ada kalanya memang harus dilakukan, untuk melindungi seseorang misalnya"
Delima masih mematung, ragu ragu antara mau menanyakan atau enggak, takut juga jika jawabannya juga seperti yang diutarakan Dimas tadi, tergantung
Tergantung apa coba, tergantung di pohon ciplukan
"Kak Dim...." panggil Delima
"Apa?" menjawab tapi matanya memandang layar ponselnya, sejujurnya jika berada didekat Delima ada rasa tidak tega dan khawatir, kalau kalau Delima menanyakan tentang sesuatu yang tidak seharusnya dia ketahui sekarang ini.
"Amanda" satu kata lolos dari mulut Delima
__ADS_1
Dimas yang dari tadi bermain onet seketika lengsung mematikan permainannya itu, Dimas kemudian menatap Delima meminta penjelasan dari sebuah nama yang diucapkannya tadi
"Amanda? siapa?" tanya Dimas pura pura gak ngerti aja
Delima mengeryitkan alisnya, gantian dia yang menatap wajah Dimas
"Seharusnya aku yang bertanya, dia siapa? ada hubungan apa dengan Bang Kenzo?"
"Amanda siapa? aku malahan gak tau, aku juga baru tau dari elu"
Delima menatap kembali mata Dimas, kali ini benar benar sangat tajam, bahkan lebih tajam dari silet.
"Ini...yang dinamakan berbohong untuk menutupi kebohongan" seru Delima
"Aku gak tau, apa yang elu maksud, jadi jangan menyimpulkan yang tidak tidak"
Delima menghela nafas "Oke...kak Dim lolos"
"Aku cuma mau tau siapa Amanda itu, aku tau dia bukan sekedar temannya Bang Ke, tetapi aku rasa ada sesuatu yang disembunyikan dari Bang Ke, dan juga Kak Dimas"
Dimas masih mematung, memang dia akui kalau wanita disampingnya ini punya insting yang sangat kuat, tetapi Dimas juga tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya, disamping kondisi Delima yang tidak memungkinkan, Dimas rasa untuk kasus ini yang lebih berhak bercerita adalah Kenzo sendiri, sang pemeran utama
"Bener kakak gak tau siapa Amanda?" tanya Delima lagi
"Jujur Del, gue taunya Amanda itu ya cuma temannya Kenzo, untuk teman seperti apa, gue sendiri gak ngerti"
Waduh gawat mulut gue gak bisa dikondisikan, gue salah ngomong
"Bu--bukan gitu Del, tidak se--"
"Oke..aku tau sekarang, kalau Kak Dimas gak mau ngasih tau ma aku, aku gak apa apa, akan aku cari sendiri"
"Tapi...jika yang aku dapatkan itu terlalu menyakitkan, maka jangan salahkan aku untuk membenci kakak apalagi Bang Kenzo, bahkan aku juga tidak segan segan untuk meninggalkannya jika dia dengan sengaja membohongiku"
"Ingat itu Kak Dim, kalau perlu katakan pada Bang Ke, AKU AKAN MENINGGALKANNYA JIKA DIA TIDAK JUJUR PADAKU" Delima menekankan kata kata terakhirnya.
Satu tetesan bening lolos dari matanya, Delima tidak suka dengan apa yang namanya kebohongan, sekali berbohong maka dia akan melakukannya lagi.
Dan Dimas, dia hanya diam seribu bahas, tidak tau lagi apa yang haris di lakukan atau dikatakannya
Deg
Deg
Sama halnya dengan Delima, Kenzo yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan istrinya dengan Dimas, lalu meneteskan airmata, kemudian badannya merosot ke lantai
__ADS_1
Niatnya dia berbalik menemui Delima untuk menanyakan Spg nya pake nasi apa lontong pun tidak jadi, sudah keduluan dengan Kenzo mendengarkan pembicaraan Delima dan juga Dimas
Hei bambang Kenzo yang tampan, sejak kapan namanya Spg itu pake lontong, kalo pake lontong bukan Spg namanya tetapi Lpg (Lontong Pecel Gambrengan)
Kejujurannya akan membawa malapetaka, dan kebohongannya akan membawa kehancuran
"Sayang maaf....maaf aku tidak sanggup membuat kamu kecewa, tetapi aku juga tidak sangup kehilangan kamu"
Setelah dirasa cukup untuk menenangkan diri, Kenzo kemudian berdiri untuk segera mencari si Spg itu.
"Aku akan menjelaskan itu semua Del, tetapi bukan untuk saat ini"
.
.
.
Lelaki tampan sedang berjalan masuk ke dalam Rumah Sakit, untuk sepersekian detik mata mereka saling bertemu, sorot mata yang sama sama tajam, sama sama memendam rasa kebencian.
Kenzo berjalan melewati Vano begitu saja, tetapi langkah kaki Kenzo terhenti setelah sebuah suara menghentikannya
"Pengecut!!!"
Kenzo menatap Vano dan mengepalkan tangannya
"Aku memang pengecut, aku akui itu!!"
"Tetapi kau!!" tunjuk Kenzo tepat didada Vano
"Apa yang kamu lakuin jika diposisiku? apa kamu akan berterus terang lalu kamu akan kehilangan segalanya...."
"Apakah kamu juga akan menyaksikan beberapa nyawa hilang begitu saja dengan kamu mengatakan yang sejujurnya??"
Vano diam...benar benar pertanyaan Kenzo ini tidak dapat ia jawab, jujur jika dia jadi Kenzo mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama, berbohong untuk menutupi kebohongan, dan bukan tanpa alasan dia melakukan itu pastinya
"Apa???? kamu gak bisa jawab kan???"
"Aku lebih baik dicap sebagai pengecut, daripada aku harus kehilangan nyawa istri dan juga anak anakku"
"Aku tau aku salah, tetapi kejadian itu terjadi sebelum aku menikah dengan Delima, dan aku juga baru tau jika Manda masih hidup"
"Kalau kau tidak tau apa apa jangan sok sok an ikut campur, dan aku juga yakin, kamu juga gak akan memberitahu Delima masalah ini, karena aku tau kamu juga gak mau kehilangan Delima, kamu mencintai Delima, ya Delima istri Kenzo Mahendra"
"Dan satu lagi yang aku tekankan pada Anda Tuan Galvano, aku Kenzo Mahendra selamanya tidak akan melepaskan istriku, Delima"
__ADS_1
"Camkan itu!!!!!"