
Melihat Alessya yang terus menangis membuat hati Alex sakit. Alessya yang ia kenal dulu saat OSPEK hanya seorang gadis cantik yang sangat ceria, namun yang sekarang ia lihat disampingnya yaitu seorang gadis yang bersedih dan memikul beban perasaan yang begitu besar tanpa ia ketahui. Alex mengendarai mobilnya dengan sangat cepat dan berniat mengantarkan Alessya pulang.
"Kak, aku belum mau pulang," ucap Alessya yang menatap rumahnya dari dalam mobil
"Kalau kamu masih ingin menangis dan meratapi kesedihanmu mending kamu masuk deh syaa sekarang" Ucap Alex sedikit menahan emosi karena sudah tidak tahan melihat Alessya menangis terus.
Alessya menatap Alex dengan mata berkaca-kaca, ia tidak ingin pulang lebih awal karena takut jika papanya tahu dirinya dalam keadaan menangis dan Alessya tidak ingin papanya mempersulit orang yang telah membuatnya menangis.
"Oke aku akan membawamu ke tempat lain, tapi kamu harus janji tidak ada lagi air mata," ucap Alex menatap Alessya dan Alessya mengangguk menyanggupi permintaan Alex.
Alex membawa Alessya ke tempat biasa ia bermain basket dan futsal bersama teman-temannya. Ditempat itu Alessya bisa melihat orang-orang yang sedang bermain basket dengan santai, karena sudah malam jadi tempat itu tidak terlalu banyak orang.
Alex menatap Alessya yang duduk disampingnya, ia hanya memastikan jika Alessya menepati janji untuk tidak menangis dan ternyata benar adanya Alessya tidak menangis lagi.
"Kamu tau... kamu itu seperti lilin, lilin aroma terapi," ucap Alex menatap Alessya dan membuat Alessya menoleh.
"Kok bisa kak," tanya Alessya kebingungan mendengar Alex tiba-tiba berbicara lilin
"Lilin aroma itu walaupun mahal tapi ia punya fungsi yang sama, yaitu sama-sama menerangkan kegelapan. Plusnya lagi lilin itu wangi dan tahan lama hingga banyak orang menyukainya, namun ada juga seseorang yang enggan memilikinya dikarenakan harganya yang mahal hingga orang itu lebih memilih lilin murah tapi tidak bertahan lama," ucap Alex tersenyum menatap Alessya yang mengangkat sebelah alisnya karena masih belum paham dengan perkataan Alex.
"Kamu itu bisa diibaratkan seperti lilin aroma tadi syaa, semua orang tau kamu sangat mahal dan kamu kaya. Plusnya lagi kamu baik sama semua orang, kamu baik sama teman-teman kamu tanpa membeda-bedakan satu sama lain hingga semua teman-temanmu menyukaimu apa adanya bukan karena kamu mahal dan kaya, dan point yang terpenting kamu bisa membuat orang bahagia atas tindakanmu," ucap Alex menjelaskan pada Alessya.
"Emang siapa yang bahagia," tanya Alessya masih menatap Alex
"Ibunya Daffa, kamu rela melepas Daffa walau hatimu sangat berat karena sangat mencintainya. Mangkanya aku bilang kamu seperti lilin, yang juga rela terbakar untuk membuat orang bahagia," jawab Alex
"Tapi karena ibu Daffa lebih memilih Adinda sebagai menantunya, maka itu sama halnya orang yang lebih memilih lilin murah namun tidak bisa bertahan lama untuk kebahagiaannya. Kenapa aku bilang begitu, karena aku tau Daffa tidak menyukai Adinda, ia hanya mencintai kamu. Tapi terlepas dari semua itu... tindakan kamu sudah benar sih syaa... jadi please aku mohon jangan nangis lagi, bukannya apa... tapi sumpah kamu itu jellek banget kalau nangis," tawa Alex pecah ketika melihat muka Alessya yang tadinya tersenyum kini berubah 180° menjadi cemberut.
"ihhh... kak Alex ini masih sempatnya ngomentari muka aku kalau lagi nangis," Alessya memukul Alex dengan sangat keras, ia tak habis pikir melihat Alex yang masih menilai penampilannya saat menangis.
__ADS_1
"Hehe mangkanya jangan nangis lagi," Alex memegang tangan Alessya agar tidak memukulnya.
"Makasih kak, kamu sudah menghibur aku," ucap Alessya tersenyum.
"Apa sekarang mau pulang?" ucap Alex berdiri dan mengajak Alessya pulang. Alessya mengangguk dan berdiri mengikuti Alex. Alex pun mengantarkan Alessya pulang.
Sesampainya dirumah Alessya sudah tidak bersedih lagi, hatinya benar-benar sudah ikhlas melepaskan Daffa. Alessya tidak ingin merasakan sakit yang begitu lama. Di kamar Alessya mandi dan mengganti pakaiannya karena hari sudah semakin malam.
Ting (Bunyi Ponsel)
Saat Alessya ingin memejamkan matanya ia mendengar ponselnya berdering, Alessya melihat notif pesan masuk dari Daffa.
"Bisa keluar sebentar, ada yang ingin aku sampaikan" Daffa
Alessya melihat dari jendela kamarnya dan ternyata Daffa sudah ada di depan pintu gerbang rumahnya. Karena tidak ingin papanya tahu, Alessya segera turun dan bertemu Daffa untuk menyuruhnya pergi.
"Aku gak bisa putus sama kamu syaa...yang aku cinta hanya kamu bukan Adinda, apa kamu tidak bisa berjuang bersamaku dan sedikit bersabar mengahadapi semua masalah ini," Daffa memegang tangan Alessya berusaha meyakinkan Alessya.
"Please lepasin aku, sudah cukup aku bersabar. Dari awal orangtuamu sudah tidak menginginkan aku bersamamu Daff, bahkan ibu dan ayahmu memohon padaku, apakah aku masih harus memaksa dan melawan mereka. Enggak Daff... mereka orangtuamu, orang yang melahirkan dan membesarkanmu dan aku tidak memiliki hak merampasmu dari orangtuamu. Tolong hargai aku dan hargai mereka. Aku gabisa melanjutkan hubungan ini !!!" ucap Alessya tegas dan melepaskan tangannya dari genggaman Daffa, lagi-lagi air mata Alessya mengalir dipipinya.
"OKE kalau itu mau kamu, tapi apa kamu yakin kalau kamu memilih hubungan ini berakhir itu hanya semata-mata karena orang tua ku. Apa kamu yakin itu syaa... Tapi aku rasa kamu hanya membuat alasan, dan itu bukan karena masalah keluargaku melainkan karena kamu ingin bersama Alex. IYA KAN SYAA !!! KAMU SUKA KAN SAMA DIA !!!" ucap Daffa tiba-tiba membentak Alessya.
Plaakk (Alessya menampar Daffa)
"Cukup !!! kamu keterlaluan Daff," ucap Alessya menangis dan tidak menyangka Daffa menuduh Alex yang selama ini selalu membantunya.
"Lihat, kamu berani menamparku ketika aku memberi tahumu kebenaran. Aku tahu selama ini kamu sibuk dengannya, kamu sibuk belajar bersama dengannya padahal kamu punya pacar yang juga bisa kamu andalkan. Kamu berani berbohong dengan alasan pergi ke luar kota padahal kamu sedang bersamanya. Iya kan syaa... AKU TAU SEMUANYA DAN AKU TIDAK BODOH," ucap Daffa hendak meninggalkan Alessya karena kesal.
"Gak Daff... bukan seperti itu, kamu salah paham," ucap Alessya memegang tangan Daffa dan berusaha menahan Daffa namun Daffa menepis tangan Alessya dan meninggalkan Alessya tanpa mendengarkan penjelasan Alessya.
__ADS_1
Alessya menangis terdiam melihat kepergian Daffa, hatinya benar-benar sakit dan tak bisa berbuat apa-apa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Autor gak akan pernah bosan untuk mengingatkan kalian untuk tetap L I K E di setiap episodenya dan V O T E kisah ini agar autor lebih rajin update.
T E R I M A K A S I H A T A S
D U K U N G A N N Y A 💗💗💗
__ADS_1