Cerita Cinta Kita

Cerita Cinta Kita
Maaf


__ADS_3

Hari berganti dengan hari begitu juga dengan minggu yang cepat berlalu.


Pagi ini Delima ada jadwal kuliah ke kampus, namun tidak seperti minggu yang lalu, kini Delima sudah diperbolehkan untuk menyetir mobilnya sendiri. Entah apa karena kasihan sama Delima yang tiap hari merengek minta bawa mobil sendiri, atau karena pikiran Kenzo yang akhir akhir ini semakin kacau, sehingga dia membebaskan istrinya untuk melakukan apapun.


"Aneh" gumam Delima ketika dia berada dikantin karena sudah selesai jam kuliahnya tapi lagi males kemana mana, sedangkan Jeje, absen hari ini karena ada urusan


"Kenapa?" tanya Angga yang kebetulan melihat Delima duduk sendiri di kantin


"Gak apa apa" seperti biasa dan tidak berubah, jawaban atau ucapan yang keluar dari mulut Delima dari dulu semasa sekolah hingga sekarang menjadi anak kampus masih saja datar, jika itu dengan Angga.


"Gak baik, bumil menggerutu sendiri" cibir Angga


"Gue gak sendiri kan ada elu"


Angga tersenyum,.memang benar apa yang dikatakan Mahasiswa dikampusnya, pesona Delima tidak bisa dikalahkan, walaupun statusnya sudah menjadi istri orang, dan sekarang lagi hamil.


"Elu tambah cantik dan seksi Del" kata Angga merayu, walaupun dia tahu rayuannya tidak mempan untuk Delima, dan bahkan Delima tidak akan memilih dia hanya karena rayuan mautnya.


"Mata elu bu*ta atau gimana? atau sengaja nyindir gue?" Delima menjadi sensi jika ada yang mengatakan bahwa dirinya seksi, padahal udah jelas perubahan yang terjadi pada dirinya sangatlah besar.


"Gue sejuta rius Del"


Dan Delima hanya diam saja tanpa mau menanggapi sosok yang lebay didepannya ini


"Elu tau kagak, kalau wanita yang lagi hamil itu kelihatan seksi" kata Angga yang dari tadi memandang wajah Delima, ya sebuah anugerah bisa memandang pujaan hatinya dengan sangat dekat.


"Iya gue tau, itu karena mereka ingin menghibur wanita hamil itu supaya tidak setres, makanya dirayu dengan rayuan gombal mukidinnya, tapi itu tidak berlaku buat gue


"Pinter" Angga mengacak rambut Delima tetapi Delima menghindarinya


"Ihh....jangan pegang pegang napa?"


"Sorry sorry yank sengaja, gue ke kelas dulu, ati ati pulangnya, kalau ada apa apa panggil nama Angga tiga kali, sepuluh kali pun boleh"


Delima menggerakkan jari jempolnya ke arah Angga tanda setuju, biar tuh anak cepat berlalu.


Angga?? kalau ditanya perasaan dia ke Delima, jawabnya adalah masih masa, masih cinta, tetapi sekarang tidak mungkin bagi dia untuk mendapatkan Delima, masih bisa lebih dekat dan tidak dibenci Delima itu sudah bersyukur.


Delima melangkah ke parkiran, banyak pasang mata laki laki yang memandangnya, memang benar kata Angga, kalau pesona Delima tidak bisa dikalahkan oleh siapapun, mesti dirinya kini sedang berbadan tiga (karena kembar).


"Del....." panggil seseorang yang suara nya sangat Delima kenal.

__ADS_1


Delima enggan berbalik apalagi berhenti, malas saja meladeni laki laki yang beberapa waktu lalu dengan terang terangan menghinanya.


"Delima....tunggu" Suara itu semakin keras terdengar, dan mau tidak mau Delima menghentikan langkahnya tetapi tidak berbalik


Laki laki itu hanya menatap punggung Delima, karena Delima enggan berbalik "Maafkan aku Delima, maaf, aku sudah tau semuanya"


Delima diam, tidak berbicara apapun, toh juga gak ada yang harus dibicarakannya.


Melihat Delima yang diam saja, akhirnya Vano menghampiri Delima, dan posisi sekarang ada didepan Delima.


"Del...aku tau, mungkin kesalahanku sangat besar kepada kamu, tapi aku mohon maafkan aku Delima, aku baru tau kebenarannya kalau....."


"Cukup Mas Vano...." Delima masih berkata dengan sopam, meskipun dengan nada yang agak kasar.


"Del....aku minta maaf" dengan tangan Vano ingin memegang tangan Delima tapi segera ditepis oleh Delima


"Jangan kamu kotori tangan mu dengan tangan wanita murahan ini mas, wanita murahan ini gak pantas kau sentuh"


Vano terdiam, berusaha meminta maaf ke Delima itu bukan perkara gampang, seperti dia berusaha untuk melupakan mendiang istrinya.


"Aku minta maaf" Vano berualang kali mengucapkan kata maaf itu, meskipun dia tau besar kemungkinan jika Delima tidak memaafkannya.


"Minta maaf saja sama Tuhan" jawab Delima ketus


"Aku makhluk Tuhan, jadi jika kamu merasa bersalah padaku, kamu harus meminta maaf juga ma Tuhan" ucap Delima dan berlalu pergi meninggalkan Vano sendiri


Vano ingin mengejar Delima, "Del...tunggu", tetapi bahu Vano sudah ditepuk dulu oleh seseorang


"Jangan dikejar, percuma saja cuma buang tenaga"


Vano menoleh dan menepis tangan laki laki itu.


"Gue Satria, sahabat sekaligus saudara Delima, abang gue kawin ma dia" Satria mengulurkan tangannya untuk berkanalan dengan Vano


"Vano" balas Vano


"Gue tau , gue juga tau permasalahan elu dengan saudara gue, gue cuma nyaranin aja, gak usah di kejar, beri Delima waktu, karena tak mudah bagi dia untuk melupakan penghinaan yang kau ucapkan kemarin"


"Bertahun tahun gue sahabatan sama Delima, cuka elu yang menghina dia seperti itu, jadi jangan harap Delima bisa memaafkanmu dengan mudah"


"Tapi aku........"

__ADS_1


"Kalau elu memang sayang dan cinta ma dia, biarkan dia sendiri, dan jangan kau usik dia, apalagi dia sedang hamil, elu tau sendiri kan resikonya"


"Itu cuma saran dari gue Mas" Satria berlalu dengan menepuk pundak Vano, kemudian berlari menghampiri Delima.


"Del...tunggu" teriak Satria


Delima menoleh, dan tersenyum kemudian Satria menggandeng tangan Delima menuntunya untuk segera masuk ke mobil


"Cepet pulang! bentar lagi hujan" Satria membuka mobil Delima kemudian menghidupkan mesin mobilnya"


"Buruan!!" teriak Satria lagi ketika Delima masih terdiam


"Iya iya kayak emak gue aja deh elu teriak"


"Langsung pulang, jangan mampir, udah mau ujan" ucap Satria dengan mencubit pipi Delima yang tiap hari tambah kayak bakpau aja.


Vano masih memandang mobil Delima yang perlahan lahan keluar dar parkiran kampusnya. Untuk menjauhi Delima dengan rasa bersalah dan Delima belum memaafkan, itu rasanya tidak mungkin dia lakukan


"Aku harus ikutin Delima"


Vano melajukan mobilnya dengan sangat kencang, kali ini apapun caranya Delima harus memaafkannya.


Mobil Delima sampai Di Denzo butik.


"Hujan..."


"Ah rasanya andai aku tidak hamil, ingin sekali hujan hujanan" gumam Delima yang membayangkan dirinya berada di bawah air hujan.


Tok....tok....tok....


Delima menoleh, dan mendapati seseorang sedang berdiri di samping mobil Delima


"Del....please..aku ingin bicara, tolong dengerin aku" pinta Vano dengan tubuhnya yang sudah basah karena air hujan, walaupun belum begitu deras.


Delima turun dari mobil, melihat Vano bukannya iba malahan muak.


"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi"


"Sebaiknya Mas Vano pulang saja" lanjut Delima


"Aku gak mau....aku mau disini sampai kamu mau maafin aku" ucap Vano dengan tangannya berusaha memegang tangan Delima supaya tidak lepas, namun lagi lagi Delima menepisnya

__ADS_1


"Terserah"


__ADS_2