
Tidur di siang hari memang salah satu cara untuk memulihkan energi yang hilang. Tubuh kembali segar dan bersemangat untuk beraktifitas. Alessya mematikan jam weker yang berbunyi disampingnya. Alessya lupa jika ia memiliki janji untuk belajar bersama Alex sore ini. Alessya bangun dan bergegas mandi. Usai mandi Alessya memilih pakaian kaos putih dengan rambut diikat. Penampilan yang sederhana namun tetap terlihat cantik. Alessya keluar dari kamarnya dan turun kelantai bawah.
"Maa... aku pergi dulu mau belajar di perpus," ucap Alessya berjalan cepat menuju ruang tamu.
"Eh tunggu dulu, kok tumben keperpus sore begini. Sama siapa? Daffa?" tanya Widhia penasaran.
"Enggak maa, sama senior aku kak Alex. Dia pinter loh maa orangnya dan gak pelit," sahut Alessya tersenyum tidak ingin mamanya tahu jika dirinya dan Daffa saat ini tidak dalam keadaan baik.
"Bentar deh syaa... kamu mau keluar sama senior kamu dengan penampilan seperti ini," ucap Widhia merasa heran putrinya berpakaian sederhana.
"Kenapa emang maa... toh kata mama aku tetep kelihatan cantik dengan pakaian apapun. Kan aku mirip mama cantiknya," ucap Alessya tersenyum menatap mamanya.
"Kenapa gak sama Daffa aja? kan Daffa juga pintar," tanya Widhia masih merasa heran, mengapa putrinya tidak bersama Daffa. Senyum Alessya berubah menjadi muka datar dengan penuh kekesalan.
"Daffa gak mau maa belajar bareng sama aku, katanya sih itu buang-buang waktu dan gak akan ada yang namanya belajar bareng sama pacar, pasti ujungnya mesra-mesraan," ucap Alessya menunduk dan mulai sedih.
Melihat perubahan senyum putrinya yang pada awalnya tersenyum bersemangat dan kini berubah cemberut, Widhia mengerti jika putrinya saat ini mungkin lebih nyaman dengan orang lain. Widhia tidak ingin mencampuri urusan putrinya, karena baginya Alessya bisa memilih sesuai pilihan hatinya sendiri karena Alessya lah yang menjalani hubungan tersebut.
"Ooo jadi putri mama yang cantik ini mau keluar sama seniornya," Widhia tersenyum mengalihkan pembicaraan agar putrinya tidak kembali sedih.
"Bukan keluar maa... tapi belajar bareng," ucap Alessya tidak ingin mamanya salah paham.
"Kalau begitu berarti lelaki yang saat ini diluar rumah adah senior kamu dong," Widhia melirik kearah luar pintu agar Alessya memeriksanya ke luar.
Alessya terkejut mendengar ucapan mamanya. Alex sama sekali tidak mengabarinya jika akan menjemput. Alessya segera berlari keluar dan benar kata mamanya, Alex sedang menunggu Alessya di dalam mobilnya.
"Kak Alex kok gabilang kalau mau jemput..." ucap Alessya mengagetkan Alex.
"Udah... coba deh cek di Whatsap kamu," sahut Alex membuka pintu mobil dan keluar menemui Alessya.
"Eh iyaa ding, maaf tadi aku langsung mandi dan gak buka ponsel," ucap Alessya nyengir.
"Ayo masuk, dan awas hati-hati kepalamu," ucap Alex membuka pintu mobil dan melindungi kepala Alessya agar tidak terbentur atap mobil.
Alessya tersenyum melihat perlakuan Alex yang sangat baik pada Alessya. Alessya menatap Alex yang menyetir dengan serius. Baru pertama kalinya Alessya duduk bersebelahan dengan seorang cowok di mobil di bangku depan. Entah apa yang salah dari mata Alessya, Alex terlihat begitu manis dan keren.
"Apa ada sesuatu dimuka aku?" ucap Alex menyadari Alessya yang dari tadi memandanginya.
"Oh, nngg enggak kak gak ada apa-apa," sahut Alessya memalingkan mukanya karena malu ketahuan Alex.
"Trus kenapa dari tadi ngeliatin aku," tanya Alex penasaran dan menatap Alessya sangat dekat. Sementara Alessya kini menoleh dan bertatapan sangat dekat dengan Alex. Muka Alessya memerah dan malu.
__ADS_1
"ihhh kak Alex nyetir yang bener dong... nanti nabrak. Aku tuh masih mau nikah kak belum mau mati," ucap Alessya mengalihkan pembicaraan dan menatap kedepan.
Alex hanya tersenyum melihat Alessya yang salah tingkah dengan mukanya memerah. Alex mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai diperpus. Sesampainya diperpus Alex membukakan kembali pintu Alessya dan melindungi kepanya agar tidak terbentur. Lagi-lagi Alessya salah tingkah karena perlakuan Alex yang jarang Alessya dapatkan.
Alex memilih tempat duduk yang sirkulasi udaranya pas agar saat belajar tidak kepanasan. Alex dan Alessya memulai belajarnya. Alex mengajari Alessya dengan sangat sabar, seperti guru yang mengajari muridnya cara menggambar. Alessya memang tidak bisa menggambar dan itu membuat Alessya malas jika harus menggambar dan tidak mau berusaha untuk bisa menggambar, alhasil Alessya sama sekali tidak memiliki kemampuan menggambar. Tapi Alex dengan sabarnya membimbing Alessya mendesain bangunan dengan cara yang mudah dipahami oleh Alessya.
"Syaa... kalau kamu merasa kesulitan untuk menggambar gendung besar, cukup kamu bayangkan gubuk kecil dan kamu tuangkan dalam kertas," ucap Alex sambil menggambar gubuk kecil
"Ohh gubuk kecil yaa kak, sebentar aku coba," jawab Alessya mengerti ucapan Alex dan langsung menggambar.
Melihat Alessya yang mulai serius menggambar, Alex merasa lega akhirnya ia bisa mengatur imajinasi Alessya. 15 menit Alessya menggambar tanpa Alex lirik, akhirnya gubuk kecil Alessya selesai dan Alessya menunjukkannya pada Alex.
"Kak, gini kan? Ini gubuk kecil aku," ucap Alessya tersenyum menunjukkan gambarannya.
Alex menghentikan kegiatannya dan melihat hasil gambar Alessya. Alex kaget bukan main melihat gambar Alessya yang sangat jelek.
"Gilak... Gambar dasar aja jelek begini gimana mau Desan Grafis," batin Alex.
"Emmmp lumayan kok, sudah kelihatan gubuk kecilnya. Kelihatan banget kalau yang punya gubuk miskinnya gak nandingi sampek bobrok gini gubuknya," ucap Alex menahan tawa.
"Bilang aja jelek kali kak pakek embel-embel lumayan segala," ucap Alessya manyun menyadari jika gambarannya memang jelek.
Melihat Alessya yang manyun membuat Alex merasa kasihan. Alex menarik kursi Alessya lebih dekat dengan Alex, sontak Alessya terkejut karena takut jatuh. Mata Alessya melotot karena melihat Alex sangat dekat.
"Kamu posisikan dulu penggarisnya ditengah, beri titik lalu kamu pindah penggarisnya dan tarik kepinggir, nah kalau sudah berbentuk belah ketupat itu artinya kamu sedang mendesain dari arah depan," Alex menjelaskan pada Alessya.
Alessya merasa jantungnya berdebar dengan kencang dan tangannya basah karena keringat. Alessya merasa grogi dengan posisi dekat dengan Alex, tangannya yang masih digenggam oleh Alex dan dituntun menggambar membuat Alessya tidak bisa berkutik sedikit pun.
"Fokus yaa sya... kalau kamu besok bisa di urutan 5 besar, aku akan mengajakmu ke pulau dengan kawah putihnya bersama David dan Ariyani," ucap Alex masih dengan kefokusannya.
"Hah serius kak?" tanya Alessya sangat senang.
"Iyaa aku serius mangkanya fokus jangan grogi, liat nih kertasnya sampai basah gara-gara keringetmu," ucap Alex memandang Alessya.
"Hehehe maaf..." ucap Alessya tersenyum.
Alessya tidak gugup lagi didekat Alex, ia merasa bersemangat untuk berusaha lebih keras. Alessya sangat suka tantangan yang berhadiah. Alessya bertekat dirinya akan berusaha untuk masuk diurutan 5 besar. Alessya tidak menginginkan posisi pertama karena ia tahu kemampuannya tidak akan bisa menempati posisi itu. Alessya terus menggambar tanpa bimbingan Alex. Alex hanya bertugas mengawasi Alessya. Alex merasa bahwa Alessya mengalami kemajuan, gambarnya sudah mulai baik dari sebelumnya dan sekarang sudah seperti gambar perseptif pada umumnya walaupun belum sangat sempurna. Alex yakin bahwa Alessya memeliki potensi dan bisa melakukan apa yang ia tidak bisa.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, Alessya yang mulai menyukai menggambar sampai tidak melihat hari sudah mulai gelap dan Alessya baru menyadari jika Alex tertidur disebelahnya.
"Ssyyuutt kak, tidur yaa," bisik Alessya membangunkan Alex dengan sangat pelan.
__ADS_1
Alessya melihat Alex tertidur dengan pulas. Alessya menyadari satu hal jika Alex memiliki sisi manis dan romantis terhadapnya. Alessya memandang Alex dengan sesekali mencolek pipi Alex, namun Alex tidak bangun, mungkin karena Alex terlalu banyak mengeluarkan tenaga dan kesabaran saat mengajari Alessya. Alessya membiarkan Alex yang tidur, dan Alessya kembali melanjutkan kegiatannya.
Waktu sudah sangat malam, perpustakan sudah akan tutup. Alex terbangun karena ada seseorang yang mencoba membangunkannya untuk memberitahu jika perpus akan tutup dalam waktu 5 menit. Alex melihat Alessya yang disebelahnya sedang tidur tak kuat menahan kepalanya.
Alex tersenyum melihat Alessya yang juga tertidur disebelahnya. Alessya tetap terlihat cantik walau sedang tertidur, namun Alex tetap harus membangunkan Alessya karena perpustakaan akan tutup.
"Syaa.. bangun," ucap Alex dengan lembut karena takut Alessya kaget namun Alessya tidak kunjung bangun.
"Syaa... Alessya bangun..." Alex mencubit pipi Alessya hingga membuat bibir Alessya manyun kedepan.
Alex tertawa melihat muka Alessya yang lucu, tawa Alex membuat Alessya terbangun.
"Kok kak Alex ketawa?" ucap Alessya terbangun.
"Gapapa Ayo kita pulang sudah malam, aku barusan sudah liat gambar kamu sudah bagus. Aku yakin besok kamu bisa diurutan 5 besar," ucap Alex merapikan buku-buku Alessya.
"Serius kak, kakak gak bohong kan," sahut Alessya tersenyum girang.
"Iyaa... ayo kota pergi," ucap Alex berdiri dan mengajak Alessya pulang.
"Awas kesandung, kamu panggil dulu jiwanya biar gak jatuh," dengan sigap Alex menarik lengan Alessya yang hendak jatuh.
"ihhh apa'an sih, aku udah bangun kok udah sadar nih," ucap Alessya tersenyum.
Alex mengantarkan Alessya pulang dengan selamat. Alex hanya bisa mengantarkan Alessya sampai depan rumahnya saja karena Alex merasa belum punya hak untuk berkenalan dengan orang tua Alessya, apalagi status Alessya adalah pacar Daffa.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih Atas Dukungannya...๐
Simak terus kelanjutan kisahnya, jangan lupa like dan jangan pernah bosan๐