Cinta Berawal Di Masa OSPEK

Cinta Berawal Di Masa OSPEK
Berfikir Positif


__ADS_3

Alessya terdiam di tengah kerumunan mahasiswa, kakinya lemas dan air matanya menetes.


"Apa yang yang telah aku lakukan? Apa aku salah memanggilmu," batin Alessya merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Alessya tidak tahu lagi harus bagaimana, Alessya hanya terdiam dan pasrah tubuhnya di dorong dan dihimpit mahasiswa lain yang ingin melihat nilai ujian. Tiba-tiba terdengar suara laki-laki berteriak sangat keras.


"Minggir Woy!!! Bisa minggir gak kalian!!" ucap Alex dengan mendorong sekuat tenaga kerumunan mahasiswa.


"Minggir minggir minggir woy, mau mati loe hah!" ycap David membantu Alex mendorong kerumunan mahasiswa.


"Permisi permisi, minggir dong... ada adek aku gak ditengah sedang tenggelam kayaknya," ucap Rikky juga membantu Alex mencari Alessya.


Semua mahasiswa menepi dan memberi jalan untuk Alex yang sedang marah. Berbeda dengan David, Alex sangat jarang mengeluarkan emosinya. Alex mencari Alessya dan ia menemukannya di tengah kerumunan.


"Syaa... kamu gapapa? kan aku sudah bilang, kalau mau liat nilai belakangan aja... atau kamu bisa panggil aku buat melihatkan nilaimu," ucap Alex sedikit marah pada Alessya.


"Kalau kayak gini bahaya syaa, kamu bisa diinjak kalau jatuh," lanjut Alex yang sangat khawatir.


"Kak...maaf Alessya selalu salah..." ucap Alessya menangis.


Melihat Alessya yang menangis Alex terkejut dan merasa heran, mungkinkah sikap Alex sudah keterlaluan?


"Hei jangan nangis... kenapa kamu menangis, kamu gak salah cuma jangan seperti ini lagi bahaya," ucap Alex mengusap air mata di pipi Alessya.


Alessya hanya menunduk dan menangis, ia tak lagi memikirkan nilainya. Alessya hanya memikirkan Daffa, mengapa Daffa tidak menghiraukannya ketika ia sangat butuh pertolongan.


"Yaudah sini, kamu bisa melihat urutan nilai kamu," Alex menari tangan Alessya kedepan mading.


Alessya masih menunduk dan menangis, ia sudah tidak tertarik lagi dengan nilai dimading karena baginya nilainya juga tidak akan bagus.


"Lihat nih syaa... aku bangga sama kamu, usahamu tidak sia-sia. Kamu masih mempertahankan posisimu," ucap Alex tersenyum melihat nama Alessya di mading.


"Aku diurutan pertama kak, aku gak salah liat kan kak? ini bener namaku kan kak?" ucap Alessya.


"Iyaa syaa ini namamu, selamat yaa," ucap Alex menunjuk nama Alessya.


"Daffa diposisi kedua, apa ini yang membuatnya muak melihatku? Apa benar yang diucapkan Ariyani kalau Daffa ingin diposisi pertama," batin Alessya mulai bingung dengan perubahan sikap Daffa.

__ADS_1


Alessya meninggalkan mading dengan masih tidak menyangka dengan nilai hasil ujiannya. Alessya tersenyum bahagia, namun pikirannya masih teringat oleh Daffa yang mengabaikannya. Alessya berjalan bersama Alex, David, Rikky dan Ariyani. Mereka masih membicarakan nilai mereka. Posisi Alex, David dan Rikky tidak banyak berubah. Alex tetap diposisi pertama sedangkan David dan Rikky hanya bertukar tempat di matkut tertentu.


"Enggak, aku masih belum boleh seneng kayak gini, karena besok masih ada ujian Prof Dio dengan matkulnya Desain Grafis," ucap Alessya mulai panik.


"Yaelah dek... ngapain juga kamu bingung, nih minta ajarin dia aja, dia ini pakarnya seni," sahut Rikky pada Alessya.


"Kak..." ucap Alessya dengan memelas dan memamerkan mata kucingnya


"Iyaaa deh iyaa... it's ok kalau emang mau belajar lagi ntar malam, tapi siang ini kamu harus tidur. Gak boleh mikirin apapun, aku gak mau nanti kamu kelelahan dan usaha aku mengajarimu jadi sia-sia," ucap Alex menasehati Alessya


"Siap kak," jawab Alessya tersenyum dan bersemangat.


Alessya langsung pulang kerumah dan ingin segera beristirahat. Kepala Alessya memang sedikit pusing karena memikirkan banyak hal termasuk Daffa, tapi ia bertekat tidak akan memikirkan yang aneh-aneh dulu sampai ujian selesai.


************


Sementara Daffa masih dikampus dan menemui Prof Albert diruang dosen. Hatinya sangat penasaran dengan hasil yang sebenarnya ia dapatkan. Daffa merasa jawabannya sudah benar dan ia sudah mengkoreksinya beberapa kali sebelum mengumpulkan tapi mengapa ia masih diposisi kedua. Daffa sangat bingung dan segera menemui Prof Albert.


"Permisi Prof, saya Daffa dari Prodi Fisika Murni," ucap Daffa memperkanalkan diri.


"Oh iya ada apa yaa... jarang sekali ada mahasiswa mau menemui saya," ucapnya memandang Daffa.


"Ehm sebentar saya ambilkan," jawab Prof Albert.


"Ini lembar jawaban, dan kesalahan kamu adalah perhitungan sangat jauh dari gambar kamu. Jika gambarmu sesempurna ini dan sedetail ini seharusnya perhitungan kamu juga lebih tinggi lagi tingkatnya. Jangan hanya karena rumus yang simple kamu menyesuaikan di gambar yang mewah. Itu tidak cocok tapi jawaban kamu benar, cuma cara kamu menyesuaikan dengan gambar saja yang kurang pas," ucap Prof Albert.


Seketika Daffa terdiam, ia tidak bisa lagi menyangkal ucapan dosennya karena memang hanya dari segi gambar saja yang bagus dari jawaban Daffa.


"Jika diperkenankan saya ingin melihat hasil teman saya Alessya Prof," sahut Daffa.


"Punya teman kamu ini simple, gambarnya simple dan perhitungannya cocok. Sesuai dengan gambar. Saya jadi teringat mahasiswa saya dulu kakak tingkat kamu sekarang, kamu tau Alex, dia dulu dari segi gambar jauh lebih bagus dari punya kamu dan dari segi perhitungan pun bisa ditingkatan S2," ucap Prof Albert.


"Kalau tidak salah kamu Daffa mahasiswa yang dari dulu terkenal dengan murid berprestasi kan? Apa yang kamu takutkan berada diposisi kedua, kamu tetap akan mendapatkan beasiswa itu walaupun kamu diposisi kedua. Tapi jika kamu ingin diposisi pertama belajarlah lebih rajin dan berusahalah lebih keras. Kamu bisa belajar dari teman kamu Alessya. Kamu tidak perlu takut jika menyangkut beasiswa, Alessya tidak akan mengambil posisi kamu dalam mendapatkan beasiswa itu. Jordhan sudah mengkonfirmasinya kepada Rektor jika putrinya tidak perlu menerima beasiswa dari Universitas. Siapa yang tidak tau Alessya, Alessya sangat terkenal dikalangan dosen. Selain cantik dan pintar dia juga kaya," ucap Prof menasehati Daffa.


Daffa mendapatkan banyak nasehat dari dosennya, dan ia disarankan untuk lebih dekat dengan Alessya. Daffa berjalan keluar ruang dosen dengan mengelengahkan nafasnya.


"Kenapa harus Alessya yang menjadi sainganku," batin Daffa merasa sangat terpuruk.

__ADS_1


Dari dulu Daffa sangat mudah bersaing dengan temannya namun saat ini merasa belum bisa menyaingi Alessya pacar sendiri. Keputusan Daffa sudah bulat, ia harus lebih keras dalam belajarnya dan masih ada waktu besok untuk mendapatkan posisi pertama. Daffa berjalan menuju perpus sambil membukan handphone nya, ia melihat pesan teks masuk dari Alessya.


Alessya :


"Kenapa tadi kamu mengabaikan aku? apa aku ada salah sampai kamu muak melihatku,"


Daffa menarik nafasnya dan membuangnya seolah-olah ia mendapatkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Namun Daffa segera membalasnya karena jika ia tidak membalas kemungkinan Alessya akan marah.


"Maaf, tadi aku harus keruang dosen. Tolong kamu jangan berfikir yang aneh-aneh, kita sedang ujian. Aku gak ingin ada pertengkaran diantara kita. Aku harap kamu bisa bersabar sampai ujian ini selesai" Send


Alessya :


"Terimakasih Daffa, karena dengan kata-katamu ini membuatku tidak perlu menghatirkan hal lain. Maaf jika aku selalu mengganggumu. Semangat💪💪"


Melihat balasan Alessya, Daffa langsung mematikan ponselnya ia ingin fokus dengan belajarnya di perpustakaan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Simak terus kisahnya, jangan lupa like dan komen. Semoga kalian menyukainya dan jangan pernah bosan😊

__ADS_1


Terinakasih atas dukungannya💖💖💖


__ADS_2