
"Assalamuaikum....Bunda Vikky pulang"
"Walaikumsalam, dari mana sayang?" tanya Bunda basa basi, karena sesungguhnya Bunda sudah tau kegiatan Vikky di sore hari
"Biasa Bun, di depan, oh ya Bun, tadi Vikky bertemu dengan Om"
"Om?? Om siapa?" Bunda Aira nampak berpikir, Om siapa yang ditemuinya, sementara dirinya hanya seorang diri di kota ini.
Aira Natasya...wanita berumur 27tahun, masih muda tetapi sudah mempunyai sejuta pengalaman hidup yang kelam
Aira, hamil di usia yang masih mudah yaitu 17tahun, bukan karena di per**sa tetapi karena hubungan saling mencintai dengan seorang lelaki teman satu kelasnya dulu.
Namun sayang, keluarga Aira dan Keluarga Bagas tidak menyetujui hubungan mereka berdua, karena Aira dari kalangan keluarga yang biasa, sedangkan Bagas adalah Putra Tunggal pemilik Hotel terbesar di Bandung
Hingga Aira hamil, baik kaluarga Aira dan keluarga Bagas tidak menyetujui mereka, tetapi mereka tetap nekad , dan melakukan pernikahan tanpa restu dari orang tua. Dan memulai kehidupan barunya di Jakarta, tanpa sanak saudara tentunya.
Walau mereka hidup sederhana, Aira dan Bagas sangat bahagia, bahkan Bagas rela meninggalkan semua fasilitas mewahnya hanya demi Aira.
Namun kebahagiaan mereka tak berlangsung lama, Bagas mengalami kecelakaan dan meninggal dunia, saat usia kandungan Aira tujuh bulan.
Saat itu hati Aira hancur, dia tidak tau harus kemana lagi dan berbuat apa, bahkan orang tua Bagas yang melihat perut Aira sudah membesar juga tidak memperdulikannya
Setelah pemakaman Bagas, Aira memutuskan untuk kembali ke Jakarta, ke rumah kecil yang sudah di beli oleh Bagas, sebelum Bagas meninggal. Dan Aira mulai mencari pekerjaan di Toko Kue yang sekarang ini menjadi miliknya.
"Om? Om siapa sayang?"tanya Bunda Aira lagi
"Om ganteng, pemilik Rumah Sakit tapi dia bukan Dokter"
"Tapi aku lupa namanya Bunda, tapi Om itu baik padaku"
Aira mengacak rambut Putra Tunggalnya itu "Kebiasaan kamu sayang, selalu lupa namanya"
"Yaudah, sekarang Vikky mandi, bentar lagi magrib, sholat dan habis itu makan"
"Siap Bunda" jawab Vikky dengan berlari menaiki tangga menuju kamarnya
Sepuluh tahun sudah Aira membesarkan Vikky seorang diri, dan sepuluh tahun sudah Aira tidak bertemu dengan kedua orang tuanya dan kedua mertuanya.
Bahkan orang tua Aira sendiri sampai saat ini masih tidak mau memaafkannya, apalagi menemuinya, entah karena mereka kecewa atau gimana, hingga tidak menganggap Aira sebagai putrinya lagi.
Tetapi walau Aira sebagi single parent, tidak menyulitkan langkahnya untuk merawat dan mendidik Putra Tunggalnya itu, terbukti dengan Vikky yang sudah dewasa dengan umurnya yang masih sepuluh tahun.
Bagi Aira, Vikky adalah segalanya, dia bisa membesarkan dan merawat Vikky sendiri tanpa seorang suami
"Mas kamu bisa lihat kan, Vikky anakmu, anak kita, dia sekarang tumbuh menjadi sosok yang dewasa, dia sangat menyayangiku dan melindungiku, aku berjanji akan membesarkan dia dengan sekuat tenaga ku, dan mewujudkan cita cita nya, agar kamu bangga tentunya" gumam Aira dengan memandangi foto Bagas
...***...
"Kak, bisa kita bertemu?"
__ADS_1
Satu buah pesan masuk di ponsel Mario, dengan cepat Mario langsung membalas pesan dari Cinta
"Aku jemput, tunggu 10menit lagi" Mario membalas pesan dari Cinta
Tak menunggu lama, mobil Mario sudah sampai di depan Sekolah Cinta, karena kebetulan siang ini Mario sedang berada tak jauh dari Sekolahan Cinta
Mario melambaikan tangan, dan sedetik kemudian Cinta menghampirinya.
"Masuk, kita makan dulu" ucap Mario seolah dia tau apa yang ingin dikatakan oleh gadis labil itu.
Hening, tidak ada percakapan diantara mereka,
Cinta yang biasanya cerewet dan gak usil, kini mendadak menjadi pendiam.
Mario melirik ke arah Cinta "Kamu kenapa? sakit
gigi?"
Cinta menggeleng "Ada yang mau Cinta omongin Kak, tapi nanti aja"
Vano tidak merespon, pandangan matanya masih tetap lurus ke depan, karena jalanan siang ini sangat ramai, maklum pas waktunya makan siang
"Mau pesan apa?" tanya Mario
"Sama in aja ma Kakak" jawab Cinta singkat
Mario masih memperhatikan Cinta, dia rasa ada yang aneh dengan gadis itu, tidak biasa biasanya Cinta diam dan irit bicara, bahkan Cinta yang biasanya centil kini berubah menjadi cuek.
"Kakak sayang ma kamu" jawab Mario dengan cepat
Cinta tersenyum, kalau untuk pertanyaan itu Cinta sudah tau jawabannya,
"Kakak Cinta gak ma Cinta?" tanya Cinta lagi, kali ini lebih spesifik
Deg
Mario kaget, pertanyaan yang tidak pernah terlintas dibenaknya sama sekali, pertanyaan yang Mario sendiri tidak tau jawabannya
"Cinta aku....."
Mario tidak bisa mengucapkan lanjutan dari kalimat itu, jujur dia sayang ma Cinta, tetapi untuk cinta rasanya belum ada nama Cinta di hati Mario.
"Kakak sayang ma kamu, tapi kakak....."
Lagi lagi Mario menjeda kalimatnya, dia bingung dengan dirinya sendiri, jika dia jujur, dia takut akan menyakiti hati Cinta, tetapi jika dia tidak jujur, Cinta akan berharap besar padanya, sedangkan hatinya masih belum sepenuhnya bisa menerima Cinta
"Oke, Kak Cinta tau jawabannya, dan perasaan tidak bisa dipaksakan"
"Tapi Cinta juga gak bisa digantung seperti ini, Cinta butuh kepastian Kak"
__ADS_1
Mario terdiam, bukan dia ragu tetapi memang kenyataannya hatinya belum berlabuh ke Cinta, dia tidak mau menjalani percintaan yang hanya sepihak
"Maafkan aku Cinta"
Cinta menghela nafasnya, dengan berat hati dia harus mengatakan ini
"Kak.....minggu depan Cinta Ke Jogja dan kemungkinan terbesarnya Cinta akan di sana selamanya"
Cinta menjeda ucapannya, dengan berat hati dia harus mengatakan ini semua
"Dan Cinta akan dikawinkan dengan lelaki pilihan Nenek Cinta di sana"
Deg
Mario kaget mendengar ucapan dari Cinta, tidak biasa biasanya dia bicara seserius itu.
"Gak usah kaget Kak, jika kakak cinta ma Cinta dan serius dengan Cinta, kakak bisa datang lusa ke rumah Cinta, dan secara otomatis Cinta gak akan ke Jogja"
"Tapi jika tidak, Cinta cuma berharap semoga kakak bisa menemukan wanita yang lebih dari Cinta"
Mario menggenggam tangan Cinta, dan berusaha untuk lebih mengerti dan mengenal perasaannya ke gadis di depannya.
"Maaf"
Hanya kata itu yang terucap di bibir Mario, sementara Cinta langsung tersenyum karena mengerti dengan maksud dari ucapan Mario.
"Cinta boleh peluk kakak, untuk yang terakhir kalinya"
Tanpa menjawab, Mario langsung memeluk Cinta, dia sayang ma Cinta tetapi untuk mencintainya itu tidak bisa, hati Mario bukan untuk Cinta.
Cinta melepaskan pelukannya "Terimakasih"
"Aku pulang dulu ya Kak?"
"Kakak antar"
Cinta menggeleng "Gak usah, Cinta sudah pesen taxi, sudah menunggu di depan"
"Oh...hati hati"
Cinta mengangguk dan meninggalkan Mario, baru satu langkah Mario memanggilnya
"Cinta" panggil Mario
Langkah kaki Cinta terhenti, dan dia menoleh
"Semoga kamu bahagia, maafkan kakak" ucap Mario yang kini sudah berdiri di belakang Cinta
"Kakak juga, semoga kakak bisa menemukan seseorang yang pas di hati kakak"
__ADS_1
Kemudian Cinta tersenyum, dan meninggalkan Mario, langkah kakinya terasa berat harus meninggalkan seseorang yang beberapa bulan ini sudah mencuri hatinya, tetapi lagi dan lagi wanita itu butuh kepastian, bukan cuma perhatian saja. Dan Cinta butuh orang yang mencintainya, bukan hanya dia saja yang mencintainya.