
Sesampainya dirumah Alessya, Ariyani ikut mengantarkan Alessya ke kamarnya dan berusaha menenangkannya. Setelah dipikir-pikir ini adalah pertama kali nya Ariyani ikut mengantarkan Alessya kerumahnya. Ariyani terheran-heran ketika melihat rumah yang begitu megah dan mewah.
"Syaa... kok papa loe bisa tenang-tenang aja?" tanya Ariyani masih merasa aneh setelah ia melihat respon papa Alessya di kantornya.
"Aku gatau... yang aku takutkan sekarang, bagaimana jika nanti orang-orang menganggap papaku sangat jahat padahal ini semua perbuatanku yang tidak terima ketika Adinda merebut Daffa," ucap Alessya terlihat sedih dan khawatir pada papanya.
"Yaudah deh syaa... loe percayain aja ke papa loe, lagian loe ngelakuin itu demi kebaikan seseorang juga kan... Lagian loe membuat ayah Adinda turun jabatan, emang karena dia nya aja yang gak bener dalam bekerja. Kita semua juga tau kalau ayahnya Dinda itu berbuat semena-mena dengan dosen-dosen yang lain. Pasti loe juga kan yang menjadikan Prof. Albert sebagai pengganti ayah Dinda selaku dekan kampus?" ucap Ariyani merasa Alessya tidak sepenuhnya bersalah.
"Iyaa sih, awalnya aku pikir itu akan baik-baik aja, tapi ternyata kayak begini," sahut Alessya menyesali perbuatannya
"Udah... yang sabar, coba kita sekarang cek apa benar beritanya sudah hilang dalam waktu 5 menit seperti yang tadi karyawan papa loe bilang," ucap Ariyani sambil memegang ponselnya dan memeriksa berita terbaru.
Ketika Alessya dan Ariyani mencoba memeriksa berita terbaru, ternyata apa yang dikatakan oleh karyawan papanya sangat benar. Dalam hitungan menit berita itu hilang dan tidak ada lagi video Adinda yang memberi pernyataan tentang keluarganya.
"Wahhh Daebak... bener-bener dalam hitungan menit. Dan lihat sekarang, udah gak ada lagi syaa berita itu. Loe bisa aman sekarang," ucap Ariyani merasa senang.
Namun perasaan Alessya masih tidak tenang karena semua teman-temannya pasti akan mengira jika hilangnya berita itu juga karena keluarganya yang telah menghapusnya dalam hitungan menit. Entah apa yang harus Alessya lakukan, perasaannya cemas dan khawatir.
"Yaudah... karena sekarang beritanya udah hilang, loe istirahat aja deh. Gue mau pulang, loe gak perlu lagi memikirkan yang aneh-aneh. Ingat !!! apa yang loe lakukan, tidak semuanya salah," Ariyani tersenyum menyemangati Alessya agar tidak lagi bersedih.
Alessya tersenyum melihat sahabatnya yang terus setia dan menyemangatinya, walaupun perasaannya sedikit tidak tenang namun ia senang karena memiliki sahabat yang tetap ada disaat dirinya berbuat salah.
**********
Malamnya ketika Alessya duduk di kursi belajarnya dan bersiap mengerjakan tugas kuliah, ia melihat ponselnya tengah ramai dengan notifikasi grup. Alessya melihat 500 lebih pesan grup belum ia buka. Karena merasa penasaran, ia pun membuka pesan grup di ponselnya. Alessya terkejut ketika grup kampusnya tengah membahas tentang dirinya dan keluarganya yang telah membuat bangkrut keluarga Adinda.
Ketakutan Alessya ternyata benar, menghapus berita tadi siang belum bisa menyelesaikan masalah. Alessya bingung harus berbuat apa, perasaannya cemas dan sangat takut. Kini namanya menjadi bahan bullyan di grup kampusnya. Sambil menggigit jari Alessya juga membuka grup kelasnya yang juga sangat ramai, namun berbeda dengan grup kampusnya yang berisi bullyan, justru grup kelas yang Alessya tempuh berisi dukungan dan suppor agar dirinya tetap yakin dan percaya jika apa yang ia lakukan itu semuanya benar.
Gilang:
Gue yakin yang namanya Alessya itu selain cantik dan dan kaya, dia gak bodoh dan dia gak akan mungkin melakukan hal tanpa ada alasannya. Semangat Alessya.... aku bersamamu ππ
Ariyani:
Jangan sedih... tetap semangat, aku percaya kamu gak salah. Aku sayang kamu ππ
Viona:
__ADS_1
Aku juga tau kamu baik banget sama kita semua, aku mendukungmu Alessyaπ
Prof Albert:
Jangan takut, jika spidol terbang tidak membuatmu takut padaku saat di kelas, mengapa kau harus takut pada orang yang hanya sebagai debu yang mengotori hidupmu. Yakinlah kita disini bersamamu π
Gilang:
uuu Prof Alber to tweeett
Ariyani:
Prof... saranghae π
Daffa:
Semangat mantan... aku akan membantumu besok π
Leo:
Daffa bacot
Ariyani:
Alessya berurai air mata merasa terharu ketika melihat pesan grup kelasnya yang memberinya semangat. Ia tidak menyangka jika masih banyak teman-temannya yang sangat menyayanginya.
Alessya kembali berusaha mengerjakan tugas kuliahnya yang belum sama sekali ia sentuh karena berita buruk yang menimpanya. Sambil meneteskan air mata Alessya mengerjakan tugas kampusnya yang lumayan sulit. Alessya berusaha tetap fokus dan membuka buku catatan yang berisi catatan penting yang ia tulis. Saat tengah membuka buku catatan, seketika pandangannya tertuju pada sebuah tulisan dan gambar yang sangat rapi yaitu tulisan Alex.
Hati Alessya terasa sakit ketika melihat tulisan Alex, melihat keadaannya saat ini yang mengalami kesulitan dan sedang menjadi bahan bullyan teman-temannya, ia sangat butuh sosok Alex yang sangat melindunginya. Namun yang terjadi saat ini, tidak ada sama sekali support dan semangat dari Alex untuk dirinya. Alessya menangis tak kuat menahan kesedihannya.
Bahkan pesan yang ia kirim sejak kemarin belum juga ada balasan dari Alex. Hal ini tentu saja membuat Alessya sangat sedih karena orang yang sangat ia cintai tidak bersamanya. Alessya berusaha untuk tidak terlalu memikirnya dan tetap fokus pada permasalahan yang akan ia hadapi besok pagi.
Tanpa Alessya sadari, waktu berjalan begitu cepat dan kini telah terdengar suara ayam yang berkokok di pagi hari. Alessya sama sekali tidak tidur, ia tetap duduk dan mengerjakan tugasnya sambil memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah yang akan ia hadapi di kampusnya.
Alessya berjalan ke kamar mandi dan membasuh mukanya yang sangat terlihat pucat dam sembab karena terus menangis. Alessya berganti pakaian dan bersiap pergi ke kampus walau dirinya sedikit merasa ragu. Ketika ia membuka pintu kamarnya, terlihat papa dan mamanya memberikan senyuman.
"Kamu gak usah takut, kamu akan baik-baik aja. Papa janji masalah ini akan cepat terselesaikan," ucap Jordhan mencium kening putrinya.
__ADS_1
"Terimakasih paa...dan maafkan Alessya yang membuat mama dan papa kesusahan," Alessya memeluk papanya dan menangis.
"Mama dan papa gak susah kok sayang... kamu tenang aja oke dan teruslah semangat," kecup Widhia menenangkan putrinya.
Bersama sopir pribadinya Alessya berangkat menuju kampus, hari ini berbeda dengan hari kemarin. Terlihat di belakang dan di depan mobil Alessya terdapat mobil hitam yang pastinya itu adalah Bodyguard suruhan papanya. Alessya merasa sangat risih karena pantauan mereka sangat dekat, dan dirinya tidak ingin jika pandangan mahasiswa lain terhadapnya semakin tidak baik. Alhasil Alessya meminta semua Bodyguardnya untuk mengawasi Alessya dari kejauhan.
Setibanya di kampus, Alessya turun dari mobil dan melihat mahasiswa-mahasiwa lain terus memandangnya dan membicarakannya.
"Heh berhenti loe," teriak suara wanita yang sangat lantang yang membuat Alessya terhenti.
"Kalian semua liat kan, kalau sifat Aslinya sangat jelas sekarang. Sifat jahat dan perebut kekayaan orang lain dengan melakukan berbagai cara sudah ia lakukan selama ini, dan sekarang Gue lah yang menjadi tumbalnya," ucap Adinda di dapan banyak mahasiswa lainnya.
"Wuuu cewek sialan, cewek biadap, muka oplas," seru masiswa lain
"Sekarang gue ingin kalian ketuk hati kalian, lihatlah orang yang jahat ini dan gue ingin kalian semua beri dia pelajaran yang bisa membuatnya sadar jika dia tidak pantas ada disini,"
"Ayooo kita habisi diaa," teriak para mahasiswa dan mahasiswi lainnya dengan melepar sebuah telur dan batu secara bersamaan.
Alessya menunduk dan berusaha menutupi wajahnya dari serangan telur dan batu-batu kecil lainnya, ia sangat takut dan gemetar. Badannya sakit dan bau amis mulai terasa.
"Tolong aku... please tolong aku," lirih suara Alessya menangis ketika telur-telur menetas di punggungnya.
Tiba-tiba Alessya mendengar suara gebukan dan pukulan benda-benda berat yang sangat jelas terdengar. Seruan dan teriakan mahasiswa lain sangat terdengar ketika menerima pukulan dari orang lain yang mungkin itu adalah Bodyguardnya. Dengan masih meringkuk dan menutup mata, Alessya menangis tak berani bangkit.
"Maafkan aku... aku terlambat," ucap seorang pria memeluk Alessya.
Suara itu terdengar sangat familliar di telinga Alessya, ia pun membuka mata dan melihat pria yang tak lain adalah Alex. Sambil menangis Alessya memeluk Alex dengan sangat erat dan ketakutan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continued....