Cerita Cinta Kita

Cerita Cinta Kita
Sedih


__ADS_3

Sudah tiga hari Delima berada di Rumah Sakit dan inilah saatnya yang ditunggu, pulang ke Apartemen dan menjalankan misi rahasia tanpa seorang pun yang tau.


Hari ini, bukan hanya suaminya saja yang menjemput Delima, terbukti banyak chat yang masuk semalam yang mangatakan ingin ikut menjemput Delima, bahkan laki laki itu dari pagi belum menampakkan batang hidungnya, entah ada urusan apa sampai mengacuhkan istrinya.


"Jangan sedih, tidak ada Kenzo bukan berarti kamu tidak bisa pulang" ucap Vano yang dari tadi pagi berada diruangan Delima


Memang benar Delima dari tadi mondar mandir tidak jelas, menunggu kedatangan suaminya, saatnya sudah diperbolehkan pulang malahan orangnya gak ada. Bukan masalah biaya Rumah Sakit, tanpa Kenzo juga Delima bisa mengurus administrasinya sendiri. Tetapi bukan itu, prosedur Rumah Sakit yang harus mendapat tanda tangan dari suaminya atau paling tidak orang yang bertanggungjawab atas dirinya


"Maksudnya apa? bukannya pihak Rumah Sakit menunggu suami aku?"


"Beby kamu lupa, siapa pemilik Rumah Sakit ini?"


Delima menggeleng "Aku belum pikun, dan aku tidak amnesia Tuan Galvano"


"Shutt....jangan panggil aku seperti itu, orang Rumah Sakit taunya kamu adalah istriku"


"Bener bener sableng kamu mas"


Delima duduk disofa, sudah satu jam dirinya menunggu suminya, tadi pagi pagi sekali pamit ke kantor, katanya ada urusan yang penting dan dia harus datang, tapi sekarang belum juga kembali, padahal Kenzo tau kalau hari ini istrinya sudah diperbolehkan pulang


Ceklek


Pintu Ruangan Delima dibuka


Delima berharap jika yang datang adalah suaminya, tetapi nyatanya bukan


Surya....


Surya masuk, melirik Vano sekilas, lalu menghampiri Delima


"Buat calon mamah yang semakin cantik" ucapnya dengan memberikan buket bunga mawar


"Makasih Kak, gak perlu repot bawain ini"


Surya lalu ikut duduk didepan Delima, memandangi wajah Delima yang terlihat semakin cantik, tambah cantik malahan dengan tubuh yang agak sedikit berisi.


Sedangkan Delima, yang sudah tau jika Surya memandangnya memilih acuh, untuk kali ini dan seterusnya, Delima memilih tidak beegitu memikirkan si Trio Sableng yang malahan semakin gencar memepetnya, yang penting mereka tau batas saja, dan batasannya hanya Delima yang tau


Delima mengambil ponselnya, kemudian menelpon suaminya, tetapi sama aja, ponsel suaminya tidak dapat dihubungi, hanya suara mbak mbak operator saja yang menyaut


"Abang kemana?" gumam Delima tetapi Surya dan Vano mendengarnya


Vano melihat jam dipergelangan tangannya, memang sudah cukup lama, Kenzo meninggalkan Delima, Vano tau karena setiap saat dirinya selalu memantau Delima dari ruang khususnya.


"Sudah saatnya, kamu juga harus istirahat!" ucap Vano


"Tunggu sebentar mas, aku nunggu suami aku"


"Tapi ini sudah lama Delima? Kamu bahkan sudah menunggunya sekitar satu jam lebih"


Vano kembali duduk, melihat wajah kekasih hatinya yang murung, tangannya juga terkepal,.bisa bisanya disaat seperti ini Kenzo malahan meninggalkannya


Vano kemudian meraih ponselnya, mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya kepada seseorang. Kemudian memasukkan lagi ke dalam sakunya. Lanjut memandangi wajah Delima yang sudah sangat kecewa. Dan berharap apa yang dikhawatirkan itu tidak terjadi

__ADS_1


Sama halnya dengan Surya, dia juga mengirimkan sebuah pesan untuk seseorang. Rasanya memang ada yang janggal dari sikap Kenzo yang mendadak tidak tepat waktu bahkan mungkin lupa untuk menjemput istrinya.


Ting


Ting


Ponsel Vano dan Surya berbunyi, menandakan ada pesan masuk diponselnya


Vano melototkan matanya begitu juga dengan Surya, mereka tidak habis pikir disaat seperti ini malahan meninggalkan Delima untuk terbang ke Jerman.


"Breng*ek" Surya geram sudah tidak tahan lagi rasanya menghadapi Kenzo


Mereka berdua lalu menatap Delima


"Pulang sekarang, aku anter!!" ucap Kedua laki laki itu bersamaan


Delima lagi lagi menggeleng, selain memang dia menunggu suaminya, rasanya juga tidak pantas jika dirinya pulang dengan laki laki lain, apalagi Delima tau kedua laki laki itu begitu sangat menginginkannya


"Gak usah nunggu Kenzo, dia gak akan datang!" ucap Vano dengan sedikit membentak


"Bang Ke pasti akan datang, dia gak mungkin ninggalin aku"


"Dia memang gak akan ninggalin kamu, tetapi kamu yang akan ninggalin dia" Surya berdiri dengan berteriak, rasa cintanya kepada Delima membuat dia sakit hati, bukan sakit hati karena penolakan Delima, tetapi sakit hati karena perbuatan Kenzo terhadap Delima


Satu jam


Dua jam


Aku harus kuat, aku tidak boleh lemah, ada anak anakku didalam, aku bisa aku bisa


"Apalagi yang kamu tunggu Delima?apa waktu 3 jam menunggu itu belum cukup!! mau sampai kapan?" ucap Vano


Delima terdiam, dia bingung harus bagaimana, jujur perasaannya kali ini sama seperti tiga hari yang lalu saat dirinya mendapati suaminya pergi bersama wanita lain, tetapi untuk kali ini Delima harus kuat.


Ceklek


Pintu kamaar Delima dibuka


Kali ini Delima memilih acuh, sudah dua kali dirinya kecewa, berharap suaminya yang datang tetapi malahan orang lain, dan kali ini pun sama


"Del, ayo kakak antar pulang" ucap Dimas yang menghampiri Delima


"Kakak sendirian?? Bang Ke mana?"


Pertanyaan Delima sontak mengagetkan Dimas, pasalnya yang Dimas ketahui, Kenzo sudah memberitahukan istrinya kalau ia pergi ke Jerman mendadak, tetapi nyatanya tidak


"Jawab Kak!" bentak Delima


"Maaf Del, Kenzo ada kepentingan mendadak dan harus menemui kliennya di Jerman"


Deg


Delima yang tadinya berdiri ketika melihat Dimas yang datang, akhirnya merosot dan kembali duduk.

__ADS_1


Air matanya mengalir membasahi kedua pipinya, Delima tidak tau apa yang menyebabkan Kenzo mendadak pergi tanpa mengirimkan pesan terlebih dahulu


Masih meneteskan airmata, Delima mencoba tenang , mencoba kuat tentunya buat anak anaknya.


Delima berdiri lagi lalu menghampiri Dimas, dan menatapnya, sebab hanya Dimaslah orang yang tau tentang semuanya ini


"Apa kliennya begitu pentingnya dibanding aku?"


"Apa Bang Ke tidak bisa berpamitan dulu ma aku, setidaknya mengirim pesan gitu?"


"Apa salahku Kak, hingga suami aku sendiri memperlakukan aku seperti ini!!"


"Jawab Kak Dim, jawab!!"


Vano yang tidak kuat melihat air mata Delima,.kemudian memeluknya, mencoba memberikan kehangatan dan menenangkannnya, dia tidak tega melihat wanita yang masih dicintainya ini rapuh, benar benar rapuh


"Apa salahku mas? Apa kurangku?"


Delima masih terisak dipelukan Vano, menangis sejadi jadinya, meluapkan kecewanya terhadap suaminya


Vano melepaskan pelukannya dan menatap Delima "Del menangislah sepuasnya...tetapi setelah ini berjanjilah tidak akan mengeluarkan air mata lagi"


"Dan berpikirlah positip, jika Kenzo memang sedang terburu buru, hingga tidak sempat mengabari kamu"


Pengecut, ya kata kata itu yang beberapa hari lalu sempat diucapkannya untuk Kenzo, tetapi kini malahan dirinya yang sebagai pengecut. Memang benar ucapan Kenzo, jika untuk saat ini Delima lebih baik tidak tau dulu, daripada harus melihatnya kembali terluka.


Vano sudah melihat jelas, begitu terpuruknya Delima saat ini, bahkan ini belum seberapa dari kenyataan yang harus dia dengar


"Jadi, Kenzo belum ngabarin elu Del?" tanya Dimas hati hati


Delima menggeleng, sambil menghapus air matanya, sudah cukup dia menangisi laki laki yang tidak memberikan kabar padanya.


"Astaga!!!"


"Kakak Dim, anter aku pulang ya?" pinta Delima yang kini sudah kembali menetralkan perasaannya


"Tentu Del, tapi gue urus dulu administrasinya" jawab Dimas


"Tidak perlu!! semua sudah beres" ucap Vano menghampiri Delima


Delima menatap Vano "Makasih ya Mas, akan aku ganti"


Vano menatap Delima dan memegang tangannya "Gantilah dengan senyumanmu" lalu mengecup kening Delima


"Aku pulang dan terimakasih"


"Kak Surya, aku pamit, makasih sudah nemenin aku seharian"


Surya mendekati Delima, dan tiba tiba memeluknya "Jangan sedih, ada aku, jika butuh apa apa hubungi aku" lalu melepaskan pelukannya dan mencium kening Delima.


"Aku pulang dulu, byee"


Perasaan Delima tidak tau, mungkin jika orang laian yang mengira, Delima seperti wanita murahan, mau maunya dipeluk sana peluk sini, cium sana cium sini. Tapi jujur dengan hadirnya Vano dan Surya tadi pagi hingga kini membuat perasaan Delima sedikit lega.

__ADS_1


__ADS_2