Cerita Cinta Kita

Cerita Cinta Kita
Pemandangan Lain


__ADS_3

"Aku pulang ya mas" ucap Delima setelah beberapa menit yang lalu Manda meninggalkan mereka berdua.


"No..beby temenin aku disini ya" jawab Vano santai sambil tersenyum dan menarik turunkan alisnya


"Ishhh...kayaknya otak kamu perlu diperiksa deh, seenak udelnya manggil gitu"


"Kalau ada yang denger ntar dikirain aku sugar beby mu beneran deh" lanjut Delima tidak terima


"Gak masalah kan...."


"Buatmu, tapi masalah untukku"


"Aku laper" Vano menatap Delima, sengaja biar wanita yang ada didepannya ini paham


Tanpa banyak berkata, Delima langsung mengambilkan makanan yang sudah disiapkan


"Silahkan makan Tuan Galvano!" Delima lalu memberikan sebuah piring yang berisi makanan itu ke tangan Vano, dan setelah itu Delima kembali duduk sambil memainkan ponselnya


Vano membulatkan matanya, rencananya supaya Delima menyuapinya gagal total, bahkan wanita itu sama sekali tak memperdulikannya


"Beby....." panggil Vano, tetapi yang dipanggil tidak menoleh sedikitpun


"Beby....." lagi lagi Vano memanggil Delima, kali ini agak dikeraskan, tetapi tetap sama, Delima masih saja tidak bereaksi


Vano sudah gemas dengan wanita cantik yang ada didepannya ini Hem...bisa bisanya dia mengacuhkanku, liat saja


"Beby, kau sengaja tidak mendengarkan panggilanku"


"Atau memang sengaja ingin mendapatkan ciuman yang manis dariku" ancam Vano


Entah mengapa Delima lebih fokus menatap ponsel nya dari pada mendengar ocehan Vano.


Merasa masih diacuhkan, Vano langsung mendekatkan wajahnya dengan Delima, sontak saja Delima menjadi terkejut karena hanya berjarak beberapa senti saja, dan deru nafas Vano pun sudah terdengar jelas


"Eh...eh....apa apaan" Delima reflek mendorong wajah Vano dengan telapak tangannya"


Vano sengaja menahan tangan Delima, hingga kedua mata mereka bertemu "Aku kan sudah memanggilmu tadi, tapi kau mengacuhkanku"


"Lalu kenapa wajah mu sedekat ini sih" jujur Delima salah tingkah lalu dengan sengaja membuang mukanya


"Aku sengaja mau cium kamu" Vano sengaja mendetkan wajahnya lagi


"Eh...mas mas jangan donk, oke...oke...mas tadi mau apa?"


"Mau minta disuapin, tapi kamu cuekin aku" mata Vano masih memandang wajah cantik Delima


"Aku suapin, tapi menyingkir dulu deh" Vano lalu merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.


"Kenapa, takut terpesona jika dekat denganku?"


Delima menggeleng "Bu- bukan tapi aku takut khilap, upss" Delima langsung menutup mulutnya dengan tangannya


Vano tersenyum senang "Khilap juga aku gak apa apa, aku ikhlas sayang"

__ADS_1


"Uh maunya....udah udah...cepat duduk, aku suapin, perasaan yang sakit bukan tangannya deh, kenapa manja banget, dasar Duda sableng" cibir Delima


"Diem beby....ibu hamil gak boleh mengumpat"


Delima langsung terdiam, kemudian dengan telaten menyuapi Vano,.


"Jangan Ge er dulu Tuan Galvano, aku nyuapin kamu karena rasa bersalah ku saja, tidak lebih"


"No problem beby"


"Stop memanggil aku itu! jijik tau"


"Tapi aku suka beby"


Delima meletakkan piring kosong yang isinya sudah habis tak tersisia, kemudian mengambil air putih dan juga obat untuk Duda Sableng nya itu.


"Em...mas...aku boleh tanya gak?"


"Satu pertanyaan satu ciuman" jawab Vano tanpa rasa bersalahnya


Delima cemberut, merasa hari ini begitu sial ditambah lagi dipermainkan oleh Duda sableng itu.


"Mau tanya apa? kalau aku bisa pasti aku jawab"


"Emm....suami mbak Manda siapa sih namanya? dan kenapa mereka berpisah?" Entah mengapa Delima dari tadi ingin menanyakan itu, gak tau tiba tiba dadanya terasa sangat sesak


"Kenapa?" bukannya menjawab, Vano malahan memberi pertanyaan


"Eh...maaf maaf kok aku jadi cerita gini ya!" lanjut Delima lagi


Vano mencubit hidung Delima "Kepo!! aku malahan seneng sih kamu bisa cerita cerita ke aku, apalagi bisa jadi teman tidurmu, uhh mau banget aku beb"


"Hemm...aku yang gak mau deh"


"Dan kalau mas boleh kasih saran, sebaiknya kamu gak usah terlalu mikirin orang lain, cukup pikirin diri kamu sendiri, dan bayi kamu beb, jangan terlalu kepo"


Maaf Del, hanya ini yang bisa aku lakukan, maaf aku gak bisa mengatakan yang sejujurnya, walaupun jika kamu berpisah, akulah orang pertama yang akan senang, tapi sebelum itu aku harus liat kamu hancur, aku gak sanggup untuk itu Del....


"Hello Mas....kok ngelamun sih, aku pulang ya mas?udah lama aku disini juga ,nanti kamu gak bisa istirahat lagi" sambil mengecek ponselnya, dan ternyata sudah rame di DenZo butik


"Nanti aja kenapa by?"


"Gak bisa mas, aku sudah ditungguin ma yang lainnya juga di butik"


"Kamu boleh pergi tapi ada syaratnya?" ucap Vano tersenyum sinis


"Huhb....begitu jahatnya seorang Galvano menahan wanita hamil disini" sindir Delima


"Gak masalah beby, aku jahat asalkan kamu tetap disini, gimana mau tau syaratnya?"


Delima mencoba berpikir "Apa??"


"Ini" Vano menunjuk bibirnya dengan jarinya

__ADS_1


Delima menggeleng, enak aja nyuruh nyium di bibir "No mas Vano"


"Yaudah ini aja"


Cup


Vano mengecup kening Delima "Aku sayang kamu Delima"


Delima langsung mendorong tubuh Vano "Sayang boleh tapi jangan cinta ya"


Vano menggeleng "Telat, sayangnya aku sudah cinta ma kamu, dari pertama aku melihatmu"


"Udah ah mas, aku pulang, dari pada tambah ngawur omongan kamu mas"


Delima langsung mengambik tas "Oh ya lupa, ada mbak Laura di butik, nitip salam kagak mas? masih jomblo loh, masih nungguin si Duda Sableng satu ini" kekeh Delima.


Delima memang sudah tau tentang masa lalu Laura dan Vano. Laura adalah pelanggan setia DenZo butik. Laura dan Delima pertama kali kenal ketika Laura berkunjung di butik Mami Delima, karena sama sama nyambung, akhirnya mereka berteman. Walau jarang sekali bertemu.


"Gimana mas? kok ngelamun sih? mau gak salamnya?" tanya Delima lagi


"Gak deh....aku maunya pemilik butiknya aja" jawab Vano dengan tersenyum sambil memandang wajah Delima yang cantik.


"Udah...udah, bye, jangan nangis loh sendirian"


Tanpa menunggu jawaban dari Vano, Delima melangkahkan kakinya, dan disaat mau membuka pintu...


"Delima....." panggil Vano


Delima menoleh "Apa lagi?"


"Hati hati, jaga anak kita" ucap Vano dengan tersenyum nakal


"Ngawur....halu aja terus" dengan mengepalkan tangannya dan mengarahkan ke muka Vano.


Vano tak tinggal diam, dia malahan memberikan kiss bye nya "Muahhhhhhhhhh"


Delima melotot "Dasar sinting!"


.


.


.


Mobil Delima meninggalkan parkiran rumah sakit, kemudian berniat untuk ke Restoran Casablanka sebelum kembali ke DenZo butik.


"Mobil Bang Ke, tumben tumbenan makan disini" gumam Delima yang sudah berada di parkiran di Restoran itu.


Delima masuk tetapi sebelumnya sudah disapa hangat oleh Pak Satpam dan beberapa pegawai yang berjaga, karena mereka paham betul dengan Delima, wanita cantik pelanggan setia Restoran Casblanka


Deg


Niat hati ingin duduk minum jus alpukat sambil nunggu pesenan selesai, tetapi bukannya jus yang didapat, namun pemandangan yang lain didepan mata.

__ADS_1


__ADS_2