
Setelah keluar dari ruangan Dokter Tika, Vano memutuskan untuk segeea menemui Delima, ya walaupun Vano tau kalau Delima belum sadarkan diri.
Padahal juga kondisi Vano saat ini masih lemas, tetapi rasa itu terkalahkan hanya dengan melihat wajah cantik dan membuat begitu nyaman
"Cepet sembuh" Vano memandang wajah Delima dan mengecup kening Delima singkat, sedangkan Delima masih belum sadarkan diri.
Vano kemudian beralih ke perut Delima, mengusapnya pelan "Andai aku yang menjadi Ayahnya, betapa bahagianya aku saat ini dan kejadian ini gak mungkin akan terjadi"
"Aku akan benar benar menjaga kalian, dan tak akan pernah berpaling sedikitpun darimu beby"
Andai
Andai
Andai, ya Vano hanya berandai andai, untuk mewujudkan menjadi kenyataan itu tidaklah mudah, sekalipun Delima dan Kenzo akhirnya memilih untuk berpisah, belum tentu Delima mau menerimanya.
Vano mengambil tangan Delima dan menggengamnya, kemudian mengecupnyaa untuk beberapa saat, mungkin bagi yang melihatnya, mereka bagaikan sepasang suami istri, karena Vano begitu romantis .
Menggenggam tangan Delima, Vano merasakan kenyamanan tersendiri, rasa nyaman yang dia rasakan setelah dirinya menjabat sebagai seorang Duda, bahkan rasa nyaman ini berbeda dengan apa yang dia rasakan dengan mendiang istrinya dulu.
"Arghhh.....tetapi aku hanya bisa memandangmu, mungkinkah suatu saat aku bisa memilikimu??"
"Aku sanggup mencintaimu dengan segala kekuranganmu, tetapi aku gak sanggup untuk melupakanmu dengan segala kelebihanmu"
Saking nyamannya dan begitu khawatirnya, hingga Vano sendiri mengabaikan rasa sakitnya yang masih melanda.
Ceklek
Pintu kamar Delima terbuka, seorang Dokter tampan masuk dan menghampiri Vano
"Maaf Tuan Vano, waktunya Anda diperiksa dan minum obat!" ujar Dokter tampan itu yang memang bertugas untuk merawat Vano untuk beberapa hari ini
__ADS_1
"Dan maaf jika saya menyusul Anda kesini, karena tadi saya melihat Anda tidak ada diruangan, dan menurut suster yang berjaga, Anda berada di ruangan ini"
"Cepet periksa, disini saja" Titah Vano dengan mengulurkan tangannya karena dia tau Dokter itu akan mengecek tekanan darahnya.
Dokter tampan itu memeriksa Vano dengan teliti, dia tidak mau ada kesalahan fatal yang membuat sang pewaris Rumah Sakit ini menjadi murka.
"Masih pusing?" tanya Dokter itu yang memang tekanan darah Vano agak rendah
"Sedikit, tapi gak apa, dan aku tidak mau diinfus, awas saja kalau kamu sampai melakukannya, akan aku pecat dengan tidak hormat" ucap Vano dengan mengancam
Dokter tampan yang tadinya tersenyum kini menjadi sedikit takut dan menarik senyuman kembali, padahal memang niatnya selain memeriksa dan membawakan obat, Dokter tampan itu bahkan berniat untuk menginfus Vano kembali, apalagi semuanya sudah dipersiapkan
Vano melirik sesuatu yang dibawa oleh suster yang berdiri disamping Dokter itu "Kau!!"
Dokter tampan itu menggeleng "Tidak, tidak jadi Tuan" dan Dokter itu langsung menyuruh suster yang membawa infus tadi keluar.
Setelah memastikan Vano meminum obatnya, Dokter itu kemudian permisi untuk keluar ruangan, tetapi matanya tidak sengaja melirik dimana Delima kini sedang berbaring lemah
"Cantik"
"Mau ku colok itu matamu!"
"Dasar posesif, aku akan memeriksanya" ucap Dokter tampan itu dan segera dia ingin memegang tangan Delima
"Stop!! jangan kau sentuh dia!" teriak Vano
"Tenang Tuan, aku hanya memeriksanya"
"Dia sudah ada yang menangani , jadi kamu tidak usah memeriksanya"
"Ck...posesif sekali Anda Tuan, padahal dia bukan istri Anda" gumam Dokter tampan itu pelan namun masih terdengar di telinga Vano
__ADS_1
"Sembarangan!! dia istriku!" bentak Vano yang dari tadi mendengarkan gumaman Dokter Itu
"Cantik banget, tapi sayang mau sama orang sableng" sindir Dokter itu kemudian keluar dari ruangan Delima.
Setelah Dokter itu pergi, Vano memutuskan untuk menunggu Delima disofa saja, karena juga dia masih merasa pusing.
Ceklek
Ketiga laki laki tampan berbeda gaya itu masuk ke ruangan Delima, mereka melirik sekilas Vano, apalagi Surya, tatapan matanya serasa ingin menelan Vano hiduo hidup
"Kalian pulanglah, biar aku yang menjaga" ucap Mario dengan menyentuh kening Delima, memeriksanya takut takut kalau dia demam
"Kau aja yang pulang, aku masih mau disini, menunggu Delima sampai sadar" ucap Surya yang sedari tadi masih melihat ke arah Vano
Pandangan mata Mario tertuju pada Dimas "Kamu Dim??"
"Aku menunggu sampai Kenzo datang, aku tau akan ada perang dunia malam ini"
Dari sorot mata ketiga laki laki mengartikan beda, ucapannya itu tetap disini untuk menemani Delima hanya bohong belaka, karena ketiga laki laki itu juga menunggu Kenzo dan mereka mempunyai maksud lain dibalik itu semua.
Mario, Surya dan juga Dimas melirik ke arah sofa, dimana Vano berada. Vano yang sedari tadi memijit keningnya beralih menatap ketiga laki laki itu.
"Apa?? kalian akan menyuruhku pulang?"
"Sebaiknya kamu pulang! lebih sedikit yang berada disini lebih baik" ucap Mario dengan mendudukkan bo kongnya disofa berhadapan dengan Vano
Vano tersenyum kecut "Ini Rumah Sakitku, jadi kalian tidak bisa mengusir aku" jawab Vano dengn sombongnya
Mendengar ucapan Vano yang sedikit agak keras, membuat Surya dan Mario menjadi geram, sedangkan Dimas memilih cuek dan menikmati pertunjukkan yang langka ini.
Dimas melangkah menghampiri Delima yang belum juga sadar, tangannya terangkat untuk merapikan rambut Delima yang menutupi keningnya.
__ADS_1
"Cepat sadar Del..."
"Elu gak lihat ketiga laki laki gila itu saling beradu pandang, kayaknya mereka mu jambak jambakan deh Del, elu gak pengen lihat....momen langka Del..." ucap Dimas, sengaja dia tidak memelankan suaranya.