
"Ayok kak turun, temenin aku maem es krim nya"
Delima menarik narik tangan Dimas persis seperti anak kecil yang sedang merajuk, ketika mereka sudah sampai di cafe yang khusus menyediakan berbagai macam es krim
"Iya...iya kakak turun"
Mereka berdua kini sudah berada di dalaam cafe, menanti pesanan Delima.
Tanpa menunggu lama, pesanan Delima sudah sampai di meja. Mata Delima melotot seketika ketika mendapatkan es krim coklat dengan taburan keju diatasnya, entah bagaimana rasaanya.
"Emm.....enak banget"
Belum sampai es krim yang didalam mulut Delima habis, Delima langsung menyendok es krim itu lagi dan memasukkan ke mulut nya
"Sumpah..enak banget ini kak" Delima berucap seperti itu, tapi matanya sudah berkaca kaca, sepertinya es krim ini adalah sebagai pelarian Delima saja.
"Pelan pelan Del!! gue tau elu marah dan kesel, tapi gak baik juga jika makanannya seperti itu"
Mendengar omongan Dimas, Delima akhirnya menghentikan makanannya. Jujur saja melampiaskan ke makanan adalah hal yang paling tepat daripada dirinya harus marah marah tidak jelas.
"Udah?" tanya Dimas yang melihat Delima sudah menghentikan makannya dan sudah terlihat kosong mangkuk es krimnya
Delima mengangguk sambil melihatkan isi didalam mangkok yang memang sudah kosong
"Mau nambah?"
"Emange boleh?"
"Tidak boleh....cukup segitu saja, itu tadi juga sudah banyak" jawab Dimas dengan cengengesan
"Hemm...sudah kuduga, jawabannya pasti seperti itu"
Dimas lalu mengacak rambut Delima gemas "Udah calon Mams yang cantik jangan ngambek, ntar cantik nya ilang"
"Ayok kakak antar pulang"
Delima pun mengangguk karena memang badannya sudah sangat lelah, dan lagi pula hari sudah semakin larut.
Delima kini sudah berada di mobil Dimas, seperti tadi, dia juga masih enggan untuk membuka mulutnya, hanya untuk mengobrol, tidak biasa biasanya Delima diam ketika didalam mobil, biasanya terus mengoceh kesana kemari.
"Del...kakak anter kemana?"
Delima masih diam, badannya disini namun pikirannya entah kemana.
"Del?" panggil Dimas lagi, namun lagi lagi yang disebut namanya tidak menjawab
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
"Delima Mahendra!!!" teriak Dimas karena sudah geram dari tadi dipanggil tidak menjawabnya
"Ishhh....kakak apa apaan, berisik!!!"
__ADS_1
Dimas menghela nafasnya kasar, sumpah kalau tidak istri bosnya akan dia lempar wanita cantik tapi menjengkelkan ini.
"Delima....kakak mau antar kamu kemana??"
"Ke apartemen aja kak" jawab Delima dengan matanya yang menatap lurus ke depan
"Gue kasih tau Jeje ya, untuk nemenin elu"
"Gak usah kak"
"Tapi elu sendirian di sana"
"Siapa bilang, aku udah nelpon mbok Nah untuk ke apartemen, malam ini kita mau bikin pizza"
"Yaudah kalau begitu"
"Kak...?" panggil Delima
"Apa?" menjawab tapi matanya fokus ke depan, karena jalanan agak rame sore ini
"Bang Ke kapan pulang?"
Mati aku!!! Gue harus jawab apa? sedangkan gue sendiri gak tau kapan tuh orang pulangnya, mana gak ngasih kabar lagi
"Kak???" panggil Delima lagi
"Emangnya pertanyaan aku susah ya kak, sampe sampe gak tau jawabannya?"
"Oh enggak kok Del, maaf kakak gak konek, lagi serius natap jalanan" alibi Dimas
"Doain aja semuanya lancar" lanjut Dimas lagi
Delima hanya mengangguk dan kembali menatap jalanan, gak tau apakah dia harus percaya dengan Dimas ataupun tidak, gak tau apakah suaminya itu benar bener pergi untuk urusan pekerjaan atau ada yang lainnya.
Delima mengambil ponselnya, kemudian mengetikkan sesuatu
"Cari Info soal suamiku" lalu mengirimkannya kepada seseorang.
Mobil Dimas sudah masuk diarea parkiran apartemen.
"Makasih ya kak, aku turun dulu"
Dimas mengangguk lalu dirinya ikut juga turun
"Kok kakak turun?"
"Gue cuma mau pastikan saja kalau elu sampai di apartemen dengan selamat dan sudah ada Mbok Nah didalam"
Delima mengangguk, percuma juga kalau dia ngeles, pasti ujung ujungnya salah juga.
"Delima..." panggil seseorang lalu memeluknya
Mario yang sudah dari tadi menunggu Delima, akhirnya melihat Delima dengan wajah yang kusut.
"Maaf kakak gak ada disaat kamu butuhkan"
__ADS_1
Delima melepaskan pelukan Mario "Santai aja kak, aku gak apa apa"
"Kakak kapan baliknya"
"Baru aja Del, selesai aku langsung kesini, maaf aku tidak tau kalau Kenzo gak bisa jemput kamu, kalau kakak tau, kakak akan batalkan urusan kakak, maaf"
"Kakak lucu, kalau tau begitu, aku juga gak akan nungguin dia kak, percuma saja ditungguin kalau orangnya juga gak dateng kan"
Mario kembali memeluk Delima, dia tau wanita didepannya ini tidak sedang baik baik saja, mencoba tegar tapi hatinya rapuh.
"Kak...sesak"
Mario tidak melepaskan pelukannya malahan tertawa "Kesempatan Del, mumpung gak ada yang punya"
Delima ikut terkekeh, sehari ini dia mendapatkan tiga pelukan dari trio sableng, yang entah mengapa juga rasanya nyaman, gak tau apa mungkin efek dari rasa kecewanya terhadap suaminya atau memang trio sableng itu betul betul pelukable banget.
"Kakak bawa apa?" Delima melirik sekilas yang ada ditangan Mario
"Bahan untuk buat pizza"
"Hah??? kok kakak tau kalau aku malam ini mau buat pizza?"
"Taulah!!!"
"Kakak bantuin mau?"
Delima menggeleng "No...aku mau masak ma Mbok Nah aja, jadi kak Rio dan Kak Dimas pulang sana"
Tanpa menunggu jawaban dari Mario dan juga Dimas, Delima langsung meninggalkan dua laki laki itu, dan tak lupa mengambil kantong plastik yang isinya bahan bahan untuk membuat pizza.
Delima menghentikan langkahnya ketika dia merasa kalau ada seseorang yang mengikutinya dari belakang, lalu menoleh
Terlihat Mario dan juga Dimas cengar cengir ketika melihat Delima dengan wajah panik dan juga tegangnya
"Ihhh....kenapa kalian ngikutin sih?? kan sudah aku usir"
"Cuma mau mastiin aja, kamu sampai diapartemen dengan selamat, dan disana sudah ada Mbok Nah"
"Terserah deh"
**
Sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun mata Delima belum juga bisa terpejam, entah banyak pikiran aneh aneh yang sedang dia pikirkan. Apalagi suaminya yang dari tadi pagi tidak memberikannya kabar sama sekali.
Ting
Ponsel Delima berbunyi, menandakan adanya pesan masuk
"Gak mungkin!!!" Delima menutup mulutnya, menggeleng, dan kemudian menangis sejadi jadinya
"Gak mungkin...." lagi lagi hanya kata kata itu yang terucap dari bibirnya.
Menangis, ini yang dilakukan Delima malam ini, dengan beruraian airmata, dia mengusap lembut perutnya yang memang sudah agak membuncit
"Kuat ya nak kalian, Mams akan berikan yang terbaik untuk kalian, kita akan berjuang sama sama, walau kemungkinan terburuknya tanpa seorang Papah disamping kalian"
__ADS_1
Delima kemudian memejamkan matanya, menarik selimutnya dan mencoba berdamai dengan keadaan. Berharap ini semua hanya mimpi, ketika bangun semuanya akan kembali normal.