
Sesampainya di perpustakaan Alessya turun dari motor dan berjalan pelan, dengan hati yang sangat bahagia ia terus tersenyum, namun ia terkejut ketika tiba-tiba Daffa memeluknya dari belakang.
"Eh... kamu, ada apa? kenapa memelukku.." Tanya Alessya memegang tangan Daffa diperutnya.
"Aku takut kamu akan meninggalkanku" Daffa memeluk Alessya dengan hati yang gelisah.
"Kenapa aku harus meninggalkanmu... selagi kamu baik kepadaku, aku gak akan pergi dari kamu" Alessya tersenyum dan melihat Daffa yang semakin erat memeluknya
"Bener loh yaa..." Ucap Daffa yang tidak bisa mengungkapkan kegelisahan hatinya, ia sangat takut jika papa Alessya tidak menyukainya. Daffa melepaskan pelukannya dan mencium keningnya.
"Yaudah yuk masuk, ada yang mau aku sampaikan sama kamu di dalam" Ucap Alessya tersenyum dan menarik tangan Daffa untuk masuk ke perpustakaan.
Alessya dan Daffa masuk perpustakan dengan memilih tempat yang nyaman. Alessya mengeluarkan bukunya masih dengan senyum yang semringah, Daffa menatap Alessya dengan rasa penasaran.
"Kamu kenapa sih dari tadi senyum terus" Ucap Daffa merasa aneh
"Aku bakalan ikut (IPhO - International Physics Olympiad) Yeeyy kamu tau hadiahnya apa... kalau aku bisa menang, aku bisa ikut pelatihan dan belajar banyak ilmu di London University... emmp aku seneng banget" Ucap Alessya kegirangan dan sampai lupa jika perpustakan tempat yang harus tenang.
"Wao bagus dong, semoga kamu berhasil. Aku akan membantumu mempersiapkan materi yang harus kamu pelajari" Daffa sadar jika Alessya bukanlah tandingannya, ia percaya jika Alessya bisa memenangkan kejuaran itu karena ia sudah terkalahkan oleh Alessya.
Daffa mengeluarkan buku-buku nya yang sudah ia pelajari tingkat internasional agar Alessya mempelajarinya.
"Lihat ini, ini buku yang aku beli untuk aku pelajari. Kamu harus pelajari buku ini, disini isinya lengkap dan aku juga punya cd nya, besok akan aku berikan padamu" Ucap Daffa dengan tatapan sangat serius. Ia benar-benar ingin mendukung Alessya.
"Kamu punya buku ini dari mana? Aku sudah lama mencari buku ini tapi aku gak bisa membelinya" Tanya Alessya merasa heran.
"Ini buku kakakku, dia sedang belajar di New York saat ini. Dia memberikan buku ini padaku ketika aku mengikuti lomba kejuaraan international sebelumnya. Buku ini dia berikan padaku untuk aku pelajari ketika aku duduk di bangku perkuliahan" Daffa menceritakan masa lalunya ketika ia menang perlombaan dan mendapatkan buku itu sebagai hadiah dari kakaknya.
"Aku jadi gak enak mau pakai bukumu, ini kan pemberian kakakmu dan dia berharap kamu yang ikut IPhO ini" Ucap Alessya menggaruk belakang telinganya padahal ia tidak merasa gatal.
"Sudah gapapa... aku lebih tertarik mengikuti Klub Hoki Es. Lihat ini... aku udah resmi bergabung di Hoki Es" Ucap Daffa tersenyum mengeluarkan sebuah kontrak resmi.
__ADS_1
"Wahhh Daebak, kamu beneran mau ikut Klub Hoki, aku pikir kamu akan ikutan di karya seni Desain Grafis atau yang lain. Tapi kamu malah memilih ikutan Klub Hoki" Alessya merasa heran dan tidak menyangka Daffa akan bergabung dalam Klub Hoki.
"Dari aku sekolah aku sudah mengikuti lomba kejuaraan akademik nasional dan internasional, SMA aku udah ikut lomba Desain dan yang lainnya, sekarang aku ingin merasakan yang beda" Daffa tersenyum menatap Alessya yang terheran-heran, walaupun begitu ia sangat senang menatap Alessya sangat dekat dan ia melihat Alessya sangat cantik berada di depannya.
Alessya tersenyum dan merasa kagum pada Daffa yang berani mengambil keputusan yang ia inginkan dan melepas semua yang ia punya. Alessya membuka buku pemberian Daffa dan mulai mempelajarinya. Buku itu berbeda, tingkatannya yang sangat tinggi membuat dirinya terus menganalisis dengan sangat teliti, selain bahasanya yang menggunakan bahasa inggris, ia juga merasa ragu dengan jawaban yang telah ia susun.
Alessya melirik Daffa yang duduk di sebelahnya dengan menggambar tugas Desain Grafis dari Prof Dio. Alessya merasa ragu untuk meminta Daffa mengecek jawaban yang sudah ia jawab. Alessya kembali menganalis soal dan jawaban di bukunya.
"Sayaang...." Alessya memanggil Daffa dengan manja, sejujurnya ia merasa geli ketika harus memanggil Daffa dengan sebutan sayang karena ia tidak terbiasa.
Mendengar Alessya memanggilnya dengan sebutan sayang membuat Daffa menghentikan kegiatannya.
Daffa tersenyum ia teringat bahwa Alessya biasanya hanya akan memanggilnya sayang jika sedang melihat dirinya sedang bersama Adinda dan ketika Alessya ada maunya. Mungkin kali ini Alessya memiliki maksud tersendiri.
"Jawaban ku benar gak, kamu kan udah pelajari buku ini... seharusnya kamu udah tau jawabannya, dan mungkin kamu mau bantu aku dengan memberikan kunci buku ini" Ucap Alessya mencoba merayu Daffa dengan senyuman.
"Ohh tidak bisa... aku tidak akan memberikan kuncinya padamu, tapi kalau kamu bertanya padaku aku akan memberitahumu" Ucap Daffa tersenyum. Muka Alessya semakin masam dan kebiasaannya yaitu memanyunkan bibirnya membuatnya terlihat menggemaskan.
Hari yang sudah semakin malam membuat Daffa harus mengantarkan Alessya pulang. Seperti biasa Daffa tidak pernah memulangkan Alessya lebih dari jam 9 malam, ia tidak ingin membuat orang tuanya khawatir. Daffa pun segera mengantarkan Alessya pulang kerumahnya.
***********
Terik matahari sangat menyengat membuat kringat mengalir di tubuhnya. Sangat berbeda ketika ia berada di Arena Es tempat ia berlatih. Daffa teringat jika dirinya hari ini harus menemui papa Alessya di kafe, dengan perasaan ragu dan cemas, Daffa memberanikan dirinya menemui Jordhan papa Alessya.
Daffa melihat papa Alessya duduk dan sudah menunggunya.
"Maaf Om saya terlambat, barusan masih ada kuliah" Ucap Daffa duduk di depan Jordhan.
"Tidak apa-apa, aku disini hanya ingin membicarakan sesuatu dengan mu yang sangat penting. Apa kamu sudah lama mengenal Alessya" Tanya Jordhan pada Daffa
"Saya mengenal Alessya masih satu tahun Om" Jawab Daffa dengan memeras keduan tangannya karena merasa gugup
__ADS_1
"Alessya itu anak yang ceria, tapi dibalik itu ia memiliki hati yang rapuh. Kamu tau saya kan... dia adalah putriku satu-satunya, aku tidak akan membiarkan seseorang membuatnya menangis sedikit pun" Ucap Jordhan dengan mengambil cangkir kopi dimeja dan meminumnya.
Daffa hanya terdiam mendengar ucapan Jordhan, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jantungnya berdetak sangat cepat. Suasana kafe seketika sunyi tanpa suara pelanggan.
"Aku memang sering meninggalkan Alessya pergi dengan urusan bisnis, tapi aku tidak bisa membiarkannya sendiri. Jangan kau berfikir dia sendiri selama ini, cobalah untuk melihat sekelilingnya" Jordhan tersenyum dengan meletakkan cangkir yang ia pegang.
"Maaf Om sebelumnya, apa selama ini Alessya memiliki bodyguard" Ucap Daffa merasa aneh dengan ucapan Jordhan
"Kamu tidak perlu kaget, dan Alessya sudah mengetahuinya sejak lama. Orang-orangku tidak akan beraksi jika Alessya tidak merasa terancam. Aku hanya memperingatkan mu jika aku tau semuanya tentang Alessya, dan aku tau akhir-akhir ini Alessya sering menangis bahkan ia sempat terjatuh sakit. Jika kau masih ingin bersama Alessya, perbaiki sikapmu dan ingatlah aku tidak akan membiarkan orang lain membuatnya terluka" Jordhan mengakhiri pembicaraannya dengan Daffa dan pergi meninggalkan Daffa yang masih duduk di kafe.
Seketika hati Daffa mulai gelisah, kelakuannya yang selama ini membuat Alessya sedih dan bahkan menangis sudah diketahui oleh Jordhan. Kini Daffa tidak bisa berbuat semaunya, ia harus lebih berhati-hati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Simak terus kelanjutan kisahnya😊 jangan pernah bosan dan jangan lupa like, vote serta beri pendapat kalian tentang mereka.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya dan votenya💖💖