
Jedeerr
Mendengar berita itu Kenzo seketika lemas, dadanya terasa sesak, badannya tiba tiba merosot dan jatuh ke lantai
"Mari Bos, saya antar" ucap Laki laki bertubuh kekar itu, dan tanpa menjawab Kenzo langsung ikut dengan mobil anak buahnya tadi.
"Breng*ek..!! bisa nyetir gak kamu sih? bisa ngebut gak!! bentak Kenzo
Air mata Kenzo sudah menetes, dia berkali kali mengucapkan permintaan maaf kepada istrinya
"Delima...maafkan aku....maafkan aku, bertahanlah sayang"
.
.
.
Dirumah Surya
Surya yang baru selesai mandi, mendengar ponselnya berbunyi, seketika itu langsung mengambil ponselnya
"Boby" gumam Surya, perasaan Surya sudah tidak enak karena Boby adalah orang suruhannya yang ditugaskan untuk menguntit sekaligus melindungi Delima. Dan juga tidak biasa biasanya, si Boby nelpon, biasanya kalau memberi laporan hanya lewat pesan
Surya langsung menekan tombol hijaunya
"Hallo"
<^>
"Apa??!!"
Setelah menerima telpon dari Boby, Surya lalu bergegas mengambil kunci mobil dan dompetnya
"Semoga kamu gak apa apa sayang"
Surya menuruni tangga, diihatnya Alenka sedang menonton televisi. Alenka pun melihat Surya turun dengan tergesa gesa, mendadak jadi curiga
"Mau kemana Ya? kenapa buru buru" tanya Alenka dengan tatapan penuh curiga
"Delima masuk Rumah Sakit aku harus kesana sekarang" Surya tampak cemas, mengingat tadi Boby mengabarkan kalau Delima tidak sadarkan diri dan mengeluarkan darah
"Aku ikut" Alenka berdiri menghampiri Surya, kemudian bergegas naik untuk mamakai baju ganti
Tangan Surya reflek memegang tangan Alenka "Gak usah, kamu disini saja mungkin aku tidak pulang!"
Setelah mengatakan itu, Surya lalu meninggalkan Alenka, sedangkan Alenka masih mematung menatap tidak percaya
"Sebegitu pentingkah dirinya untuk kamu" gumam Alenka lirih namun masih terdengar jelas di telinga Surya
"Sangat sangat dan sangat penting" jawab Surya dan seketika itu membuat Alenka tidak percaya, Alenka berpikir Surya sudah melupakan perasaannya kepada Delima, karena tiba tiba Surya bersikap manis dan mendadak membatalkan perceraiannya.
"Aku tidak mau berdebat lagi dengan kamu, gak perlu nungguin aku, aku tidak akan pulang" lanjut Surya lagi langsung berlari ke mobil menuju Rumah Sakit
.
.
__ADS_1
.
Sedangkan Mario ,dia tidak jauh berbeda dengan Surya. Mario yang baru saja pulang mengantarkan Cinta, tiba tiba juga dikabari oleh anah buahnya jika Delima mengalami pendarahan dan masuk Rumah Sakit
"Breng*ek kamu Kenzo!!!"
"Suami macam apa kamu yang tega ninggalin istrinya disaat kayak gini, baji**an kamu"
Mario dari tadi mengumpat, dia berkali kali menghubungi nomor Kenzo tetapi juga tidak aktip, berkali kali pula Mario menyuruh anak buahnya dan anak buah Kenzo untuk mencarinya, juga tidak menemukan hasil.
Akhirnya Mario mengirimkan pesan ke anak buah Kenzo untuk menunggu Kenzo di Apartemen dan mengabarkan tentang kondisi istrinya.
.
.
.
Dokter Tika keluar dari IGD, Dokter itu melihat ke sekeliling ruangan, namun tak mendapatkan apa yang dicarinya.
Dimas yang paham akan arah mata Dokter Tika lalu menghampirinya, dia juga butuh kabar tentang Delima
"Mana Kenzo Dim?" tanya Dokter Tika terlebih dahulu
"Lagi ada urusan keluar kota, lalu gimana dengan Delima Tik?"
Dokter Tika bingung antara harus menjelaskan semua ini dengan Dimas atau menunggu nanti sampai Kenzo datang
"Ikut aku!" ajak Dokter Tika
"Duduk Dim, biar aku jelaskan, tapi intinya saja"
Dimas mengangguk kemudian duduk, lalu pandangan mata Dimas tertuju pada Vano yang ikut masuk ke ruangan Dokter Tika
"Tuan Vano" Dokter Tika terkejut dengan kedatangan Vano yanga notabenya adalah anak dari pemilik rumah sakit ini
"Maaf Tuan, apa Anda ingin melihat kinerja saya dalam bekerja?" Tanya Dokter tanpa menyuruh Vano untuk duduk terlebih dahulu.
Vano menarik kursi didepannya, kemudian ikut duduk "Apa aku kelihatan sedang melakukan Sidak?"
Dokter Tika menggeleng
"Lalu mengapa Tuan Vano kesi-?"
"Aku ingin mengetahui bagaimana kondisi anak dan istriku" jawab Vano mantab tanpa ragu sedikitpun
Seketika mata Dokter Tika dan mata Dimas bertemu, mereka saling pandang dan saling geleng, Dokter Tika yang sudah menjadi Dokter di Rumah Sakit ini sejak lama mengetahui betul seluk beluk pemilik dan pewaris Rumah Sakit ini, bahkan tentang seorang Galvano yang statusnya adalah Dua
Sedangkan Dimas hanya diam saja, dirasa bukan saatnya untuk berdebat dengan makhluk aneh satu ini
Dokter Tika menatap Dimas seolah olah memberikan pertanyaan siapa sebenarnya Tuan si pemilik Rumah Sakit ini.
Dimas yang mengerti tatapan Dokter Tika kemudian mengangguk, dia begitu malas jika harus mendengar ocehan apalagi rayuan yang tak bermutu dari mulut manis si Duda Gila itu
"Baiklah...." ucap Dokter Tika menghela nafas, tapi dia menatap Dimas, setelah ini dia akan meinta penjelasannya
"Delima menga-....."
__ADS_1
Brakkk
Belum sempat Dokter Tika menjelaskan, terdengar suara seseorang dari luar membuka pintu dengan kasarnya
Mario dan Surya langsung masuk ke ruangan Dokter Tika, setelah mengetahui dimana Dokter yang menangani Delima kini berada.
Mereka berdua dengan tidak tau malunya langsung menarik kursi dan ikut duduk disamping Dokter Tika.
"Mam*us" Dimas menepuk jidadnya sendiri
Keempat laki laki tampan itu saling berpandangan, entah apa yang dipikirkan mereka saat ini, sedangkan Dokter Tika mencoba memandangi satu persatu laki laki yang ada didepannya.
"Apa Anda dan Anda juga ingin mengetahui bagaiman kondisi anak dan istri Anda?" tunjuk Dokter Tika kepada Mario dan Surya yang baru saja masuk
Sementara Dimas, dia hanya cengar cengir sendirian, disaat situasi seperti ini masih saja mereka saling merebutkan sesuatu yang tidak akan mungkin dimiliki.
Dokter Tika tersenyum, dengan menatap ketiga laki laki yang dari tadi hanya diam saja.
"Bagaimana kondisi Delima?" ketiga laki laki itu dengan kompaknya menanyakan hal sama, iya benar benar kompak, secara tegas dan tanpa ekspresi.
Lagi, lagi dan lagi Dimas dan Dokter Tika saling pandang dan menggeleng
"Gimana Dokter?" Bentak Vano yang sudah tidak sabar menunggu jawaban yang akan dilontarkan oleh sang Dokter
Dokter Tika membuang nafasnya kasar, dan langsung menatap keempat laki laki didepannya itu "Kondisi Delima saat ini belum stabil, tetapi untung saja pendarahan yang dialami bisa dihentikan, kalau tidak......"
"Kalau tidak apa?" teriak keempat laki laki itu yang kini sudah mulai menegang
Dokter Tika kaget mendengar suara khas laki laki yang kini mulai mencekam, Dimas yang tadinya hanay diam, kini juga mulai ikut berteriak
"Jika terlambat sedikit saja, maka bukan hanya nyawa kedua calon bayinya yang tak bisa diselamatkan, bahkan nyawa ibunya juga menjadi taruhannya"
Deg
Deg
Mendengar pernyataan dari Dokter Tika, membuat keempat laki laki yang entah ada hubungan apa dengan Delima menjadi sangat panik dan terlihat kesedihan diantara mereka.
"Lalu bagaimana kondisinya sekarang?" Tanya Mario yang mencoba untuk tenang
"Kondisi Delima belum stabil, tekanan darahnya sangat rendah"
"Lalu anaknya?" giliran Surya yang bertanya
"Alhamdulillah mereka masih bisa diselamatkan, walaupun aku sendiri tadi sudah pesimis untuk mereka bisa bertahan hidup, tetapi sungguh diluar dugaan Delima dan anak anaknya sangat kuat dan luar biasa"
Terdengar helaaan nafas lega dari mereka berempat. Wajah yang tadinya panik tanpa ekspresi dan tanpa senyum, kini berubah menjadi wajah yang ceria.
"Terimakasih Dok" ucap Vano
"Akan aku berikan bonus tambahan untuk Dokter beserta Tim nya, karena telah menyelamatkan orang yang sangat penting untuk hidupku"
"Permisi" Lalu Vano meninggalkan ruangan Dokter Tika dengan senyum yang terpancar di wajah tampannya, senyuman khas Duda yang baru saja diluncurkan, memabukkan tapi tidak dengan Delima
Si Duda Ganteng tapi Sableng, temennya mas Wiro 212
__ADS_1