
"Kamu kenapa?" tanya Kenzo yang melihat Delima sedari tadi hanya diam saja, setelah keluar dari restoran dan sampai sekarang sampai di rumah. Padahal ketika keluar dari rumah sakit masih ceria, tidak seperti itu.
"Hmmm...." Delima ragu ragu untuk mengatakan ini kepada suaminya, apalagi suaminya juga sedang ada sesuatu yang mau diucapkan
Mereka berdua kini sudah berada di halaman rumah. Tetapi untuk turun rasanya keduanya enggan
Sejak di lampu merah tadi, di mana Delima melihat sosok laki laki yang sudah hampir setahun lebih itu menghilang, perasaan Delima menjadi tidak tenang, seakan akan ada sesuatu yang akan terjadi ke depannya.
"Sayang...." Kenzo menggenggam tangan Delima dan menciumnya
"Ada apa?? jangan bohong ma abang? abang tau, ada sesuatu yang kamu sembunyikan"
Delima menggeleng lalu mengangguk "Tidak ada yang aku sembunyikan Bang, tetapi ada sesuatu yang aku ingin katakan"
"Katakanlah sayang, abang siap mendengarkan"
Cup
Satu kecupan manis mendarat di bibir Delima
"Aku tadi melihat Kak Surya"
"Surya??" tanya Kenzo memastikan
"Hummb, Kak Surya"
"Dimana yank? bukannya Surya di Jerman?"
"Pas lampu merah tadi yank, aku gak sengaja menoleh ke samping, dan pas di sebelah mobil kita adalah mobil Kak Surya"
"Awalanya aku juga ragu, itu mobil seperti mobil yang aku kenal, aku juga tak begitu yakin, hingga pengemudi mobil itu membuka kacanya dan melihat ke arah aku"
Apa bener dia Surya?? Apa bener di sudah kembali, ahhh satu masalah belum terselesaikan, kini dia muncul menambah masalah lagi.
"Apa dia selama ini menghubungimu sayang?"
"Tidak sayang, sama sekali tidak pernah"
"Ya sudah gak usah dipikirkan, kalau benar dia tadi Surya mungkin ada pekerjaan yang harus diselesaikan di sini, lagian dia juga tidak mengganggumu lagi kan"
Delima mengangguk, dan memikirkan ucapan suaminya, memang benar, Surya selama satu tahun lebih tidak menggangunya bahkan menghubunginya pun tidak
__ADS_1
"Keluar yuk! atau mau abang gendong nih!" ujar Kenzo
"Gak mau....nanti gak cuma gendong, tapi pasti aneh aneh setelah itu"
"Aneh aneh kan gak apa apa yank?"
"Iya gak apa apa tapi entar malam aja, aku mau nemuin anak anak, kangen...dan moga aja belum tidur mereka"
"Kenza....Kenzi..." Panggil Delima yang memang kebiasaan setiap dirinya datang selalu memanggil nama anak anaknya
"Kok sepi?" gumam Delima
"Shuttt....jangan keras keras, mungkin mereka sudah tidur" ucap Kenzo
Delima berjalan memasuki kamar si mbok pengasuhnya, dan memang terlihat di sana Kenzi dan Kenza sedang tidur dan juga si mboknya
Delima mendekat ke anak anaknya, dan mencium kening bayi yang baru berusia satu tahun itu.
Setelah di rasa cukup, Delima keluar dan diikuti oleh Kenzo
"Aku mandi dulu ya Bang"
Tanpa menunggu lama, kini Delima sudah berada di kamar mandi dan berendam, hingga dirinya merasa cukup puas.
Setengah jam Delima berendam, tidak membutuhkan waktu lama, wanita dengan dua orang anak itu menyudahi acara berendamnya.
Ceklek
Delima keluar dari kamar mandi, dan mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan kamar nya. Tetapi tidak mendapati suaminya didalam sana.
Delima melangkahkan kakinya ke balkon, dan benar suaminya sedang berdiri di sana.
"Sayang...." Tangan Delima sudah melingkar di perut Kenzo, Delima memeluk Kenzo dari belakang, lalu Kenzo mengusap lembut tangan Delima
"Abang kenapa?"
"Katanya mau cerita? atau abang mau nyembunyiin sesuatu dari aku lagi?"
Kenzo menghela nafas, bagaimanapun dirinya harus mengatakan ini kepada Delima, tidak ada alasan lagi agar Delima lebih berhati hati dengan laki laki yang bernama Vano itu.
"Sayang...kamu tau kan kalau istri Vano tidak bisa hamil lagi?"
__ADS_1
Delima mengangguk "Tau Bang, bahkan tadi Mbak Aira sendiri yang ceritain ke aku, disamping kabar dari Mas Vano"
"Emangnya kenapa yank?"
"Tadi pas abang ngopi bareng Vano, Vano meminta sesuatu ma abang"
Tangan Kenzo sudah terkepal,ketika mengingat kejadian tadi siang, dan raut wajahnya yang tadi manis, mendadak sekarang menjadi menakutkan
"Vano minta abang untuk pinjemin kamu ke dia"
"Gila....gila....gila...." Delima mendengar itu langsung mengumpat, ini tidak seberapa, bagaimana jika dirinya mendengar itu langsung dari mulut Vano.
"Bukan hanya itu saja, dia bahkan meminta kamu untuk melahirkan keturunannya, karena Aira sudah tidak mungkin lagi mengandung"
"Brengs*k" umpat Delima
"Dia pikir aku wanita apa an, dan apa dia tidak memikirkan perasaan istrinya?"
"Entahlah yank, hati nya bukan hati manusia lagi"
"Abang tidak mau kehilangan kamu yank" ucap Kenzo yang mendekati Delima lalu memeluknya, dia tau, bukan hanamya dirinya saja yang sakit hati atas ucapan Vano, tetapi Delima juga
"Sampai kapanpun abang tidak akan kehilangan aku, aku milik abang selamanya"
"Abang jangan mikirin ucapan Mas Vano, aku gak mungkin ngelakuin itu, aku gak mau sama sama gila dengan orang gila"
Kenzo terkekeh, melihat istrinya yang berekspresi marah tetapi masih menggemaskan
"Gimana si Vano gak jadi gila karena kamu yank, kamu aja nggemesin gini"
"Dan satu lagi yank, jangan kasih tau Aira, kondisinya belum stabil, padahal aku sendiri juga marah ma dia, karena dia suaminya jadi punya kehaluan yang di luar nalar"
"Parah nya yang abang khawatirkan, ketika mendengar itu Aira malahan akan mendukung rencana Vano, dan dia akan merayu kamu sampai kamu bener bener mau dengan rencana gilanya"
"Oh tidak akan, seorang Delima tidak akan tergoda, kecuali tergoda dengan suami aku yang ganteng nya kebangetan pake banget"
Kenzo lalu menarik dagu Delima, dia begitu gemas dan ingin melahap habis semua yang ada di dalam tubuh Delima. Delima pun memejamkan matanya, saat suaminya memiringkan bibirnya, dan.
Cup
Bibir Kenzo sudah mendarat sempurna di bibir Delima, dan lagi lagi adegan panaspun terjadi, di sore yang sebentar lagi berganti menjadi malam
__ADS_1