
Kenzo keluar dari kantin dengan mengepalkan tangannya. Rasa sakit bukan dari tangannya yang habis buat bogem Vano, tetapi lebih lebih ke hati nya. Bisa bisa laki laki mantan Duda itu mengatakan itu kepadanya, tanpa memikirkan gimana perasaan dirinya dan juga Delima, terlebih lebih istrinya.
"Shittttt"
Ingin sekali Kenzo merobek mulut laki laki yang dengan gamblang ny mengucapkan itu
"Pinjem Delima"
"Buat ngelahirin keturunku"
"Mau langsung atau tanam spe*ma juga boleh"
Kata kata itu masih terngiang ngiang di benak Kenzo,. Kenzo masih ingat betul setiap kata kata yang keluar dari mulut ba**ngan itu, benar benar dirinya tidak bercanda
"Gila....Brengs*k....Ba**ngan"
"Emang kamu pikir, istriku apa??"
Segala umpatan se kebon binatang dia lontarkan, bahkan beberapa orang yang berpapasan dengan nya bergidik ngeri melihat wajah Kenzo
Dan jangan di tanyakan lagi, gimana perasaannya sekarang, Kenzo pikir setelah Mario dan juga Vano menikah, dirinya sudah bisa bernafas lega karena tidak ada yang mengganggu lagi rumah tangganya, terutama mengganggu istrinya, tetapi Kenzo salah.....salah besar.
Ternyata menikah dengan orang yang tidak dicintai itu tidak bisa membuat melupakan seseorang yang dicintai. Bahkan meskipun orang yang dicintai itu sudah bahagia dengan orang lain, tetap saja hatinya tidak akan rela.
Apalagi Vano, dengan terang terangan Dokter sudah mengangkat rahim istrinya, dan itu berarti Vano tidak bisa memperoleh keturunan dari Aira, dari istri sah nya.
Dengan langkah kesal, Kenzo membuka ruang inap Aira, dan mencoba untuk menetralkan amarahnya, dia tidak ingin mereka melihat dirinya yang sedang emosi, atau mendengar seorang Vano yang begitu mudahnya menginginkan anak dari Delima, apalagi kondisi Aira yang masih belum stabil
Ceklek
Kenzo membuka pintu itu, dia datang sendiri, persetan dengan Vano yang entah kemana.
"Mams....kita pulang yuk, udah sore" ucap Kenzo yang mencoba bersikap biasa biasa saja dengan Delima dan Aira juga Tante Lina.
Delima melihat jam di tangannya "Oh sudah sore rupanya!"
"Baiklah sayang....sebentar"
Delima yang tadinya duduk si sofa menemani Vikkt belajar, akhirnya dia beranjak maju ke ranjang Aira untuk berpamitan. Mamah Lina juga masih setia menemani menantunya di samping ranjang itu.
"Mbak Ai, Tante...aku pamit dulu ya, sudah sore" ucap Delima lembut dan meraih tangan Mamah Lina.
Mamah Lina mengangguk, walau sebenarnya beliau masih menginginkan Delima untuk disini bersamanya, terutama bersama Vikky.
"Hati hati, kapan kapan bawa baby Z ke rumah ya Del, Mbak kangen" ucap Aira yang sedari tadi menatap Delima dan juga Mamah Lina.
__ADS_1
Delima tersenyum, sebenarnya dia tidak ingin mengiyakan ataupun menolak, sungguglh berat disituasi seperi ini.
Enak aja, aku gak akan biarin anak anak aku untuk kerumahmu, apalagi ketemu ma suami mu Vano, tidak akan aku biarkan, batin Kenzo menatap sinis ke Aira.
Entah mengapa Kenzo sekarang melihat Aira menjadi tidak suka dan menatapnya dengan kebencian, seolah olah Aira lah biang masalah dari semua ini, Aira lah yang menyebabkan Vano hingga mempunyai pemikiran picik seperti itu.
"Bang...pamitan dulu gih" perintah Delima kepada Kenzo, karena sedari tadi Kenzo hanya diam saja, tetapi tatapan matanya mengisyaratkan lain, ada sesuatu yang beda.
Kenzo melangkah mendekati Mamah Lina dan Aira
"Kenzo pulang ya Tante, Aira"
"Hati hati ya Ken, jagain Delima dan anak anak, mereka sudah Mamah anggap seperti anak dan cucu Mamah" ucap Mamah Lina
Kenzo hanya mengangguk, tanpa disuruh juga dia akan menjaga anak dan istrinya itu, karena mereka belahan jiwa dan hidup mati Kenzo.
Sementara Aira, menatap Kenzo dengan tatap yang sulit diartikan. Aira bisa menangkap kalau ada sesuatu yang terajadi antara Kenzo dan juga suaminya, ditambah lagi Vano yang tidak bareng dengan Kenzo
"Ayok sayang" Kenzo langsung menggandeng tangan Delima
"Tante..." Panggil Vikky
Delima menoleh, seakan akan ingin mengucapkan kata apa
Delima hanya mengangguk dan tersenyum, tidak begitu menanggapi omongan anak sebelas tahun itu.
Kenzo dan Delima keluar dari ruang inap Aira, dan ketika membuka pintu, Vano dengan tatapan penuh mendambanya menatap wajah Delima.
Delima tidak memperdulikan tatapan itu, toh nyatanya setelah Vano menikah, dia juga tidak pernah ganggu Delima lagi
"Aku pulang dulu Mas" ucap Delima, kemudian lewat begitu saja disamping Vano
Tanpa menjawab, Vano mengalihkan tatapan matanya itu ke Kenzo dan berbisik "Aku harap kamu mau berbagi istri dengan ku"
Mendengar ucapan Vano, tangan Kenzo seketika langsung terkepal, kalau saja dia tidak ingat dimana kini berada, sudah dari tadi Kenzo menghabisi laki laki itu.
"Jangan harap" ucap Kenzo lalu menggandeng tangam Delima dengan mesranya.
"Tadi Vikky ngomong apa yank?" tanya Kenzo di sela sela perjalanan menuju parkiran
"Oh itu....dia bilang kalau aku hamil lagi perempuan, mau dijadikan pacarnya"
"Kecil kecil sudah mesum pikirannya"
Delima terkekeh "Masih kecil yank, cuma bercanda"
__ADS_1
Delima melihat ke arah Kenzo, raut wajahnya tidak seperti yang dipancarkan saat pertama kali nya sampai di rumah sakit.
"Abang kenapa?"
Kenzo hanya diam, dia tidak tau harus bicara dari mana, dan juga bukan waktu dan tempat yang tepat untuk membicarakannya.
"Abang kenapa?" tanya Delima sekalai lagi, karena suaminya itu hanya diam saja tanpa menjawab sedikitpun
"Huff" Kenzo berulang kali menarik nafasnya kasar, mencoba menetralkan suasana hatinya.
"Gak kenapa kenapa sayang, masuk gih kita makan dulu ya, abang lapar"
Kenzo membukakan pintu untuk Delima, dan langsung dihadiahi satu kecupan di pipi Kenzo.
"Melayang abang yank....mendapatkan kecupan singkat ini"
Kemudian Kenzo mengitari mobil dan masuk ke dalam mobilnya "Siap sayang"
Delima mengangguk dan terseyum ke arah Kenzo
"Abang aneh, kayak nya ada sesuatu deh"
"Nanti abang ceritain kalau nyampe rumah, tentunya dengan imbalan donk"
"Satu kata, satu kecupan"
"Hmm modus"
Mobil Kenzo berjalan menembus batas kota Jakarta, suasana yang cukup ramai karena memang waktunya orang orang pulang kerja.
Mata Delima tengah asyik memandang ke arah luar, dan Kenzo tidak mempermasalahkan itu, karena memang sudah menjadi kebiasaan Delima dari dulu sebelum menikah, setelah menikah dan sampai sekarang.
Disaat lampu merah berhenti, tak sengaja mata Delima melihat ke samping ke sebuah mobil yang memang tidak asing lagi baginya.
Delima mulai mengingat ingat, kapan, dimana dan mobil siapa yang ada disebelahnya, sementara Kenzo masih menatap lurus ke depan, kalau kalau lampu sudah menyala hijau, dan dia harus bergegas melajukan mobilnya.
Delima masih memandang mobil mewah berwarna hitam itu, dan detik berikutnya, entah itu sebuah keberuntungan atau musibah bagi Delima, pengemudi mobil mewah itu membuka kaca nya
Deg....
Delima mengerjap ngerjapkan matanya, antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dengan cepat Delima membuka juga kaca mobil samping Delima untuk memastikan apa yang dilihatnya tidaklah salah
Mata Delima dan mata laki laki itu bertemu, hingga kemudian laki laki itu tersenyum dengan senyuman manis nya
"Dia.....???"
__ADS_1