
"Mas.....aku??"
"Sudahlah Ai gak apa apa, yang penting kesehatan kamu"
"Tapi aku gak bisa punya anak lagi Mas!!"
"Hiks.....hiks....hiks..."
Vano memeluk Aira, dan Aira menangis dipelukan suaminya.
Aira baru saja kehilangan bayi yang didalam kandungannya yang masih berusia 4bulan, bukan hanya itu, karena benturan keras diperutnya, mengakibatkan Dokter harus mengangkat rahim Aira.
"Tapi mas....aku tidak bisa hamil lagi, bagaimana aku harus memberikan keturunan ma kamu Mas?"
Aira menangis sesenggukan di pelukan Vano, bukan hanya Aira saja yang merasakan kesedihan itu, tidak dipungkiri Vano juga merasakannya. Harapan Vano untuk mendapatkan keturunan kini sia sia sudah.
"Ikhlaskan Ai...semua sudah diatur oleh Nya, kita manusia hanya bisa pasrah" ucap Vano dengan mencoba menahan air matanya
"Bagaimana dengan Mamah Mas?? pasti beliau kecewa ma aku?"
"Mamah gak kecewa sayang"
Suara Mamah Lina terdengar oleh Vano dan juga Aira. Bohong jika Mamah Lina tidak bersedih atas apa yang menimpa menantunya itu. Mamah Lina sebenarnya sudah berada didepan pintu dari tadi, tetapi Vano dan Aira tidak melihatnya
"Mamah...." Aira memanggil Mamah Lina dan langsung memeluk Mamah Lina
"Maafkan Ai Mah, Ai tidak bisa menjaga calon cucu Mamah, kalau saja waktu itu Ai tidak......"
"Jangan diteruskan Ai, bukan salah kamu, semua sudah di takdirkan" ucap Mamah Lina dan langsung kembali memeluk erat menantunya.
"Tapi Mah......"
Seakan Mamah Lina tau akan apa yang ingin di katakan oleh menantunya "Mamah masih punya Vikky, dia cucu Mamah, dia yang akan mewarisi semua kekayaan milik Vano"
Bukannya tersenyum, Aira malahan semakin menangis ketika mendengar ucapan Mamah Lina. Dia sangat terharu mendengarnya. Vikky yang bukan siapa siapa nya, ternyata malahan diaanggap sebagai cucu kandung Mamah Lina sendiri.
Aira melihat ke arah Vano "Apa Mas Vano nikah lagi aja...."
Vano yang mendengar ucapan itu langsung menghampiri Aira
"Jangan ngawur kamu Ai, aku gak akan lakuin itu, kita sudah mempunyai Vikky"
Kalaupun aku mau, itu cuma sama Delima, gak mau dengan orang lain. Tapi itu gak mungkin
"Maaf Mas....maaf"
Vano kembali memeluk Aira "Jangan kamu ulangi itu lagi Ai, aku gak suka"
Aira mengangguk dan melepaskan pelukan Vano "Vikky mana Mas?" tanya Aira yang dari tadi memang tidak melihat Vikky
Ceklek
Pintu ruangan Aira di buka, terlihat di sana seorang anak laki laki berusia 11 tahun.
"Bunda....aku di sini" teriak Vikky dan langsung memeluk Bunda Aira
"Dari mana?"
__ADS_1
"Dari taman, dan tadi ketemu ma Om dan Tante cantik"
"Om dan Tante cantik? siapa Vik? jangan bilang kamu lupa namanya?"
Vikky tersenyum, dan memang benar kalau dia lupa dengan nama Om dan Tante itu
"Hem...kebiasaan deh" ucap Bunda Aira dengan mencubit hidung Vikky
"Vikky memang lupa nama Bun, tetapi Vikky tidak lupa siapa Om dan Tante itu"
"Siapa emangnya?" tanya Vano
"Itu loh Pah, Tante cantik yang punya adek bayi kembar, yang dulunya Papah pernah ngajak aku ke sana"
"Tante nya cantik banget" lanjut Vikky lagi
Vano dan Aira sama sama menatap, dan tau apa yang dimaksudkannya
"Delima" ucap mereka bersamaan
"Ah iya, itu Tante Delima"
"Ketemu di mana sayang?" tanya Bunda Aira
"Ketemu di depan tadi Mbak"
Vano dan Aira menoleh, lagi lagi mereka dikejutkan dengan suara tanpa orang
"Eh Del, masuk"
Delima masuk dan menghampiri Aira, sebelumnya salim dulu dengan Mamah Lina yang sudah dianggap sebagai Mamah nya sendiri
"Yang sabar ya mbak" ucap Delima dengan memeluk Aira
Aira memeluk lalu melepaskan pelukannya
"Kamu udah tau Del, kalau mbak....."
Delima mengangguk dan tersenyum
"Pasti Mas Vano yang memberitahu?"
"Iya mbak" lirihnya pelan
Aira melirik ke arah Vano "Hmmm....kamu ya mas"
Vano tersenyum, memang kenyataannya memang begitu, walaupun sudah beberapa bulan menikah dengan Aira, namun perasaanny ke Delima masih tetap ada.
Kenzo yang mengerti situasi seperti itu kemudian mengajak Vano untuk keluar
"Kita ngopi bareng yuk" ajak Kenzo
Tanpa menunggu lama, Vano langsung mengangguk menyetujui ajakan Kenzo
"Mams, abang ngopi dulu" Kenzo mendekati Delima dan mengecup keningnya, dengan melirik kr arah Vano, Kenzo yakin sampai sekarang Vano masih suka ma istrinya, apalagi dia tau kalau Aira sudah tidak bisa hamil lagi.
Delima mengangguk dan juga malu, karena di sana selain ada Vikky juga ada Mamah Lina.
__ADS_1
Sedangkan Vano memalingkan wajahnya karena melihat kemesraan Kenzo dan Delima. Jujur dalam hati Vano masih ada rasa untuk Delima, rasa yang sama seperti dulu, tetapi sekarang bisa apa.
"Del....baby Z gak kamu ajak, sekarang sudah bisa apa dia?" tanya Aira dengan wajah yang sendu, seketika itu juga mengingat calon bayi nya yang sudah tiada.
"Di rumah Mbak, sudah bisa jalan"
"Pasti lucu ya Del, punya anak umur segitu"
"Iya mbak" Delima hanya menjawab sekedarnya saja, bahkan dia tidak mau menceritakan tingkah baby Z yang begitu menggemaskan. Dia tau kalau kondisi Aira saat ini tidak memungkinkan untuk mendengar kabar bahagia
"Tante....kapan disini ada adeknya lagi?" tanya Vikky dengan menunjuk perut Delima
"Emangnya kenapa sayang?" tanya Delima yang sudah jongkok supaya sejajar dengan tinggu Vikky
"Vikky mau ma dedek bayi yang ada diperutnya Tante, Vikky mau dedek jadi pacarnya Vikky"
Delima menepuk jidadnya "Sama dedek Kenza gak mau?"
"Gak mau Tante, mau nya ma dedek yang ada diperut Tante nantinya, pasti cantik banget"
"Tapi dedeknya belum ada sayang, iya kalau cewek? kalau cowok gimana?"
"Pasti cewek dan pasti cantik, ya pokoknya kalau ada dedek di perut Tante cewek, maka dedeknya harus milik Vikky ya"
Delima, Aira dan Mamah Lina langsung tertawa
"Vikky.....vikky, Tante Delima belum hamil lagi aja ngomong kamu udah seperti itu" ucap Aira
Lalu Aira melihat Delima "Maafkan Vikky ya Del, kalau ngomongnya ngawur"
"Gak apa apa Mbak Ai, memang aku dan Bang Kenzo rencana mau program lagi"
...***...
Sementara didalam kantin, dua orang laki laki berbeda usia sedang menikmati kopinya di siang hari.
"Ken...boleh gak aku pinjem Delima" ucap Vano
"Gak, Delima bukan barang" Kenzo menatap wajah Vano
"Kamu tau kan, kalau Aira tidak bisa mempunyai anak lagi dan aku menginginkan sebuah keturunan"
"Aku mau Delima"
"Aku mau dia mengandung anakku, terserah mau cara langsung atau tanam spe*ma"
"Aku cuma mau dia"
Mata Kenzo dan Vano bertemu, Vano dengan penuh keyakinan dan keberanian mengatakan itu, sedangkan Kenzo menatap Vano dengan penuh amarah
"Breng**k"
"Ba**ngan kamu"
Bugh
Kenzo memukul Vano, kemudian pergi meninggalkan Vano yang masih diam memegangi pipinya
__ADS_1