
Alessya berlari meninggalkan Daffa di perpus bersama wanita itu. Entah mengapa ia merasa tidak senang melihat wanita lain begitu perhatian pada Daffa. Alessya berusaha menenangkan pikiran dan perasaannya dengan duduk ditaman.
"Apa'an sih lebay banget, luka kecil gitu aja udah diperban," batin Alessya menggerutu sambil langkahnya menuju taman.
Sementara itu Daffa masih diperpus bersama wanita yang telah ia tolong. Daffa terus memikirkan Alessya, ingin rasanya ia menyusul Alessya, namun wanita yang ia tolong masih belum selesai mengobati tangan Daffa.
"Maaf mbak, sebenernya lukaku tidak perlu di perban seperti ini," ucap Daffa dengan tangan kirinya ingin melepaskan perban yang di sudah di balut.
"Loh jangan dilepas mas, nanti terinfeksi bakteri," ucap Wanita itu melarang Daffa melepas perban.
"Terimakasih mas sudah mau menolong saya, oh iyaa kenalin nama saya Adinda mahasiswa Jurusan Kesehatan" lanjut Adinda memperkenalkan dirinya.
"Sama-sama mbak, saya Daffa. Saya juga terimakasih mbak sudah mengobati luka saya, tapi maaf mbak saya harus pergi," sahut Daffa bangkit dari duduknya dan beranjak pergi.
"Daffa... Pria itu tampan dan baik sekali," batin Adinda ingin sekali mengenalnya lebig dekat.
"Kalau jodoh pasti bertemu lagi," ucap Adinda tersenyum.
Daffa berlari mencari Alessya dengan ponsel yang terus menelfon kekasihnya itu, namun tidak ada jawaban dari Alessya. Daffa bingung harus mencarinya kemana.
Daffa menghubungi Ariyani namun Ariyani pun tidak tahu keberadaan Alessya. Daffa terus mencari Alessya disekitar kampus, dan akhirnya ia menemukan Alessya duduk ditaman yang rindang. Hatinya sangat lega telah menemukan wanita yang sangat dicintainya. Daffa pun berlari dan memeluk Alessya.
"Kamu kemana aja.. Kenapa langsung pergi," ucap Daffa memeluk Alessya.
"Ngapain kamu kesini, kenapa gak kamu lanjutin aja pengobatan privat mu bersama cewek itu," jawab Alessya kesal setelah melihatnya sangat baik dengan perempuan lain.
"Udah ah lepasin, gak usah peluk-peluk," Alessya duduk menjauh dan melepaskan pelukan Daffa.
"Sayang... maafin aku, aku salah. Jangan marah..," Daffa meraih tangan Alessya dan menggenggamnya.
Alessya diam tanpa sepatah kata. Dirinya terus menatap kebawah dan selalu melihat kakinya yang sedang mengayun-ayun diatas rumput. Alessya tidak mau mendengar perkataan Daffa, ia masih kesal melihat Daffa di sentuh orang lain.
__ADS_1
"Yaudah perbannya aku lepas biar kamu gak marah lagi, maaf yaa sayang..," Daffa membuka balutan perban dan membuangnya ketempat sampah.
Alessya melihat Daffa melepas perbannya merasa kasihan, dan ia segera memeluk Daffa. Alessya bersandar di dadanya yang bidang, ia tidak ingin kehilangan Daffa.
"Aku gak suka ngeliat kamu diperhatiin gitu sama cewek lain. Nolong sih nolong...tapi kamu harus hargai aku juga, seharusnya kamu tau perasaan aku gimana," ucap Alessya mengutarakan isi hatinya.
"Iyaa sayangku... aku gak akan gitu lagi, aku akan jaga jarak sama cewek lain, dan aku gak akan mau nerima perlakuan atau barang dari cewek lain selain kamu," Daffa mempererat pelukannya dan membelai rambut Alesssya.
"Jujur deh, cantikan mana aku sama cewek tadi," ucap Alessya melepas pelukan Daffa dan berpose ala-ala model.
Daffa ingin tertawa tapi ia berusaha menahannya, ia masih tidak menyangka cewek polos itu telah menjadi pacarnya. Melihat bibir Alessya yang sangat merah membuatnya harus menahan tawa.
"Perasaan tadi bibir Alessya tidak semerah ini," batin Daffa merasa aneh melihat bibir Alessya yang sangat merah.
"Ayow jawab... cantikan siapa aku dengan cewek tadi. Jawab jujur," ucap Alessya dengan memukul Daffa.
"Cantikan kamu sayang...tanpa harus kamu memakai lipstik setebal ini pun, kamu akan terlihat cantik. Dan orang lain sudah tau itu," Jawab Daffa dengan mengusap lipstik di bibir Alessya dengan ibu jarinya.
*Kejadian Sebelumnya di Taman*
Alessya sangat kesal melihat Daffa dan Adinda sangat dekat. Alessya duduk lalu mengeluarkan bedak di tasnya dan berkaca.
"Apasih... masih cantikan aku dari pada wanita itu," ucap Alessya mengomel dengan dirinya sendiri.
"Kurang apa sih aku, sampek Daffa mau disentuh dan pegang-pegang sama wanita itu," Alessya berbicara dengan dirinya sendiri dengan masih memegang kaca.
"Apa karena bibirku kurang merona" Alessya memakai lipstik dengan sangat tebal lalu memasukkannya kembali kedalam tas.
Dari kejauhan Alessya melihat Daffa berlari menghampiri dirinya. Alessya tahu bahwa Daffa pasti bisa menemukannya dimanapun ia berada. Alessya sangat senang melihat Daffa yang sangat khawatir dan berlari menghampiri dirinya.
*******
__ADS_1
"Yaudah, inget !! aku gak suka ngeliat kamu digoda cewek genit kayak tadi dan jangan sampai kamu memberikan nomer kontak kamu ke dia," ucap Alessya memperingati Daffa.
"Iyaa Alessya Jordhan...," Daffa kembali memeluk Alessya.
Daffa senang melihat Alessya cemburu, itu berarti Alessya sangat mencintainya dan tak mau kehilangan dirinya.
Alessya mengeluarkan plester Hansaplas dari dalam tasnya, ia selalu membawa plester dimanapun dan kapanpun. Alessya menempelkan plester itu pada tangan Daffa. Luka Daffa memang tidak terlalu besar dan Alessya tahu luka Daffa tidak perlu diperban.
"Luka kecil kayak gini kok diperban, kelihatan banget kalau motifnya untuk cari perhatian," ucap Alessya kesal.
Daffa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka jika rasa cemburu Alessya sangat awet untuk hilang.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih buat para pembaca yang bersedia memberikan waktunya dan memberikan like untuk cerita ini๐
nantikan terus kisahnya...Love you Guyss๐๐๐
__ADS_1