
Pagi sudah menunjukkan pukul 4, Delima yang terjaga tidurnya terbangun karena perutnya yang lapar..
"Kalian lapar? ayok bikin sarapan sayang.."
Delima melangkahkan kakinya keluar dari kamar untuk menuju ke dapur.
"Kok disitu sih?"
Delima melihat suaminya tidur di ruang televisi, Delima mendekati suaminya, melihat dengan jelas setiap inci wajah suaminya
"Ganteng" satu kata terucap dibibir Delima, ya tak dipungkiri setiap melihat wajah Kenzo, Delima selalu terpesona, bukan hanya kali ini ,bahkan sudah berkali kali memandang dan mengucapkan kata kata "ganteng" itu.
"Eh buat apa ganteng kalau pembohong"
Sesaat Delima teringat kesalahan yang dibuat suaminya, mungkin untuk beberapa orang menganggap Delima lebay, cuma gitu aja ngambek, eh tapi prinsip tetap prinsip.
Delima bergegas ke dapur, menyiapkan masakan dan secepatnya sarapan, sepertinya hari hari berikutnya Delima akan mengisinya dengan bangun sepagi mungkin terus berangkat, entah itu ngampus atau ke butik, ya pokoknya menghindar dari Kenzo
Sementara Delima memasak, Kenzo yang sebenarnya dari tadi sudah bangun, berpura pura untuk memejamkan matanya, dia ingin melihat apa yang dilakukan oleh istrinya.
"Sarapan dulu, laper"
Pagi ini Delima membuat nasi goreng seafood, makanan kesukaannya, dia juga mulai pagi ini membuat susu sendiri. Padahal biasanya Kenzo yang membuatkannya
Huek
Huek
Huek
"Tumben kok mual, biasanya kalau minum susu gak pernah mual deh"
Kenzo yang dari tadi pura pura tidur langsung bangun karena mendengar istrinya yang muntah muntah
"Itu karena bukan abang yang buat sayang"
Delima menoleh, mencoba untuk menghindar sari suaminya
"Please....biar abang yang membuatnya, paling tidak buat anak anak kita"
Kenzo langsung ke dapur, membuang susu yang tadi lalu membuatnya kembali
"Ini sayang baru bener"
Delima masih diam, gengsi juga untuk bilang makasih. Kenzo melirik istrinya dengan tersenyum, dia tau kalau Delima mau mengucapkan terima kasih tetapi gengsi
"Udah diminum, gak usah bilang terima kasih, ini udah kewajiban abang!"
Delima lalu mengambil gelas susu tadi kemudian melangkah ke kamar dan meninggalkan suaminya.
Kenzo yang melihat hanya geleng geleng kepala "Sabar...sabar..harus ekstra sabar...."
Kenzo lalu mengambil nasi goreng kemudian sarapan, dia tau istrinya masih marah, tapi dia juga tau kalau istrinya juga tidak akan meninggalkannya.
Delima keluar dari kamar dengan baju yang sudah rapi.
__ADS_1
"Mau kemana sayank?"
Tapi tak ada jawaban dari Delima. Wanita ini bener bener masih marah. Kenzo berdiri dan menghampiri istrinya, "Mau kemana?? kok sudah rapi??"
"Bukan urusan abang!!" jawab Delima acuh lalu berniat untuk segera keluar meninggalkan apartemennya. Tetapi baru sampai didepan pintu, suara Kenzo menghentikan langkahnya
"Del..sampai kapan kita seperti ini? kamu gak lihat ketulusan abang!"
Delima yang masih berdiri didepan pintu, tiba tiba menoleh ke arah suami "Tergantung dengan abang, mau berubah apa enggak"
Kemudian berlalu meninggalkan suaminya
**
Delima berada dibutik, karena kebetulan hari ini tidak ada jadwalnya kuliah.
Dan berita tentang Delima yang sudah mengetahui masa lalu suaminya sudah tersebar ditelinga sahabatnya bahkan telah sampai di telinga Trio Sableng
Seperti pagi ini, Vano yang dari kemarin sudah mengetahui kejadian itu pagi ini berniat untuk menemui Delima
"Beby..." sapa Vano yang sudah masuk ke dalam butik dan langsung duduk didepan Delima
Delima cuma melirik sekilas saja, setelah itu kembali menatap layar laptopnya
"Delima..." Vano mengulangi memanggil nama Delima, karena Vano tau Delima tidak suka di panggil Beby, apalagi kondisinya sekarang sedang tidak baik baik saja.
"Jalan jalan yuk" ajak Vano yang mencoba untuk menghibur hati Delima
Delima merasa jengah, sebenarnya Delima malas menanggapi ajakan si Duda ini.
Vano terdiam berusaha mengatur strategi karena wanita di depannya ini benar benar marah
"Del....aku?"
"Aku kenapa? bukannya mas juga sudah tau semuanya? bukannya Manda itu saudara Mas Vano? lalu apalagi?"
"Aku bisa jelasin Del, semuanya gak seperti yang kamu pikirkan!"
"Sama aja...kamu dan Bang Kenzo juga sama saja, sama sama mengelak, udah lah mas, mendingan mas Vano pergi aja dari sini" usir Delima
"Aku gak mau pergi jika kamu gak dengerin penjelasan aku dulu, aku menutupi semuanya ini karena aku gak mau memperparah kondisimu Del, aku tau keadaanmu sekarang itu bagaimana, aku paham"
"Ck....kondisi aku...kondisi aku, semua berkata seperti itu"
Vano diam saja, mendengarkan setiap kali Delima berucap, Vano juga merasa kasian sebenarnya, namun wanita yang didepannya ini seakan memang tidak mau dikasihani
"Mas Vano pergi, atau aku yang pergi!"
Delima sudah berdiri dan siap siap untuk meninggalkan butiknya, tetapi tangannya dipegang oleh Vano
"Biarkan aku saja yang pergi Del, dan sekali lagi aku minta maaf"
Delima memalingkan wajahnya, malas juga melihat wajah Vano yang ikut ikutan membohonginya.
***
__ADS_1
Surya melempar sebuah kertas tepat didepan Alenka
"Aku sudah menandatangi nya, giliran kamu sekarang"
Alenka mengambil kertas itu dan kemudian membaca isinya
"Kamu serius Ya, ingin kita bercerai?"
"Sudah aku katakan dari dulu bahwa cepat atau lambat kita akan bercerai"
"Ini bukan karena Delima yang lagi ada masalah dengan suaminya kan? atau kamu berniat untuk menikahinya setelah mereka resmi berpisah?"
Surya menghela nafas, malas sebenarnya menjelaskan semua ini.
"Alenka, dengerin aku!"
"Mau mereka lagi ada masalah atau tidak, kita tetap bercerai, sedari awal aku sudah memberitahukanmu"
"Dan untuk urusan aku akan menikahi Delima setelah mereka berpisah, itu akan aku lakukan, kalapun aku tidak bisa menikahinya, aku berjanji pada diriku sendiri, bagaimanapun caranya Delima harus mengandung anakku"
Alenka berdiri, dan menunjuk ke muka Surya
"Kamu sudah gila Surya!!"
Surya tertawa "iya memang aku sudah gila"
Alenka menghela nafas, walaupun berat dirinya harus bisa menerima keputusan ini, takdir yang harus dia jalani untuk berpisah dari Surya. Sudah berbagai macam cara untuk mempertahankan rumah tangganya, namun semua hanya sia sia.
"Oke baiklah Ya, aku akan tanda tangani surat ini"
Alenka mengambil ponsel dan membubuhkan tanda tangan disana
"Sudah...."
Surya mengambil kertas itu dan melihatnya, kemudian dia menarik tangan Alenka dan memeluknya
"Maaf...maafkan aku, cuma ini jalan yang terbaik untuk kita, terutama untuk kamu Alen"
Lalu Surya melepaskan pelukannya
"Aku akan mengurus semua, dan kamu tetaplah tinggal disini, karena rumah ini sudah aku berikan atas nama kamu"
"Bukankah rumah ini kamu persembahkan untuk Delima Ya?"
"Ya itu dulu, tapi sekarang sudah milikmu, aku akan membuatnya lagi untuk Delima nantinya"
Gila bener bener gila Surya, sampe segitunya
"Lalu kamu?"
"Aku akan tinggal diapartemen, dan terimakasih"
Surya meninggalkan Alenka dengan perasaan senang, tetapi tidak dengan Alenka
"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu"
__ADS_1