
"Siang Tan..." Sapa Delima yang kemudian memeluk Mamah Lina, dan siang ini Delima ditemani oleh Kenzo, namun Kenzo masih di mobil karena menerima telpon dari seseorang
Mamah Lina sangat kaget melihat penampilan Delima. Dengan perut yang sudah membuncit namun masih terlihat seksi
"Delima kamu....?" Mamah Lina melongo melihat Delima, tampak gurat wajahnya yang terlihat kecewa, andai saja kemarin Mamah Lina tidak menganggap ucapan Delima hanya bercanda, beliau tidak mungkin seperti ini
Kecewa??pasti tentunya, gadis yang digadang gadang akan dijadikan menantu olehnya, ternyata malahan kini sedang berbadan dua.
"Atau mungkin yang dikatakan Vano benar, jika Delima selama ini adalah seorang wanita yang gak benar sampai dirinya hamil...." batin Mamah Lina.
Mamah Lina masih menatap Delima, dirinya masih tidak parcaya.
Delima yang melihat Mamah Lina menatap dirinya kemudian memegang tangan Mamah Lina "Maaf Tan, aku tau Tante pasti kecewa"
"Tapi memang aku seperti ini" lanjut Delima lagi.
Tanpa terasa Mamah Lina meneteskan air matanya, kemudian buru buru mengusapnya "Udah berapa bulan sayang?"
Delima tersenyum "Jalan tiga bulan tante" dan Mamah Lina pun mengangguk.
"Sayang kesini sendiri?" melihat perut Delima yang sudah buncit membuat Mamah Lina bertanya dengan siapa dia kesini
"Sama suami Tan, bentar lagi dia kesini, lagi diparkiran depan." jawab Delima dengan tersenyum lalu tatapan matanya memandang lagi Mamah Lina.
Ketika Delima ingin menghubungi suaminya, tiba tiba ponselnya berbunyi
"Bentar ya Tan, aku angkat dulu" dan Mamah Lina mengangguk tanda setuju.
"Hallo, maaf sayank, aku tidak bisa menemanimu, ada sesuatu yang penting dikantor" suara Kenzo diseberang telpon
Delima mematikan poselnya "Maaf Tan, suami aku tidak bisa bergabung"
Mamah Lina tersenyum, tapi senyumannya sangat sinis sekali, walaupun beliau bilang tidak apa apa, tetapi ada sesuatu yang membuat Mamah Lina jadi berpikir yang tidak tidak
"Del...Tante tau,.kamu bohongin tante kan, kamu pura pura hamil dan juga pura pura sudah nikah"
Deg
Delima kaget mendengar ucapan Mamah Lina barusan "Astaga Tante, kenapa bisa kepikiran seperti itu?"
"Delima....Delima, Tante juga pernah muda loh Del"
Delima menepuk jidadnya "apa hubungannya pernah muda dengan berbohong sih, dasar emak yang aneh"
"Tapi tante....aku bener sudah nikah loh, dan aku beneran hamil" Delima sudah tidak tau lagi gimana harus menjelaskan kepada Mamah Lina.
"Del....maafin Vano ya, kasian dia semalam mabuk karena mikirin kamu"
"Loh kok Tante sih yang minta maaf, bukannya Mas Vano sendiri"
"Aku minta maaf Delima" Vano tiba tiba datang dan langsung duduk didepan Delima, disamping Mamah Lina.
__ADS_1
"Kalau begitu Mamah tinggal ya Van, kamu selesaikan urusanmu pada calon mantu Mamah yang cantik ini" setelah mengucapkan itu pada Vano, Mamah Lina langsung pergi meniggalkan Vano dan Delima
Vano menatap Delima, ada rasa bahagia ketika menatap mata Delima. Delima yang merasa dari tadi diperhatikan langsung mengalihkan wajahnya
"Maaf kayaknya gak ada yang harus dibicarakan" Delima kemudian beranjak pergi namun tangannya dipegang oleh Vano
"Aku minta maaf, aku salah dan aku khilap kemarin"
"Segampang itu Anda meminta maaf, tanpa tau bagaimana perasaan orang yang telah Anda hina kemarin, jadi percuma saja jika Anda meminta maaf"
"Lagian Anda orang baik baik, jangan menemui wanita murahan"
"Del........"
"Sudahlah mas, aku capek,simpan saja kata maafmu itu, aku tidak butuh" ucap Delima kasar
"Oh ya satu lagi Tuan Galvano...jangan pernah menemui wanita murahan ini lagi"
Deg
Vano kaget, bagaimana bisa wanita yang dia cintai berkata seperti itu, hatinya sangat sakit.
"Del.....aku...."
Delima berdiri "Maaf aku harus pergi, permisi" lalu pergi meninggalkan Vano
"Itu tadi??."
Vano memperhatikan Delima, terutama bagian perutnya "Del kamu??"
"Iya aku hamil, sebaiknya Mas Vano gak usah ngejar aku" ketus Delima
"Aku akan tanggungjawab" Ajaib....bukan kecewa malahan Vano tersenyum dan mengatakan hal yang lucu
"Lucu..." Delima tertawa sinis, laki laki didepannya ini benar benar ajaib, setelah kemarin menghina hina, kini tiba tiba datang bagaikan malaikat penolong.
"Aku serius, aku akan tanggung jawab nikahin kamu, dan anak yang kamu kandung menjadi anakku"
"Mas Vano sadar akan apa yang mas ucapkan? apa aku tidak salah dengar, laki laki yang baik akan menikahi wanita murahan yang sedang hamil" Delima mencoba mengikuti permainan Vano, bukan permainan tapi pikiran Vano
"Karena aku sayang ma kamu, apapun yang kamu perbuat"
"Walau aku yakin, kamu sendiri juga tidak tau siapa bapaknya"
Deg
dan
PLAKK
Satu tamparan mendarat dipipi Vano, benar persis seperti apa yang dipikirkan Delima, kalau Vano berpikir bapak dari anak yang dia kandung adalah laki laki yang tidak bertanggung jawab, dan parahnya lagi, Vano menganggap bahwa Delima sudah tidur dengan banyak laki laki, sehingga untuk mengetahui siapa bapak bayi yang ada didalam kandungan Delima, Delima pun tak tau.
__ADS_1
"Andai begitu picik Tuan Galvano" Tanpa berkata banyak lagi, Delima langsung meninggalkan Vano begitu saja.
Lagi dan lagi, Vano melakukan kesalahan yang sama, niatnya ingin meminta maaf tapi nyatanya malahan menambah luka.
.
.
.
Sementara di kantor Mahendra, Dimas dikejutkan dengan sebuah email yang masuk atas nama Amanda.
Setelah menerima telpon dari Dimas, Kenzo segera menuju ke kantor Mahendra.
"Ken, gawat..." ucap Dimas ketika Kenzo sudah masuk ke ruangannya.
"Kenapa?" tanya Kenzo penasaran, karena melihat wajah Dimas yang sedikit tegang
Dimas kemudian menyerahkan laptopnya kepada Kenzo, lihat dan baca.
Kenzo lalu mengambil laptop itu kemudian membaca email yang dikirimkan oleh seseorang yang bernama Amanda
Deg
"Amanda,...Manda" lalu Kenzo melanjutkan membaca lagi apa yang dikirimkan oleh Manda.
Terlihat tegang dan juga cemas yang Kenzo rasakan saat ini, dan juga tidak percaya, apa benar itu Amanda yang dia kenal?
"Dim....." panggil Kenzo
Dimas mendekati Kenzo, dia tau sahabatnya kini sedang tidak baik baik saja.
"Manda masih hidup Ken"
Kenzo menggeleng "Tidak itu tidak mungkin....bukankah dulu..."
Dimas menjeda omongan Kenzo "Manda masih hidup, gue pernah beberapa waktu yang lalu melihat dia di restoran Casablanka, saat gue nemenin Delima makan siang"
Kenzo semakin kalut, pikiran kemana mana, entah bagaimana nasib rumah tangganya dengan Delima, jika Delima tau yang sebenarnya.
"Dim......Delima"
Dimas tau apa yang dipikirkan oleh sahabatnya sekarang "Elu harus selesain semuanya Ken, gue yakin Delima bisa ngerti" Dimas mencoba menenangkan Kenzo, meski hatinya juga masih ragu apakah Delima bisa menerima kenyataan ini.
"Gue takut Dim....gue gak mau kehilangan Delima" Kenzo tanpa sadar meneteskan air matanya.
Sedangkan Dimas, gak tau harus bagaimana, karena baru kali ini melihat sahabatnya itu meneteskan airmata.
"Hadapi semua ini, gue yakin akan ada jalan, lagian elu lihat sendiri Manda mengirimkan apa tadi" ucap Dimas
Kenzo menghela nafas "Atur pertemuanku dengan dia"
__ADS_1